REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Proses klasifikasi atlet kontingen Indonesia menjelang perhelatan ASEAN Para Games 2025 di Thailand berjalan sesuai rencana. Hingga saat ini, seluruh atlet Indonesia yang menjalani klasifikasi dinyatakan memenuhi persyaratan untuk bertanding sesuai kategori hambatannya masing-masing.
Koordinator tim dokter kontingen Indonesia, Retno Setianing, memastikan tahapan klasifikasi yang berlangsung dalam dua hari terakhir berjalan lancar. Ia menegaskan, sebelum keberangkatan ke ASEAN Para Games 2025, tim medis telah mempelajari dan menyusun proyeksi kelas bagi setiap atlet.
“Sejauh ini masih sesuai dengan perkiraan, atau setidaknya memenuhi harapan. Karena kalau kami sudah menempatkan atlet di suatu kelas, artinya target medalinya juga sudah ditetapkan,” ujar Retno dalam keterangan tertulis yang diterima Republika.co.id, Ahad (18/1/2026).
Klasifikasi merupakan elemen krusial dalam olahraga disabilitas. Mekanisme ini berfungsi menentukan kategori atlet berdasarkan derajat impairment atau hambatan yang dimiliki, sehingga setiap pertandingan berlangsung dalam kondisi yang setara dan menjunjung prinsip fair play.
Dalam sistem olahraga paralimpiade, klasifikasi menjadi dasar agar atlet dengan jenis disabilitas berbeda tetap dapat dipertandingkan secara adil. “Classifier harus memastikan atlet yang bertanding berada pada tingkat yang setara. Meskipun jenis disabilitasnya berbeda, tapi level kemampuannya sebanding,” kata Retno.
Ia menjelaskan, terdapat tiga kategori utama impairment yang menjadi acuan, yakni physical impairment (PI) atau tunadaksa, visual impairment (VI) atau tunanetra, serta intellectual impairment (II) atau tunagrahita. Masing-masing kategori memiliki klasifikasi lanjutan yang lebih spesifik sesuai cabang olahraga.
Selama proses klasifikasi, tim dokter Indonesia juga melakukan pendampingan terhadap atlet tertentu yang memerlukan pengawalan medis. Salah satunya terjadi pada cabang olahraga para catur, di mana dua atlet membutuhkan pendampingan khusus dalam proses assessment.
“Tidak semua atlet harus dikawal dokter atau fisioterapis, terutama yang kelasnya sudah pasti. Namun di para catur, ada dua atlet yang memang perlu pendampingan,” ujar Retno.
Pendampingan tersebut dinilai penting untuk memastikan seluruh atlet Indonesia bisa dinyatakan eligible dan berhak bertanding. Retno menegaskan, perubahan kelas atau status non-eligible dapat berdampak signifikan terhadap peluang perolehan medali.
“Kalau sampai bergeser kelas atau dinyatakan non-eligible, tentu sangat disayangkan. Karena itu klasifikasi tidak bisa hanya dilihat sekilas, tetapi harus benar-benar diperiksa dan dicocokkan dengan cabang olahraganya,” ujar dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi itu.
Pada hari Ahad, klasifikasi dilakukan untuk kategori tunadaksa cabang para catur. Dari enam atlet yang terdaftar, hanya dua atlet yang perlu menjalani klasifikasi karena satu atlet berstatus debutan dan satu lainnya masih dalam tahap peninjauan ulang. Seluruhnya dinyatakan lolos.
Koordinator pelatih tim para catur Indonesia, Tedy Wiharto, menyampaikan optimismenya terhadap hasil klasifikasi yang berjalan sesuai rencana. Dua atlet, Fajar Alamsyah dan Lilis Herna Yulia, dipastikan lolos klasifikasi pada hari tersebut.
“Alhamdulillah, semua atlet yang menjalani klasifikasi hari ini dinyatakan lolos,” kata Tedy.
Ia menambahkan, atlet para catur kategori tunanetra masih akan menjalani klasifikasi terakhir yang dijadwalkan berlangsung pada Senin (19/1/2026).
Dengan total 18 atlet yang dibawa, tim para catur Indonesia membidik raihan 12 medali emas, enam perak, dan empat perunggu di ASEAN Para Games 2025. Target tersebut dinilai realistis dan membuka peluang besar bagi Indonesia untuk menjadi juara umum di cabang para catur.
“Untuk kategori tunadaksa, pesaing terberat berasal dari Filipina. Sementara di tunanetra, Vietnam cukup kuat. Target 12 emas masih sangat terbuka,” ujar Tedy.
Cabang olahraga para catur akan mulai dipertandingkan pada Rabu (21/1/2026), dengan seluruh laga terpusat di Nakhon Ratchasima Rajabhat University.

2 hours ago
2














































