REPUBLIKA.CO.ID, Sudah 12 tahun, Ahmad Pasrin (55 tahun), menjadi juru masak bubur India di Masjid Djami’ Pekojan (MDP), Kota Semarang, Jawa Tengah. Bubur tersebut adalah sajian khas yang dibagikan takmir MDP kepada jamaah maupun warga setiap menjelang iftar selama Ramadan.
Selepas Dzuhur, Pasrin, bersama beberapa anggota takmir MDP, memulai proses pembuatan bubur India di area belakang MDP. Bahan baku bubur tersebut terdiri dari beras, santan, bawang merah dan putih, kayu manis, sereh, jahe, daun salam, daun pandan, serta garam. Seluruh bahan kemudian dimasukkan ke dalam sebuah periuk logam berukuran besar.
Periuk itu lantas diletakkan di atas sebuah tungku batu. Untuk proses memasak bubur India, pengurus MDP masih memanfaatkan kayu bakar. Dengan menggunakan sebuah lesung kayu, Ahmad Pasrin kemudian mengaduk seluruh bahan yang telah tercampur di dalam periuk hingga mengental.
Pasrin mengungkapkan, proses memasak bubur India memakan waktu sekitar 1,5 jam. Seluruh prosesnya dimulai selepas Zuhur dan tuntas menjelang Ashar. Menurut Pasrin, pada masa awal Ramadan, beras yang digunakan untuk membuat bubur India mencapai 20-an kilogram. Hal itu karena banyak jamaah dan warga yang datang untuk menikmati bubur tersebut. Sementara memasuki pertengahan Ramadan, bahan baku beras biasanya dikurangi menjadi 17-an kilogram.
“Kalau untuk yang buka (puasa) di sini (MDP) disiapkan sekitar 200-an porsi. Nanti ada orang yang datang untuk minta dan dibawa pulang, itu dikasih juga,” ungkap Pasrin ketika ditemui Republika di sela-sela kegiatannya membuat bubur India di MDP pada Jumat (6/3/2026).
Pasrin mengatakan, selayaknya bubur pada umumnya, bubur India memiliki karakter rasa gurih. “Namun perbedaannya, bubur ini memang beraroma rempah-rempah,” ujarnya.
Dia mengaku tak mengetahui detail soal siapa yang membuat resep bubur India. Pasrin mengungkapkan, resep beserta cara memasaknya telah diwariskan secara turun temurun. “Saya di sini sudah 12 tahun. Bumbunya dari dulu sudah begitu. Soal sudah berapa lama tradisi pembuatan bubur India ini, saya juga kurang tahu, saya hanya meneruskan saja,” ucap Pasrin.
Sementara itu Ketua Takmir MDP, Ali Baharun (66 tahun), mengungkapkan tradisi pembuatan bubur India selama Ramadhan telah berlangsung lebih dari satu abad. “Kalau tradisi bubur ini mungkin sudah 1,5 abad,” ungkapnya.
Terkait mengapa bubur yang disajikan di MDP populer disebut “bubur India”, Ali mengatakan sebenarnya penamaan atau istilah itu lahir dari peliputan media massa. “Itu sebutan dari para jurnalis saja. Karena sebenarnya buburnya kan seperti bubur lainnya. Hanya memang ada pengaruh dari Gujarat,” tuturnya.
Ali mengakui resep dan cara memasak bubur India memang telah diwariskan secara turun temurun. Dia menerangkan, bubur India biasanya disajikan dengan pendamping seperti sambal goreng ati, sambal goreng tempe, sayur jipang, atau gulai. Menurut Ali, sayur jipang menjadi pendamping yang difavoritkan.
“Untuk jamaah yang berbuka di masjid, kami sediakan juga kurma dan minumnya seperti kopi, teh, atau kopi susu,” katanya.
Dia mengungkapkan, bubur India mulai disajikan bakda Ashar. Berdasarkan pantauan Republika, selepas Ashar, sejumlah warga di sekitaran Kampung Pekojan memang mendatangi MDP untuk meminta bubur India. Mereka membawa wadah atau plastik agar bubur dapat langsung dibawa pulang. Pengurus masjid membagikan bubur di area belakang masjid, dekat lokasi memasak.
“Siapa saja yang datang dan minta bubur, kami layani. Dari mana pun yang datang, minta, kami kasih. Orang non-Muslim minta, kami kasih,” ujar Ali yang silsilah keluarganya berasal dari Arab Saudi.
Ali mengatakan, seluruh biaya untuk penyajian bubur India merupakan sumbangan donatur MDP. “Kami (pengurus MDP) hanya koordinator saja, dan bersama-sama kami kerjakan bersama,” ucapnya.

3 hours ago
3













































