REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memperkuat pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan melibatkan masyarakat di wilayah rawan. Langkah ini dilakukan seiring peringatan potensi El Nino pada pertengahan tahun serta pola siklus karhutla besar yang kerap terjadi setiap lima tahun.
Kepala Seksi Wilayah I Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Wilayah Jabalnusra Kementerian Kehutanan Kurniawati Negara mengatakan, pelibatan masyarakat dilakukan melalui pembentukan dan pembinaan kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA) di tingkat desa.
“MPA akan terlebih dahulu melakukan pemadaman jika ada kebakaran sebagai pertolongan pertama. Mereka sudah dibekali pengetahuan dan peralatan, sambil berkoordinasi dengan balai dalkarhut,” kata Kurniawati saat berbincang dengan Republika, Kamis (12/3/2026).
Menurut Kurniawati, pendekatan yang melibatkan masyarakat penting karena sebagian besar kebakaran hutan dan lahan dipicu aktivitas manusia. Ia menyebut hampir seluruh kasus karhutla di Indonesia berkaitan dengan faktor manusia.
Balai Dalkarhut secara rutin melakukan pembinaan kepada kelompok MPA di berbagai wilayah rawan. Sasaran pembinaan difokuskan pada desa-desa yang memiliki riwayat kebakaran pada tahun sebelumnya.
Selain pembinaan masyarakat, kegiatan pencegahan juga dilakukan melalui patroli kawasan, pemasangan papan peringatan larangan membakar lahan, serta kampanye di sekolah-sekolah yang berada di sekitar kawasan hutan.
Balai Dalkarhut juga menggelar simulasi pemadaman bersama berbagai pihak, termasuk Manggala Agni dan kelompok MPA. Simulasi tersebut bertujuan menjaga kesiapsiagaan personel serta memastikan peralatan pemadaman selalu siap digunakan di lapangan.
Dalam simulasi yang digelar di Kabupaten Kuningan pada akhir Februari lalu, masyarakat dilibatkan agar mampu melakukan penanganan awal apabila terjadi kebakaran di tingkat tapak.
Balai Dalkarhut Jabalnusra mencatat luas kebakaran hutan dan lahan di wilayah kerja Seksi Wilayah I yang meliputi Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat mencapai sekitar 35.770,03 hektare sepanjang periode 2018–2025.
Di Jawa Barat, beberapa daerah mencatat luasan kebakaran terbesar dalam periode tersebut. Kabupaten Majalengka menjadi wilayah dengan indikasi kebakaran terluas sekitar 9.028,93 hektare, diikuti Indramayu 8.159,16 hektare, serta Subang sekitar 3.970,94 hektare.
Wilayah lain dengan kejadian cukup signifikan antara lain Sukabumi sekitar 3.225,14 hektare, Sumedang 3.023,57 hektare, Cirebon 3.005,82 hektare, Garut 2.151,99 hektare, Kuningan 2.015,19 hektare, serta Bandung sekitar 638,61 hektare.
Data tersebut juga menunjukkan fluktuasi luas kebakaran dari tahun ke tahun. Pada 2018 tercatat sekitar 4.103 hektare, kemudian meningkat pada 2019 menjadi 9.554 hektare, lalu menurun pada 2020 sekitar 2.343 hektare dan 2021 sekitar 1.299 hektare.
Luas kebakaran kembali meningkat pada 2022 sekitar 2.005 hektare, kemudian mencapai puncaknya pada 2023 sekitar 11.524,8 hektare, sebelum turun pada 2024 sekitar 4.548,58 hektare dan 2025 sekitar 1.610,65 hektare.
Kementerian Kehutanan juga mewaspadai potensi peningkatan karhutla pada tahun ini seiring prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mengenai kemungkinan munculnya fenomena El Nino pada pertengahan 2026.
Fenomena tersebut berpotensi memicu musim kemarau lebih panjang dan meningkatkan risiko kebakaran hutan, terutama di wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi.
Selain itu, pola kejadian karhutla besar juga kerap muncul dalam siklus sekitar lima tahunan. Puncak kejadian besar sebelumnya terjadi pada 2019 sehingga tahun 2026 dinilai menjadi periode yang perlu diwaspadai.
Karena itu, pemerintah memperkuat langkah pencegahan sejak dini melalui patroli terpadu, pemantauan titik panas, serta pemberdayaan masyarakat di desa-desa rawan kebakaran.

4 hours ago
4















































