Para pencari kerja mengisi formulir salah satu perusahaan saat menghadiri Mega Career Expo di Gedung Smesco, Jakarta, Rabu (16/4/2025). Bursa kerja tersebut digelar selama 2 hari hingga Kamis (17/4) besok, dengan menyediakan ribuan lapangan pekerjaan dan diikuti oleh 50 perusahan negeri dan swasta. Career Expo tersebut digelar sebagai upaya kontribusi dalam memberikan peluang bagi calon pekerja sehingga dapat menyerap tenaga kerja untuk mengurangi angka pengangguran. Menurut Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah pengangguran pada tahun 2024 mengalami peningkatan signifikan yakni 7,99 persen dibandingkan tahun sebelumnya 6,68 persen dan pada tahun 2022 di angka 6,32 persen.
REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Untuk meningkatkan peningkatan kualitas tata kelola pemerintah daerah, khususnya menurunkan tingkat pengangguran, Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), mendorong penyusunan instrumen berbasis data demi mengukur keberhasilan kinerja pemerintah daerah.
Kepala BSKDN Kemendagri Yusharto Huntoyungo menegaskan, upaya penurunan pengangguran di daerah memerlukan pendekatan yang tidak hanya melihat hasil akhir, tetapi juga proses tata kelola yang mendukungnya.
Menurut dia, pengukuran kinerja harus mencakup berbagai dimensi mulai dari perencanaan kebijakan, implementasi program, dukungan anggaran, hingga inovasi daerah di sektor ketenagakerjaan.
“Kami sangat mengapresiasi upaya-upaya yang telah dilakukan daerah dalam menurunkan angka pengangguran. Namun demikian, diperlukan instrumen pengukuran yang lebih komprehensif agar capaian tersebut dapat dinilai secara objektif dan berkelanjutan,” ujar Yusharto melalui Forum Diskusi Aktual bertajuk “Pengukuran dan Penilaian Kinerja Pemda dalam Penurunan Tingkat Pengangguran di Daerah” di Command Center BSKDN pada Selasa (17/3/2026) lewat keterangan tertulis.
Dia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menyusun metodologi pengukuran tersebut, termasuk dengan akademisi dan kementerian/lembaga terkait. Yusharto berharap dukungan berbagai pihak dalam merancang indikator serta ketersediaan data yang memadai dapat mendukung proses observasi di lapangan.
“Kami sangat terbuka untuk menyempurnakan indikator yang ada. Dukungan data yang kuat menjadi kunci agar hasil pengukuran bisa lebih komprehensif,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Yusharto menjelaskan, pengukuran kinerja tidak hanya dilihat dari sisi tingkat pengangguran terbuka, tetapi juga dari sisi peningkatan kesempatan kerja. “Kita mau lihat dari dua aspek baik terkait tingkat pengangguran terbuka, maupun dari aspek kesempatan kerja, ini penting agar kebijakan yang dihasilkan lebih tepat sasaran,"jelasnya.
Sementara itu, Peneliti Senior The SMERU Research Institute Asep Suryahadi menekankan pentingnya indikator yang mampu menjawab tantangan ketenagakerjaan secara lebih spesifik dan kontekstual.

2 hours ago
4













































