Oleh: Hasan Basri Tanjung, Dosen Sekolah Pascasarjana UIKA Bogor
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sungguh, waktu sedemikian cepat berputar. Serasa, bulan Ramadhan baru saja tiba, rupanya dalam hitungan jari ia akan berlalu. Tentu saja, tahun depan ia akan kembali menyapa, namun boleh jadi kita tiada lagi untuk menyambutnya. Sementara, kesempatan bertemu bulan mulia ini pun belum maksimal digunakan untuk meningkatkan kualitas diri. Meskipun demikian, Ramadhan selalu berkesan bagi orang-orang yang merindukan. Lalu, adakah yang melekat di hati kita sebagai kenangan indah bersamanya tempat tumbuhnya rindu bersua lagi tahun depan?
Ramadhan adalah madrasah terbaik yang disediakan untuk orang-orang beriman agar mencapai derejat ketakwaan, kesyukuran dan kebenaran (QS. Al-Baqarah[2]: 183-186). Kenapa Ramadhan disebut madarasah terbaik? Sebab, seluruh komponen pendidikan dan latihan (diklat) yang terlibat di dalamnya adalah yang terbaik untuk membangun spritualitas (ruhaniyah), intelektualitas (‘ilmiyah), kolektifitas sosial (ijtima’iyah) dan invidualitas (jasadiyah). Setidaknya ada enam komponen terbaik dalam Madrasah Ramadhan ter4sebut yakni:
Pertama, Maha Guru Terbaik, yakni pembuat dasar dan konsep pendidikan adalah Allah SWT. Yanga Maha Baik dan model yang menjadi panutannya yakni Nabi Muhammad SAW., Sang Guru Terbaik yang terjaga dari dosa (ma’shum) dan terbaik perilakunya (QS. Al-Qalam[68]: 5). Allah SWT. yang memerintahkan hambanya yang beriman untuk shiyam di siang hari dan qiyam di malam hari, lalu Nbi SAW. yang menjadi contohnya (model) bagi umatnya. Siapa saja yang menjalankan dengan ikhlas dan sesuai tuntunan, maka Allah SWT. sendiri yang akan memberi ganjaran istimewa kepadanya (HR. Bukhari).
Kedua, Kurikulum Terbaik, yang konsep pendidikan yang langsung dirancang oleh Maha Guru Terbaik dan disusun sistemtis implementasinya oleh Sang Guru Terbaik dalam bentuk amal lisan, tindakan maupun perasaan (hati). Sejak waktu sahur hingga sahur kembali telah ditata kurikulum yang akan mendidik dan melatih peserta didiknya untuk meningkatkan kualitas hidup. Puasa di siang hari dengan meninggalkan segala yang membatalkan puasa dan pahala puasa, shalat lima waktu, rawatib dan nawafil, sedekah, tilawah, dzikir dan bekerja menjadi kurikulum terbaik yang hanya ditemukan di bulan ini.
Ketiga, Peserta Didik Terbaik yakni hamba-hamba pilihan yang telah tumbuh iman di dalam hatinya (QS. Al-Baqarah[2]: 183). Mereka adalah insan terbaik yang bukan hanya muslim, akan tetapi mukmin yang menjalankan rukun Islam yang lima dan menyakini rukun Iman yang enam. Oleh kerena peserta didiknya adalah orang-orang pilihan, maka mereka akan cepat dan mudah memahami kurikulum yang disajikan, sehingga akan memberi dampak besar dalam hidupnya setelah lulus Madrasah Ramadhan.
Keempat, Pengawas Tebaik yakni Malaikat Raqib dan ‘Atid yang selalu menjaga dan mengawasi setiap ucapan dan tindakan para peserta didik setiap saat. Sang Pengawas ini tidak pernah tidur dan mengantuk serta tidak punya kepentingan apapun, selain mencatat dengan baik untuk dilaporkan kepada Allah SWT. (QS. Al-Infithar[82]: 10-12). Oleh karena itu, seluruh peserta didik sangat berhati-hati dan tidak akan melanggar ketentuan yang sudah ditetapkan, sebab para pengawas dan penjamin mutu eksternal selalu siaga 24 jam. Selama mengikuti pendidikan, setiap peserta didik betul-betul menjaga lisan, pandangan, pendengaran, tindakan bahkan bisikan hati untuk memenuhi target yang diharapkan.
Kelima, Waktu Terbaik yakni mulai dari sahur sampai tenggelam matahari, walaupun berbeda disetiap daerah. Ada sebagian wilayah yang waktu siang lebih lama dan ada pula yang lebih pendek. Untuk kawasan khatulistiwa, rata-rata waktunya 12-14 jam. Waktu pelaksanaan pendidikan selama sebulan dalam kisaran 29 atau 30 hari. Masa waktu yang lebih dari cukup untuk mencetak pribadi yang baik. Berbagai hasil penelitian ditemukan bahwa hanya dibutuhkan jangka waktu kurang dari 30 hari untuk membiasakan dan membangun karakter seseorang. Oleh karenanya, selama sebulan adalah waktu terbaik untuk menanamkan dan menumbuhkan karkater seorang mukmin yang paripurna.
Keenam, Konsumsi Tebaik yakni makanan yang halal (halalan), bukan barang yang haram, dan berkualitas yakni bergizi tinggi (toyyiban) yang tidak menimbulkan penyakit atau merusak kesehatan. Selama mengikuti pendidikan tidak boleh sedikit pun mengkonsumsi makanan dan minuman haram dan syubhat, sebab akan merusak kualitas ibadah yang dilakukan. Oleh karena itu, apa yang dimakan dan diminum harus halal dan baik, serta menjauhi sifat berlebihan (QS. Al-A’raf [7]: 31) dan boros (QS. Al-Isra`: 26-27).
Lalu, setelah mengikuti diklat selama sebulan di madrasah terbaik, dapatkan para alumni menjaga dan mengimplemetasikannya dalam hidup keseharian? Jika mereka hanya mampu memenuhi kurikulum selama Ramadhan, maka disebut Hamba Ramadhan (ramadhaniyyun). Artinya, mereka hanya menjadi orang taat selama di Madrasah Ramadhan dan setelahnya kembali kepada kebiasaan buruk semula. Namun, jika mereka tetap konsisten menjaga seluruh atau sebagiannya, maka mereka telah menjadi hamba Allah (rabbaniyyun). Ahli hikmah memberi petuah yang menghujam, “Kun rabbaniyyan wa la takun ramadhaniyyan” (jadilah kalian hamba-hamba Allah dan janganlah menjadi hamba-hamba Ramadhan).
Konsistensi (istiqomah) inilah yang melahirkan kesan mendalam dan tak terlupakan, sehingga kurikulum Ramadhan tetap dijalankan sebisa mungkin dan berdampak positif dalam kehidupan. Makna istiqomah dalam Surat Fushshilat ayat 30 di atas dijelaskan oleh Prof. Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar dengan estetik. “Teguh pendirian ialah tegak lurus, teguh tegap dengan pendirian itu. Tidak bergeser, tidak beranjak. Tidak dapat dicondongkan ke kiri dan ke kanan. Tidak dapat dimundurkan ke belakang ataupun dimajukan ke muka, dalam arti keluar dari tempat tegak berdiri itu. Apa pun terjadi pendirian ini tidak dilepaskan. Istiqomah!”.
Akhirnya, mengikuti pendidikan dan latihan selama sebulan itu bukanlah pekerjaan mudah, tapi penuh dengan kesukaran dan tantangan. Kesuksesan suatu diklat bukanlah dinilai pada saat pelaksanakan, akan tetapi setelahnya (implementasi). Jika mampu dijalankan sehingga merubah sikap dan perilaku, maka itulah keberhasilan. Namun, apabila tidak mampu menjaga, setidaknya salah satu atau dua amal saleh, seperti puasa sunnah, tahajjud, tilawah dan sedekah, berarti diklat belum berhasil. Tentulah ada kekurangan, kiranya Allah SWT. sudi menyempurnakan. Jangan sampai merasa ibadah sudah sempurna dan pasti diterima, sebab itu kesombongan. Allahu a’lam bish-shawab.

5 hours ago
3













































