Seorang anak tertidur di atas sepeda motor saat antre untuk naik ke kapal di Pelabuhan Gilimanuk (ilustrasi). KPAI mengingatkan bahwa persiapan anak masuk sekolah membutuhkan peran aktif orang dan institusi pendidikan.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Masa liburan panjang akan segera berakhir, menandakan tibanya waktu bagi anak-anak untuk bersiap kembali ke bangku sekolah maupun pesantren. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengingatkan bahwa persiapan anak masuk sekolah membutuhkan peran aktif orang dan institusi pendidikan.
Wakil Ketua KPAI Jasra Putra mengatakan keluarga yang masih berada di kampung halaman dan memanfaatkan waktu libur hingga akhir perlu merencanakan perjalanan arus balik secara matang. Pengaturan jadwal dan rute dinilai penting untuk menghindari kelelahan berlebih.
"Faktor kelelahan pascaperjalanan panjang tidak hanya berdampak pada fisik, tetapi juga secara signifikan memengaruhi kondisi psikologis dan mental anak saat dihadapkan kembali pada rutinitas belajar," kata Jasra dalam keterangan tertulis, dikutip pada Jumat (27/3/2026).
Dia menyebut penggunakan transportasi umum, seperti kereta api dan pesawat, cenderung memiliki risiko kemacetan yang lebih minim. Namun, bagi pengguna jalur darat, Jasra mengimbau agar masyarakat senantiasa memperhatikan saran petugas di lapangan serta mematuhi rambu-rambu lalu lintas demi arus balik yang aman, nyaman, dan lancar.
"Secara umum, KPAI melihat penyelenggaraan mudik tahun ini berjalan dengan baik. Tapi kami mengingatkan agar para petugas di lapangan tidak lengah. Potensi kepadatan arus balik lalu lintas di hari-hari terakhir libur tetap memerlukan rekayasa dan langkah antisipatif untuk mengurangi faktor kelelahan pada masyarakat, khususnya anak-anak," ujar Jasra.
Selain faktor perjalanan, ia mengingatkan pentingnya masa transisì belajar secara psikologis, bahwa anak-anak membutuhkan fase transisi dari suasana liburan menuju kesiapan kognitif untuk belajar. Kesadaran ini harus menjadi motivasi para pengajar sebelum mereka benar-benar siap memasuki rutinitas sekolah.
Karenanya, sekolah diharapkan tidak langsung membebani siswa dengan intensitas materi yang berat. Prasyarat kondisi yang kondusif harus dibangun melalui konektivitas emosional.
"Seperti metode belajar reflektif dan metode bercerita (storytelling) mengenai pengalaman mudik di kampung halaman dapat menjadi instrumen transisi yang efektif, sehingga anak-anak bisa masuk kembali ke dunia belajarnya tanpa tekanan," kata Jasra.

5 hours ago
2













































