250 Pembangkit Nuklir "Dibunuh", Banyak Negara Sekarang Menyesal?

15 hours ago 4

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

24 March 2026 13:00

Jakarta, CNBC Indonesia - Kebutuhan listrik global yang terus naik membuat energi nuklir kembali dilirik banyak negara.

Di tengah dorongan elektrifikasi, pembangunan industri, dan pesatnya perkembangan kecerdasan buaran (AI), nuklir mulai dipandang lagi sebagai sumber energi rendah karbon yang stabil.

Namun di balik kebangkitan minat tersebut, fakta lain menunjukkan bahwa banyak negara justru menutup pembangkit listrik tenaga nuklir atau PLTN dalam jumlah besar. Secara global, sekitar 250 PLTN telah dihentikan operasinya sejak 1957 dengan total kapasitas yang dipensiunkan mencapai 136.823 megawatt (MW).

Melansir dari Visual Capitalist yang merujuk Global Energy Monitor menunjukkan, Jepang, Jerman, dan Amerika Serikat menjadi negara dengan kapasitas nuklir yang paling banyak ditutup. Sementara itu, China justru menjadi pengecualian karena belum menutup satu pun proyek nuklirnya.

Jepang Paling Banyak Menutup Kapasitas Nuklir

Jepang tercatat sebagai negara dengan kapasitas nuklir yang paling besar dihentikan. Total kapasitas PLTN yang telah ditutup mencapai 35.284 MW dari 44 unit.

Besarnya angka ini tidak lepas dari dampak bencana Fukushima pada 2011. Setelah insiden tersebut, Jepang menangguhkan sebagian besar pembangkit nuklirnya. Sejak saat itu, hanya sebagian reaktor yang kembali dioperasikan, sementara sisanya tetap berhenti.

Kasus Jepang menunjukkan bagaimana satu bencana besar bisa mengubah arah kebijakan energi nasional secara drastis. Padahal sebelum Fukushima, nuklir merupakan salah satu pilar penting pasokan listrik negara tersebut.

Jerman Menutup Semua Reaktor Nuklirnya

Setelah Jepang, Jerman menempati posisi kedua dengan total kapasitas nuklir yang dihentikan sebesar 27.862 MW dari 36 unit.

Jerman pernah mengandalkan nuklir untuk memenuhi sekitar 29,5% kebutuhan listriknya pada masa puncak. Namun setelah Fukushima, pemerintah mengambil keputusan untuk keluar dari energi nuklir secara bertahap. Proses itu akhirnya tuntas ketika reaktor terakhir resmi dimatikan pada 2023.

Langkah Jerman menjadi salah satu contoh paling jelas bagaimana pertimbangan keselamatan, politik, dan opini publik dapat mendorong penghentian total energi nuklir, meski sebelumnya sumber energi ini punya porsi besar dalam sistem kelistrikan.

Amerika Serikat Menutup Reaktor Terbanyak

Amerika Serikat berada di peringkat ketiga dengan kapasitas PLTN yang ditutup sebesar 23.311 MW. Meski demikian, AS justru menjadi negara dengan jumlah fasilitas yang paling banyak dipensiunkan, yakni 47 unit.

Artinya, AS menutup lebih banyak reaktor dibanding Jepang maupun Jerman, tetapi rata-rata kapasitas per unitnya tidak sebesar dua negara tersebut. Ini memperlihatkan bahwa skala penghentian nuklir tidak hanya bisa dilihat dari jumlah fasilitas, tetapi juga dari kapasitas listrik yang hilang.

Menariknya, di tengah gelombang penutupan itu, AS juga mulai kembali melirik energi nuklir. Beberapa fasilitas lama bahkan mulai dipertimbangkan untuk dihidupkan lagi guna mendukung kebutuhan listrik yang terus meningkat, termasuk untuk pusat data.

Inggris, Prancis, Rusia, dan Taiwan Masuk Daftar Teratas

Di bawah tiga besar, Inggris tercatat telah menutup 36 unit dengan kapasitas 9.163 MW. Lalu Prancis menutup 15 unit dengan kapasitas 6.087 MW, sementara Rusia menutup 16 unit dengan total 5.879 MW.

Taiwan juga masuk jajaran negara dengan penutupan kapasitas nuklir cukup besar, yakni 5.144 MW dari 6 unit. Setelah itu ada Swedia dengan 4.268 MW dan Ukraina dengan 3.800 MW.

Daftar ini menunjukkan bahwa penghentian PLTN bukan hanya terjadi di satu atau dua negara, melainkan menyebar di banyak negara yang pernah mengembangkan energi nuklir sebagai bagian penting dari bauran energinya.

Ukraina Dibayangi Geopolitik, China Justru Terus Ekspansi Nuklir

Dalam isu energi nuklir, arah kebijakan tiap negara ternyata sangat dipengaruhi kondisi masing-masing. Ukraina misalnya, tidak hanya menghadapi persoalan energi, tetapi juga tekanan geopolitik dan keamanan yang sangat besar. Negara ini tercatat telah menutup empat unit PLTN dengan total kapasitas 3.800 MW.

Sorotan terhadap Ukraina juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang kecelakaan nuklir Chernobyl pada 1986. Dalam beberapa tahun terakhir, isu nuklir di negara ini kembali menjadi perhatian dunia seiring perang dengan Rusia. Infrastruktur nuklir Ukraina kembali menjadi perhatian, terutama setelah pembangkit Zaporizhzhia, salah satu PLTN terbesar di Eropa, berada di bawah kendali Rusia sejak 2022.

Karena itu, isu nuklir di Ukraina kini bukan sekadar soal pasokan listrik, tetapi juga menyangkut stabilitas di Eropa dan keamanan internasional.

Berbeda dengan Ukraina, China justru mengambil arah sebaliknya. Di tengah panjangnya daftar negara yang menutup PLTN, China menjadi pengecualian karena belum menutup satu pun proyek tenaga nuklir. Sikap ini mencerminkan kebijakan energi China yang masih agresif dalam mengembangkan sektor nuklir.

China bahkan menargetkan kapasitas energi nuklir mencapai 150 gigawatt atau 150.000 MW pada 2035.

Langkah ini menunjukkan bahwa di tengah kekhawatiran soal limbah radioaktif, risiko kecelakaan, dan sensitivitas isu nuklir, sebagian negara masih melihat energi nuklir sebagai solusi penting untuk memenuhi kebutuhan listrik yang besar sekaligus menekan emisi karbon.

Energi Nuklir Kembali Dilirik

Meski banyak PLTN sudah ditutup selama beberapa dekade terakhir, energi nuklir kini mulai kembali dilirik. Pertumbuhan AI, elektrifikasi, dan peningkatan kebutuhan listrik industri membuat banyak negara menilai bahwa sumber energi yang stabil dan rendah karbon ini masih punya peran besar di masa depan.

Bahkan, dalam beberapa kasus, fasilitas yang sebelumnya sudah dipensiunkan mulai dibahas untuk diaktifkan kembali. Ini memperlihatkan kalau pandangan terhadap energi nuklir sedang berubah. Jika dulu banyak negara fokus pada penutupan karena faktor keselamatan dan politik, kini semakin banyak yang mempertimbangkan sisi keandalan pasokan listrik jangka panjang.

Artinya, gelombang penutupan PLTN di berbagai negara tidak hanya menjadi catatan sejarah energi nuklir dunia. Fenomena ini juga menegaskan bahwa saat ini banyak negara berada di persimpangan, antara kehati-hatian akibat pengalaman masa lalu dan kebutuhan listrik yang terus melonjak.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research