093_Zahrotul Aulia
Guru Menulis | 2026-06-30 18:13:00
Zahrotul Aulia
Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah
"Mah, aku main HP dulu ya."
Kalimat itu mungkin sudah menjadi pemandangan yang biasa terdengar di banyak rumah. Setelah pulang sekolah, anak-anak lebih sering memilih rebahan sambil memainkan gadget daripada berlari keluar rumah mencari teman.
Bukan karena mereka tidak suka bermain, tetapi karena perlahan mereka kehilangan tempat untuk melakukannya.
Kalau kita mengingat masa kecil beberapa tahun lalu, suasananya terasa sangat berbeda. Sepulang sekolah, jalanan kampung mulai dipenuhi suara anak-anak. Ada yang bermain petak umpet, bentengan, gobak sodor, lompat tali, atau sekadar duduk di bawah pohon sambil bercerita.
Lapangan kecil, halaman rumah, bahkan tanah kosong di ujung gang menjadi tempat berkumpul yang selalu ramai menjelang sore.
Sekarang, pemandangan seperti itu semakin sulit ditemukan.
Perubahan ini bukan sekadar soal anak yang lebih menyukai gadget. Ada perubahan lingkungan sosial yang terjadi di sekitar kita. Lahan kosong yang dulu menjadi tempat bermain kini berubah menjadi deretan rumah, ruko, atau tempat parkir.
Ruang terbuka semakin sedikit, sementara aktivitas masyarakat juga berubah. Lingkungan yang dulu menjadi ruang interaksi bersama perlahan bergeser menjadi kawasan yang lebih padat dan individual.
Dalam ilmu IPS, lingkungan bukan hanya berarti hutan, sungai, atau gunung. Lingkungan juga mencakup ruang tempat manusia hidup, berinteraksi, dan membangun hubungan sosial. Karena itu, ketika ruang bermain menghilang, yang hilang bukan hanya sebidang tanah, tetapi juga salah satu ruang belajar anak dalam kehidupan bermasyarakat.
Anak-anak sebenarnya belajar banyak ketika bermain bersama teman sebayanya. Mereka belajar mengikuti aturan permainan, bekerja sama dalam satu kelompok, menyelesaikan perbedaan pendapat, hingga menerima kekalahan.
Semua pengalaman itu merupakan bentuk interaksi sosial yang terjadi secara alami tanpa harus diajarkan melalui buku pelajaran. Sayangnya, kesempatan itu kini semakin berkurang.
Tidak sedikit kawasan permukiman yang kini hampir tidak memiliki ruang terbuka untuk anak. Jika dulu halaman rumah terasa luas dan lapangan kampung mudah ditemukan, kini banyak ruang tersebut berubah fungsi menjadi bangunan.
Di sisi lain, meningkatnya jumlah kendaraan membuat orang tua merasa khawatir membiarkan anak bermain di jalan lingkungan. Akibatnya, rumah menjadi satu-satunya tempat yang dianggap aman.
Ketika ruang bermain di luar semakin terbatas, gadget menjadi pilihan yang paling mudah. Anak tetap bisa bermain tanpa harus keluar rumah, sementara orang tua merasa lebih tenang karena anak berada dalam pengawasan.
Tidak dapat dimungkiri, teknologi memang memberikan banyak manfaat. Anak dapat belajar, mencari informasi, bahkan berkomunikasi dengan teman melalui berbagai aplikasi.
Namun, ada satu hal yang tidak dapat digantikan oleh teknologi, yaitu pengalaman hidup bersama orang lain.
Permainan tradisional misalnya, bukan sekadar kegiatan untuk mengisi waktu luang. Di balik permainan seperti gobak sodor, bentengan, petak umpet, atau engklek, terdapat nilai-nilai sosial yang secara tidak langsung dipelajari anak.
Mereka belajar bekerja sama, mematuhi aturan yang disepakati bersama, menghargai giliran, hingga menyelesaikan konflik kecil tanpa harus selalu melibatkan orang dewasa.
Dulu, lingkungan tempat tinggal bukan hanya menjadi tempat bermain, tetapi juga ruang belajar sosial bagi anak. Saat bermain bersama teman sebaya, mereka belajar bekerja sama, menghargai perbedaan, menaati aturan, hingga menyelesaikan konflik kecil secara langsung.
Pengalaman sederhana tersebut merupakan bagian dari pembelajaran IPS yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Ketika ruang bermain semakin berkurang, kesempatan anak untuk berinteraksi dengan lingkungan dan masyarakat ikut menyempit.
Akibatnya, mereka lebih banyak menghabiskan waktu di depan layar daripada membangun hubungan nyata dengan teman sebaya. Padahal, nilai-nilai sosial akan lebih mudah dipahami ketika dialami secara langsung.
Nilai-nilai tersebut merupakan bagian penting dalam pembelajaran IPS. Anak tidak hanya mengenal konsep masyarakat melalui buku, tetapi juga mengalaminya secara langsung dalam kehidupan sehari-hari.
Berbagai penelitian di Indonesia juga menunjukkan bahwa bermain bersama teman sebaya berperan dalam mengembangkan kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, serta membangun hubungan sosial.
Sebaliknya, ketika waktu bermain lebih banyak dihabiskan secara individual dengan gadget, kesempatan anak untuk melatih kemampuan tersebut menjadi semakin sedikit.
Perubahan ini menunjukkan bahwa perkembangan teknologi bukan satu-satunya penyebab berubahnya pola bermain anak. Lingkungan sosial juga memiliki pengaruh yang besar. Ketika ruang publik semakin berkurang, anak kehilangan tempat untuk berinteraksi secara langsung.
Padahal, lingkungan yang mendukung aktivitas bermain dapat menjadi sarana penting bagi tumbuhnya sikap peduli, toleransi, dan gotong royong sejak usia dini.
Oleh karena itu, menghadirkan kembali ruang bermain bukan hanya menjadi tanggung jawab orang tua. Sekolah, masyarakat, hingga pemerintah daerah memiliki peran yang sama pentingnya.
Sekolah dapat memperbanyak kegiatan luar kelas dan permainan kelompok. Masyarakat dapat menghidupkan kembali permainan tradisional saat kegiatan lingkungan.
Sementara pemerintah perlu memastikan tersedianya ruang terbuka yang aman, nyaman, dan ramah anak di kawasan permukiman.
Pada akhirnya, anak-anak tidak membutuhkan taman bermain yang mewah untuk merasa bahagia. Mereka hanya membutuhkan ruang yang aman untuk berlari, teman yang mau bermain bersama, dan lingkungan yang memberi kesempatan untuk saling mengenal.
Karena sesungguhnya, yang hilang bukan hanya lapangan atau pohon-pohon yang dulu menjadi tempat berteduh.
Yang ikut menghilang adalah ruang bagi anak-anak untuk belajar menjadi bagian dari masyarakat. Mereka kehilangan tempat untuk berlatih bekerja sama, belajar menghargai orang lain, dan merasakan hangatnya kebersamaan.
Di tengah perkembangan zaman yang terus bergerak maju, mungkin inilah saatnya kita bertanya kembali: "apakah pembangunan hanya tentang menambah bangunan baru, atau juga tentang menjaga ruang bagi anak-anak untuk tumbuh bersama lingkungannya?".
Sebab pada akhirnya, masa kecil yang baik bukan hanya diukur dari seberapa canggih teknologi yang dimiliki, tetapi juga dari seberapa banyak kenangan yang tercipta ketika bermain, tertawa, dan belajar hidup bersama orang lain.
Sumber Bacaan :
Kurniawati, N., dkk. (2023). Dampak Gadget terhadap Perkembangan Sosial Anak Usia Sekolah Dasar. Jurnal Elementary School.
Nurfadilah, N., dkk. (2023). Pengaruh Penggunaan Gadget terhadap Pola Interaksi Sosial Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Pendas.
Sari, D., dkk. (2024). Eksplorasi Aktivitas Bermain Anak pada Lingkungan Outdoor Sekolah Dasar. Jurnal SARGA.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

4 hours ago
3













































