Meneropong Banjir Bandang di Padang

4 hours ago 3

Oleh : Fikrul Hanif Sufyan; pengajar, periset, dan penulis sejarah. Pernah menjadi dosen tamu dalam visiting scholar di Faculty of Arts University of Melbourne Australia

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Hujan telah berhenti, banjir telah surut, namun bencana galodo di Kota Padang pada November 2025 ini menjadi catatan buruk. Berserakannya tumpukan kayu gelondongan di pinggir pantai dan sungai-sungai menjadi tanda tanya besar, apakah sebegitu masifnya kerusakan ekologi yang terjadi di Kota Padang? Namun, catatan mengenai banjir besar di Padang tidak hanya terjadi hari ini. Lebih seabad lalu, berulang kali ditemukan kasus banjir yang berdampak pada korban jiwa dan kerugian materil di kota yang telah berusia 356 tahun tersebut.  

Padang di awal abad ke-20 

Jauh sebelum abad ke-20, Padang merupakan kelompok dusun-dusun yang terserak di atas tanah gurun, yang didominasi oleh hutan rawa dan pohon rumbia, semakin kelihatan ciri yang aslinya sebagai dataran rendah yang rawan banjir. Sampai sekarang pun orang masih dapat mengenal nama-nama kampung yang sangat dekat hubungannya dengan topografis Padang “tempo doeloe”

Sebut saja kampung Pulau Air, Tarandam, Pulau Karam, Rawang dan Ganting. Semuanya dekat dengan air, bencah dan banjir. Di dataran rendah tanah gurun berawa-rawa itulah Padang diteroka dan didirikan dulunya (Zed, 2009). 

Permukiman yang mula-mula di Padang menempati bagian selatan Batang Arau, yaitu di suatu kawasan yang sampai sekarang dikenal dengan Seberang Padang. Dari sini mereka berkembang dan sebagian pindah ke utara. Mereka mendirikan kampung baru, seperti Alang Laweh, Ranah, Parak Gadang dan Ganting. Kelompok pemukiman inilah yang menjadi cikal bakal dari Kota Padang (Amran, 1988).

Gemeente Padang dengan luas sekitar 11,5 km , setelah direorganisasi tahun 1913, pemerintahan onder afdeelingnya disederhanakan menjadi tujuh daerah distrik. Ketujuh distrik tersebut ialah: Tanah Tinggi, Batang Harau, Binuang, Koto Tangah, Pauh, Sungkai dan V Lurah. 

Dari sudut pertumbuhan penduduknya, menurut catatan statistik tahun 1930 menyebut, jumlah penduduk sebanyak 52.054 orang. Jumlah penduduk ini mengalami lonjakan, dibandingkan tahun 1878 (27.971 jiwa) dan 1905 menunjukkan kisaran 47.000 jiwa. Pada tahun 1930, komposisi Kotapraja Padang terdiri dari kulit putih atau Eropa 2.592 jiwa, bumi putera berjumlah 40.744 jiwa, Cina 7.263 jiwa, dan Arab, India, Jepang berjumlah 1.455 jiwa (Asnan, 1992).

Sejak ditingkatkannya status menjadi kotapraja, maka Padang mulai memperoleh hak desentralisasi untuk mengurus rumah tangga sendiri termasuk keuangan, yang selama ini ditentukan oleh pusat dilihat dari fasilitas kota, seperti pasar, kantor-kantor pemerintah dan fasilitas umum serta media pers, meskipun sebagian sudah ada sebelumnya, tetapi semuanya–mengalami perkembangan pesat sejak awal abad ke-20.

Pasar-pasar yang tersebar di beberapa tempat membentuk kantong-kantong ekonomi kota sudah terbentuk sejak abad-abad sebelumnya dan sampai awal abad ini, setidaknya terdapat sekitar lima buah pasar tempat transaksi jual-beli yang dikunjungi penduduk kota. Yang tertua adalah Pasar Gadang, terletak tidak jauh dari Muaro sebagai pusat kota lama.

Sejak ditemukannya emas hitam di Sawahlunto, Padang pun berbenah. Modernisasi dan kemajuan industrialisasi segera menghampiri kota yang bercorak colonial itu. Dimulai dengan pembangunan Pelabuhan Emmahaven (kini: Teluk Bayur) tahun 1888, ruas rel kereta api (1890), hingga dibangunnya pabrik semen Indarung oleh NV Nederlandsch Indische Portland Cement Maatschappij (NV NIPCM) pada 1910 (Sufyan, 2020). 

Namun ditengah modernisasi Padang, Kawasan ini rentan terhadap banjir. Faktor pemicunya adalah kombinasi curah hujan tinggi, kondisi geografis pesisir dan dataran rendah, tidak maksimalnya sistem drainase, pendangkalan sungai, kurangnya daerah resapan, serta perubahan tata guna lahan. 

Dilanda Banjir 1907 

Setidaknya dalam kurun waktu Kolonial Belanda, Padang beberapa kali direndam banjir. Setidaknya ada tiga jenis banjir di masa itu, yakni genangan, banjir bandang, dan banjir rob. Catatan awal hadir pada 1907. 

Pada 27 September 1907 banjir bandang melanda Kota Padang. Kawasan yang paling terdampak banjir adalah beberapa pasar di Padang, seperti Pasar Gadang, Pasar Mudik, Pasar Batipuh, Pasar Ilir, Pasar Jao, dan Pasar Tanah Kongsi. 

Di beberapa tempat, ketinggian air mencapai dua setengah meter. Banjir bandang yang terjadi di akhir September itu dipicu oleh badai yang mengakibatkan ketugian sebesar f 200.000 (dua ratus ribu gulden). Tidak hanya berdampak pada finansial, banjir bandang ini mengakibatkan beberapa rumah ambruk, jalan, jembatan, dan pipa air rusak berat. Tidak hanya itu, satu orang dikabarkan hilang dan hewan ternak kecil ditenggelamkan banjir. Sebuah tongkang kandas di jalan (Soerabaijasch handelsblad, 29 September 1907).

Tiga tahun kemudian, pada Sabtu malam tanggal 4 Juli 1910, kembali Padang diguyur hujan deras. Setelah hujan berhenti, air laut pun mengalami pasang. Kondisi ini memicu sebagian besar wilayah di Padang terendam hingga kedalaman sekitar 1,4 meter. Meskipun tidak ditemukan korban jiwa, menurut De Courant tanggal 5 Juili 1910 kerusakan materil masa itu sangat parah. Bahkan, pasang banjir pasang menyebabkan tiga perahu niaga terhempas dari jangkar dan hanyut ke laut. Belum ada yang diketahui tentang nasib mereka atau nasib awaknya. 

Untuk mencegah berulangnya banjir besar terjadi di Padang Burgerlijke Openbare Werken atau Dinas Pekerjaan Umum di masa Kolonial Belanda, mulai mendesain pengendalian banjir. Sejak 1911 hingga 1913, ada tiga proyek besar penanggulangan bencana yang digagas BOW, yakni menggali drainase, mendorong air Batang Arau masuk ke drainase, dan memanfaatkan drainase untuk jalan. 

Beberapa kanal yang dibangun oleh pemerintah Kolonial Belanda, itulah yang sampai kini oleh orang Minang menyebutnya Banda Bakali (sungai digali). Peresmian untuk banda bakali itu, dalam Padang Riwayatmu Dulu dilaksanakan pada 29 Oktober 1911 (Amran, 1988).

Setelah dibangunnya kanal antara Lubuk Begalung dengan Purus, pemerintah kembali membangun kanal yang menyambungkan aliran Batang Arau ke Purus. Setidaknya sampai tahun 1942, pemerintah membangun lima jembatan dan kanal, di antaranya di Marapalam dan Purus.

Banjir Makin Menggila, Kanal Tidak Berfungsi

Lima tahun kemudian, kembali Padang direndam banjir. Tepatnya pada malam hari tanggal 27 September 1915 hujan deras turun di Padang. Menurut de Sumatra post tanggal 29 September 1915 banjir juga diikuti dengan pasang air laut yang besar. Sehari setelah banjir rob, pada 28 September 1915 pukul satu siang Kampung Pondok (baca: permukiman Tionghoa) dan beberapa kawasan yang rendahpun terendam banjir . Kerusakan belum diketahui (de Sumatra post, 1915).

Sebelas tahun kemudian, tepatnya pada 14 April 1926 badai dahsyat diiringi hujan deras telah meluluhlantakkan Padang dan sekitarnya. Akibat dari badai ini cukup luar biasa. Lalu lintas kereta api yang selama ini menjadi andalan untuk mobilitas tinggi pun terganggu. 

Banjir setinggi 3 meter itu menyebabkan empat orang tewas dan dua rumah hanyut. Bahkan, pasokan listrik untuk Padang pun padam. Tidak hanya itu, beberapa bangunan milik Pabrik semen Portland "Indaroeng" hancur. De Sumatra post pada 15 April 1926 menaksir kerugian yang dialami pabrik semen itu mencapai 2.200 hingga 3.000 euro. 

Dua tahun kemudian, tepatnya pada Juni 1928, selama dua hari berturut-turut hujan deras melanda Padang. Koresponden de Sumatra Bode melaporkan bahwa banjir telah memporak-porandakan Padang sejak 22 sampai dengan 23 Juni. Kerugian yang ditanggung lebih besar dari tahun sebelumnya, yakni sebesar 150.000 gulden. Bila dirinci lebih lanjut 110.000 gulden diderita oleh saudagar yang bermukim di Pasar Gadang, Pasar Mudiak, Pasar Batipuah, Pasar Ilir, Pasar Tanah Kongsi dan Pasar Jao. Sedangkan kerugian sebesar f 40.000 berasal dari hancurnya jalan dan rumah. 

Kerugian itu, belum termasuk yang terjadi di kampung-kampung. Koresponden Sumatra Bode mengambil foto dibeberapa titik pada pukul 01.00 dini hari, antara lain di simpang Pondok, Belakang Pondok, dan Nieuwe Weg, atau Jalan Kampong Baroe. Foto di atas menurutnya diambil di bangunan yang cukup tinggi. Sehingga dapat dibayangkan, bagaimana kondisi rilnya di dataran rendah dan di kampung-kampung. 

Foto tersebut dengan jelas menunjukkan betapa dahsyatnya banjir setinggi lima meter yang melanda Padang. Kanal banjir yang dibangun oleh pemerintah Kolonial Belanda, baik di Pulau Air Lubuk Begalung hingga ke Batang Arau tidak berfungsi. Jika berfungsi, banjir tentunya tidak akan dapat mencapai titik setinggi itu. 

Sumatra Bode menengarai, adanya kelalaian dari penjaga pintu air di Batang Harau, sehingga memicu air bah ini tidak dapat ditutup dan dialihkan ke daerah banjir, seperti kampung-kampung yang mengalami kerusakan parah. Akibat dari kerusakan besar yang melanda kota, Padang Raad didesak untuk melayangkan mosi tidak percaya pada Gemeente Padang, untuk segera melakukan rehabilitasi terhadap infrastruktur kota. 

Belum usai bencana Juni 1928, Padang kembali dilanda banjir besar. Tepatnya pada hari Selasa tanggal 17 Desember 1929 kembali diguyur hujan lebat. Kali ini, hujan turun dengan debit 220 mm dalam waktu setengah hari saja. Namun, efeknya benar-benar luar biasa. Bisa dibayangkan, hujan sederas itu mengguyur mulai dari perbukitan kemudian membawa banjir yang berakhir di Batang Arau. Dalam catatannya Soerabaijasch handelsblad pada 19 Desember 1929, bahwa ketinggian air di Batang Arau adalah 2,5 meter dalam waktu tiga jam hujan deras saja. 

Akibat dari hujan deras selama tiga jam itu, berdampak pada rusaknya perkampungan di dataran rendah, Kampung Pondok, dan kawasan komersial Eropa. Jalanan telah berubah menjadi aliran deras yang deras. Di beberapa tempat, air naik setinggi satu meter. Meskipun tidak dilaporkan ada korban jiwa, namun kerugian materil juga diderita terutama ruas jalan yang rusak berat di beberapa tempat (Sumatra Courant, 18 Desember 1929). 

Tahun berikutnya, hujan kembali berdampak buruk pada kota Padang, yakni pada 1931 dan 1938. Pada 17 November 1938, Padang diguyur hujan deras selama tiga hari. Akibatnya, tanah longsor terjadi di beberapa tempat. Di Pasar Usang, misalnya mengakibatkan sebelas orang hanyut. Hanya satu dari mereka yang ditemukan di Batangarau di dekat Padang (Het Vaderland, 19 Desember 1938).

Dari catatan yang ditemukan dalam surat kabar di masa Kolonial Belanda, tidak pernah disebutkan bahwa korban jiwa dan kerusakan bangunan disebabkan oleh kayu gelondongan yang dihanyutkan oleh banjir. Nah, dari mana asal muasal kayu ukuran besar yang sekarang memenuhi bantaran kali dan pinggiran Pantai Padang? Siapa saja yang terlibat dalam pembalakan liar?

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research