Liburan Usai, IHSG dan Rupiah Bersiap Menyambut Badai

7 hours ago 2
  • Pasar keuangan Indonesia ambruk sebelum libur panjang Lebaran
  • Wall Street kembali loyo setelah sempat menguat
  • Dampak perang hingga data ekonomi terbaru akan menjadi penggerak pasar keuangan hari ini

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Tanah Air sebelum lebaran sudah berdarah-darah. Pasar keuangan Indonesia kembali dibuka hari ini setelah libur panjang. 

Volatilitas tampaknya masih akan menghantui pasar lagi pada hari pertama buka setelah libur panjang hari raya Idul Fitri. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar keuangan hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Pada perdagangan terakhir sebelum lebaran, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan Selasa pekan lalu (17/3/2026) bertengger di 7.106,84. Dalam sehari menguat 1,20%.

Sayangnya, penguatan harian itu masih belum menutup koreksi yang terjadi selama empat hari beruntun, mengakumulasi koreksi 0,43% dan memperpanjang tren turun selama empat pekan berturut-turut.

Asal tahu saja, sejak IHSG mencetak rekor pada 20 Januari 2026 di atas level 9000, sampai posisi terkini itu sudah koreksi lebih dari 20%.

Pergerakan pasar pekan lalu yang cenderung merah masih dipengaruhi sentimen perang di Timur Tengah dan ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter bank sentral AS masih akan ketat pada tahun ini.

Lebih jauh, tekanan IHSG pada Ramadan kali ini diawali oleh gejolak yang disebabkan keputusan MSCI membekukan indeks untuk pasar saham di Indonesia.

Hal ini kemudian disikapi oleh Otoritas Jasa Keuangan hingga Bursa Efek Indonesia dengan melakukan reformasi pasar.

Setelah tekanan MSCI mereda, eskalasi geopolitik memanas dipicu perang Amerika Serikat dan Israel dengan Iran yang masih berlangsung sampai saat ini.

Beralih ke pasar keuangan, seiring dengan IHSG yang bergejolak, rupiah juga turut kena imbasnya.

Perang Timur Tengah memicu harga minyak memanas kemudian menjalar ke indeks dolar AS (DXY) sempat naik menembus level 100.

Hal tersebut akhirnya berdampak ke rupiah yang melemah lagi, bahkan kini rawan menyentuh ke atas Rp17.000/US$, level terpuruk dalam sejarah RI.

Merujuk Refinitiv, pada penutupan Selasa pekan lalu (17/3/2026), rupiah bertengger di Rp16.975/US$. Sudah empat minggu beruntun mata uang Garuda dalam zona merah.

Selama liburan, rupiah tertekan di pasar luar negeri.

Berdasarkan data Refinitiv, kontrak NDF rupiah tenor 1 bulan pada pagi hari ini tercatat berada di kisaran Rp16.964 - Rp16.975/US$. Level ini menunjukkan rupiah di pasar offshore masih bergerak di bawah area Rp17.000/US$, sekaligus mencerminkan tekanan yang relatif lebih mereda dibandingkan periode sebelumnya ketika NDF tenor yang sama sempat menembus level psikologis tersebut.

Saat ini, kewaspadaan terhadap pergerakan transaksi kurs menjadi penting karena konflik di Timur Tengah itu terbukti telah membuat ketidakpastian pasar keuangan global makin memburuk, ditandai dengan aliran modal asing yang tercatat terus keluar dari pasar negara berkembang.

Beralih lagi ke pasar obligasi yang terpantau tak beda jauh pergerakannya.

Yield obligasi acuan RI dengan tenor 10 tahun kini sudah semakin mendekati 7%. Tepatnya pada Selasa pekan lalu berakhir di 6,84%, tiga minggu beruntun yield ini naik terus.

Perlu dipahami, pergerakan yield dan harga itu berlawanan arah. Jadi, ketika yield itu naik, maka harga obligasi saat ini sedang turun, alias lagi banyak dijual.

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research