REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tokoh internet dan pegiat budaya yang berbasis di Melbourne, Australia, @hirdaya.sharma meyakini bahwa Bhajan dapat menjadi sarana untuk menghubungkan generasi muda sekaligus mempererat hubungan budaya antara Indonesia, Nepal, dan Australia.
Berasal dari Kurgha, Phalebas, di Distrik Parbat, Nepal, Sharma mulai membuat konten digital pada tahun 2018. Ia kemudian pindah ke Australia pada 2019 sebagai mahasiswa internasional dan terus mengembangkan kehadiran digitalnya sambil menempuh pendidikan, bekerja, serta aktif dalam berbagai kegiatan komunitas.
Dalam sebuah wawancara, Sharma menjelaskan bahwa Bhajan merupakan bentuk musik devosi dalam tradisi Hindu. Bhajan umumnya dinyanyikan secara bersama-sama dan dapat diiringi oleh berbagai alat musik seperti harmonium, tabla, dholak, dan manjira.
"Bhajan lebih dari sekadar lagu keagamaan. Bhajan menyatukan orang-orang melalui musik, pengabdian, dan rasa kebersamaan," kata Sharma
Sharma meyakini bahwa Bhajan dapat diperkenalkan kepada generasi muda melalui aransemen yang lebih modern tanpa menghilangkan makna tradisionalnya. Menurutnya, penggunaan instrumen kontemporer, irama yang lebih segar, video digital, serta subtitel multibahasa dapat membantu musik devosi menjangkau audiens yang lebih luas.
"Memodernisasi Bhajan bukan berarti menghilangkan nilai spiritualnya. Pesannya tetap bisa mempertahankan tradisi, sementara penyajiannya menjadi lebih kreatif dan relevan dengan perkembangan zaman."
Ia juga memandang Indonesia sebagai bagian penting dari perjalanan budayanya. Karyanya sebelumnya telah mendapat liputan dari sejumlah media Indonesia melalui CEO Jaktive @jaktive.official yaitu Imanuel.
"Indonesia, Nepal, dan Australia memiliki latar budaya yang berbeda, tetapi musik memberikan ruang yang sama bagi kita semua. Melalui Bhajan, para seniman dan komunitas dari ketiga negara dapat saling belajar dan memperkaya satu sama lain," kata Sharma.
Sharma juga berpendapat bahwa para kreator konten memiliki tanggung jawab yang lebih besar daripada sekadar menghibur. Ia berharap platform digital dapat membantu generasi muda mengenal jati diri mereka, memahami tradisi, serta berpartisipasi dalam berbagai kegiatan budaya.
"Generasi muda tidak seharusnya dipaksa memilih antara tradisi dan kehidupan modern. Mereka dapat tetap menghormati akar budaya sambil memanfaatkan teknologi dan kreativitas untuk menjaga budaya tetap hidup," ujarnya.
Ke depan, bersama dengan Jaktive, ia berharap dapat mendukung penyelenggaraan berbagai acara budaya yang melibatkan musisi, kreator, dan talenta muda dari Indonesia, Nepal, serta Australia.
"Visi saya adalah membuat Bhajan lebih mudah diakses oleh generasi baru. Ketika orang-orang bernyanyi bersama, mereka dapat membangun komunitas yang lebih kuat sekaligus memperdalam pemahaman lintas budaya," katanya.

11 hours ago
8












































