Review Sepekan
Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
29 March 2026 09:15
Jakarta, CNBC Indonesia - Pergerakan harga perak menunjukkan dinamika yang signifikan pada akhir pekan perdagangan, di mana harga spot ditutup pada level US$69,59 per ons pada Jumat (27/3/2026).
Angka penutupan ini menandai pemulihan dari titik terendah mingguannya di US$67,71, meskipun sempat menyentuh level US$71,01 pada perdagangan intraday. Lonjakan harga ini mencerminkan respons investor terhadap sentimen teknis dan fundamental yang saling tarik-menarik di tengah gejolak makroekonomi global.
Tekanan Makroekonomi dan Pembalikan Teknis
Pemulihan harga perak pada akhir pekan sangat dipengaruhi oleh faktor teknikal. Aksi jual tajam yang terjadi pada pertengahan pekan menekan harga hingga mendekati indikator pergerakan 200-day moving average.
Level tersebut kemudian direspons oleh para pengelola dana dan investor institusional sebagai momentum akumulasi jangka panjang, yang memicu aksi beli di pasar logam mulia. Namun perlu diingat bahwa secara daily chart, golden cross telah terjadi di XAGUSD yang memberikan sinyalir potensi pembalikan arah sejak Jumat lalu (20/3/2026).
Meskipun terdapat pemulihan teknis, perak masih menghadapi tekanan makroekonomi yang substansial. Penguatan indeks dolar Amerika Serikat dan lonjakan harga minyak mentah yang melampaui US$110 per barel telah kembali memicu ekspektasi inflasi yang tinggi.
Merespons kondisi tersebut, pelaku pasar saat ini "mengeksklusikan" potensi pemangkasan suku bunga acuan AS pada tahun 2026. Skenario suku bunga tinggi yang bertahan lama ini secara historis membebani valuasi aset yang tidak memberikan imbal hasil.
Keseimbangan Pasokan dan Normalisasi Valuasi
Dari perspektif fundamental, pasar perak masih ditopang oleh proyeksi defisit struktural untuk tahun keenam berturut-turut. Data Silver Institute mengestimasikan bahwa permintaan akan melampaui pasokan hingga 67 juta ons pada tahun 2026.
Kondisi ini didorong oleh ekspektasi lonjakan investasi fisik sebesar 20%, yang mampu mengimbangi potensi perlambatan serapan dari sektor industri, termasuk manufaktur panel surya yang mulai mencari material substitusi. Ketidakseimbangan fundamental ini bertindak sebagai penahan agar harga tidak terkoreksi terlalu dalam.
Kendati demikian, level penutupan US$69,59 per ons saat ini merepresentasikan fase normalisasi pasar, mencatatkan penurunan sekitar 40% dari level penutupan tertinggi tahunan di US$116,57 pada 28 Januari lalu.
Rekor harga pada awal tahun tersebut lebih banyak didorong oleh sentimen euforia ritel yang masif sama halnya seperti di pasar XAU.
Mempertimbangkan volatilitas pasar yang masih membayangi serta risiko penyesuaian kebijakan moneter ketat, proyeksi pasar ke depan mengindikasikan bahwa harga perak akan terus mencari titik keseimbangan fundamentalnya, dengan estimasi rentang konsolidasi yang paling rasional berada di kisaran US$60 hingga US$70 per ons.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)
Addsource on Google














































