
Oleh : Inisiator Hutan Wakaf Aceh, Azhar
REPUBLIKA.CO.ID,Di belantara Sumatera, kehidupan berlangsung dalam bisikan-bisikan sunyi yang tak selalu ditangkap oleh indera manusia. Pohon-pohon raksasa berdiri seperti penjaga tua, sementara embun pagi menggantung di antara pakis dan batang-batang lumut. Di sinilah sebuah kisah keseimbangan berlangsung, kisah yang menghubungkan dua makhluk liar yang tampak saling bertentangan tetapi sesungguhnya saling membutuhkan: rusa (Cervus unicolor dan harimau (Panthera tigris sumatrae).
Di mana ada rusa, di situlah biasanya ada harimau Sebuah hubungan sederhana, tetapi membawa makna ekologis yang sangat dalam. Rusa adalah sumber energi bagi harimau, dan harimau adalah pengatur populasi bagi rusa. Saling mengejar, saling menghindari, namun sesungguhnya saling bergantung dalam lingkaran kehidupan yang tidak pernah berhenti berputar.
Rusa hidup dengan ketakutan yang terus membayangi, terutama saat malam menyelimuti hutan dan suara langkah halus predator bergema di bawah gelapnya malam. Ketakutan ini bukan sekadar naluri, tetapi juga kunci bertahannya mereka di alam liar.
Harimau, di sisi lain, menggunakan setiap kekuatan dan kelicikan yang diwariskan oleh nenek moyangnya untuk memangsa rusa. Namun meski tampak seperti permainan hidup dan mati, hubungan antara keduanya bukan soal permusuhan, melainkan bagian dari sebuah tarian alam yang menjaga keseimbangan kehidupan.
Tanpa rusa, harimau kehilangan sumber makanan utamanya, dan tanpa harimau, populasi rusa bisa berkembang tanpa kendali hingga merusak vegetasi yang mereka makan. Dengan cara yang tidak pernah mereka sadari, kedua satwa ini memelihara keseimbangan hutan Sumatera.
Namun, kisah harmonis ini kini mulai retak. Di beberapa bagian pulau Sumatera, keberadaan rusa semakin jarang dijumpai. Rusa Sambar—salah satu spesies rusa terbesar di Asia Tenggara yang dulunya sering ditemui di hutan-hutan rapat, kini makin langka. Keheningan hutan yang dulu dipenuhi jejak kaki mereka kini berubah menjadi sunyi yang ganjil, seolah ada sesuatu yang hilang dari halaman besar kehidupan ini.
Dengan tubuhnya yang kuat dan bulu kecokelatan yang khas, rusa sambar seharusnya menjadi penghuni setia hutan hujan tropis Sumatera. Mereka adalah penjelajah rumput dan daun-daun muda, perambah tepi sungai, dan penyebar benih yang membantu menghidupkan kembali pohon-pohon di masa depan. Namun segala peran itu kini terancam hilang karena tekanan yang semakin besar terhadap habitat alaminya.

17 hours ago
3













































