Kedai Literasi Nugeunah, Jalan Menuju Rasa Manusia

8 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, Sayup-sayup suara kokok ayam jantan membelah kesunyian pagi di Kampung Pamoyanan. Udara sejuk di lereng Cicalengka menyusup di antara celah dedaunan rimbun, menyebarkan aroma tanah basah dan samar wangi sangrai kopi yang baru saja diseduh.

Di sudut Desa Panenjoan, Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung ini, waktu seolah melambat, membiarkan jiwa-jiwa yang lelah beristirahat sejenak dalam pelukan frekuensi alam bawah sadar yang tenang.

Di sinilah Kedai Literasi Nugeunah berdiri sejak tahun 2023. Sebuah oase yang tersembunyi, yang barangkali belum banyak dijamah oleh riuh rendah pencari konten media sosial, namun menyimpan kedalaman spiritual dan intelektual yang luar biasa.

‘Nugeunah’, dalam bahasa Sunda berarti yang membuat nyaman dan tenang. Nyaman dan tenang berpikir dan memikirkan apapun, sebebas-bebasnya. Tempat ini adalah sebuah ruang kontemplasi, laboratorium kebudayaan kecil yang lahir dari rahim keresahan seorang manusia bernama Nundang Rundagi (65 tahun).

Warisan Darah Sang Maestro Ajip Rosidi

Nundang Rundagi bukanlah nama asing bagi mereka yang akrab dengan jagat seni rupa dan sastra di Tanah Air. Ia adalah putra keempat dari almarhum Ajip Rosidi, sastrawan legendaris dan maestro pelindung kebudayaan Sunda. Mewarisi darah intelektualitas dan kecintaan ayahnya pada kemanusiaan, Nundang memilih jalan sunyi untuk menegaskan eksistensinya.

Sekalipun Nundang memiliki jejaring perkawanan yang luas, mulai dari seniman-seniman besar, politisi berpengaruh, hingga pejabat negara di tingkat pusat, dia memilih mendirikan Nugeunah jauh dari gemerlap ibu kota. Ia membangunnya di Kampung Pamoyanan, sebuah kampung yang teduh, seolah ingin menarik garis batas yang tegas antara kebisingan pragmatis dan ketenangan esensial.

Melalui kedai ini, Nundang ingin menunjukkan bahwa seni, budaya, dan dirinya masih ada. Lalu membutuhkan saksi tentang keberadaannya. Jika orientasinya tersebut, maka jelas bahwa Kedai Literasi Nugeunah bukan untuk orientasi bisnis.

‘’Kami ada di sini, hidup, dan kami ingin eksistensi ini terus diceritakan oleh mereka yang datang dan singgah ke sini,’’ ujar Nundang dalam suatu obrolan santai dengan Tim Republika, ditemani kepulan uap kopi arabika Kolombia.

Bagi Nundang, Nugeunah adalah medium pembuktian diri bahwa warisan intelektual sang ayah tidak berhenti menjadi prasasti masa lalu, melainkan terus mengalir dan menjelma menjadi energi baru yang menggerakkan generasi hari ini.

Melangkah masuk ke dalam Kedai Literasi Nugeunah seperti memasuki mesin waktu sekaligus galeri seni yang intim. Mata pengunjung akan langsung tertambat pada goresan kuas yang magis. Bukan replika, melainkan lukisan asli karya pelukis ternama Indonesia, di antaranya Affandi dan Nashar, yang terpajang dengan anggun di sana.

Kehadiran karya-karya maestro ini memberikan getaran estetis, bersanding harmonis dengan rak-rak kayu yang memuat ratusan buku. Sebagian besar koleksi di sini adalah buku-buku sejarah dan budaya, dengan porsi istimewa untuk khazanah kebudayaan Sunda.

Mulai dari babad kuno, catatan antropologi, hingga karya-karya sastra Ajip Rosidi terpelihara dengan baik, siap untuk dibaca oleh siapa saja yang dahaga akan ilmu pengetahuan. Sembari menelusuri lembar demi lembar sejarah masa lalu, pengunjung bisa memesan secangkir kopi arabika atau robusta yang berasal dari berbagai perkebunan terbaik di Nusantara.

Dari keasaman lembut arabika pegunungan Jawa Barat hingga kepahitan tebal robusta Sumatera, semuanya tersaji untuk merayakan keanekaragaman rasa Tanah Air. Perpaduan antara aroma kopi, buku-buku tua, dan sapuan kuas Affandi menciptakan atmosfer kebatinan yang sangat kuat. Rimbun pepohonan di sekeliling kedai bertindak sebagai insulator alami, meredam bising dunia luar dan mengikat energi pengunjung dalam harmoni rasa yang mendalam.

Jawaban Atas Keresahan Zaman

Di tengah kekhawatiran global mengenai masa depan Generasi Z dan Generasi alpha yang kian teralienasi oleh layar gawai dan kedangkalan interaksi digital, Kedai Literasi Nugeunah hadir menawarkan antitesis. Tempat ini dirancang khusus untuk menyalakan kembali api kreativitas dan kepekaan sosial generasi muda.

Di bawah naungan rimbun pohon Pamoyanan, anak-anak muda berkumpul bukan untuk berselancar di dunia maya secara pasif, melainkan untuk menguji gagasan. Di sini, kegiatan mengalir tanpa sekat dogmatis, mulai dari diskusi buku, latihan menstimulus berpikir kritis (critical thinking), melukis bersama, membaca sajak dan puisi, hingga pementasan teater mini.

Nugeunah menjadi saksi bagaimana pikiran-pikiran tajam beradu, bukan untuk saling menjatuhkan, melainkan untuk saling mengisi. “”Tidak ada debat di sini, yang ada saling mengisi,’’ tutur Nundang.

Semua dialektika itu bermuara pada satu fondasi utama, rasa kemanusiaan yang penuh cinta. Di kedai ini juga, kecemasan bahwa generasi mendatang akan kehilangan empati dan akar budayanya perlahan luruh.

Nugeunah membuktikan bahwa ketika ruang yang tepat disediakan, ruang yang menghargai akal sehat sekaligus kepekaan rasa, generasi muda akan tumbuh menjadi pribadi yang berdaya, kritis, namun tetap membumi. Terlebih, jika didukung oleh pikiran dan paradigma generasi X yang diregenerasikan kepada generasi Z dan alpha.  

Matahari mulai condong ke barat di langit Cicalengka, membiaskan cahaya keemasan di antara celah dahan pohon. Kedai Literasi Nugeunah masih setia dalam kesunyiannya yang berharga. Belum banyak yang tahu tempat ini, dan barangkali, kesunyian itulah yang justru menjaga kemurnian energinya.

Nugeunah tidak butuh publisitas untuk membuktikan keberadaannya, yang diukur dari jumlah view. Seperti riwayat angin dan tanah, eksistensinya akan terus merambat lewat tutur kata dari mulut ke mulut, diceritakan kembali oleh ingatan-ingatan hangat mereka yang pernah duduk di sana, menyesap kopi, dan menemukan kembali jiwa mereka yang sempat hilang.

Di Kampung Pamoyanan, di bawah kesaksian semesta yang teduh, Kedai Literasi Nugeunah akan terus menjaga nyala api kebudayaan. Tetap hangat, penuh cinta, dan selalu terbuka bagi siapa saja yang ingin pulang pada kemanusiaannya.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research