REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Generasi muda dan kelompok usia produktif diminta lebih realistis dalam merencanakan kebebasan finansial karena kebutuhan dana pensiun bisa mencapai miliaran rupiah jika dihitung dengan pendekatan jangka panjang. Perencanaan sejak dini dinilai penting agar kenaikan biaya hidup dan inflasi tidak menggerus daya beli di masa depan.
Melalui edukasi keuangan di unggahan media sosialnya, Bursa Efek Indonesia (BEI) memperkenalkan konsep 4 persen Rule sebagai cara sederhana menghitung kebutuhan dana investasi saat pensiun. Secara garis besar, konsep ini digunakan untuk memperkirakan berapa besar dana yang harus disiapkan agar seseorang dapat hidup dari hasil investasinya tanpa mengurangi modal utama.
BEI menjelaskan, perhitungan tersebut didasarkan pada asumsi imbal hasil tahunan sekitar 4 persen. Dengan asumsi itu, kebutuhan dana pensiun dapat dihitung dari total pengeluaran tahunan yang diinginkan.
Sebagai ilustrasi, jika seseorang menargetkan pengeluaran sekitar Rp10 juta per bulan atau Rp120 juta per tahun, maka dana investasi yang dibutuhkan berada di kisaran Rp3 miliar. Angka ini diperoleh dari pembagian kebutuhan tahunan dengan tingkat imbal hasil 4 persen.
“Artinya, buat bisa financially free saat pensiun, kamu perlu portofolio sekitar Rp3 miliar,” tulis BEI di @indonesiastockexchange dikutip Sabtu (17/1/2026).
BEI juga menekankan, mengejar kebebasan finansial tidak cukup hanya mengandalkan tabungan. Kenaikan harga kebutuhan hidup membuat nilai uang berisiko tergerus jika hanya disimpan tanpa strategi jangka panjang. Dalam konteks ini, investasi dipandang sebagai salah satu cara untuk menjaga nilai aset.
Tekanan inflasi tersebut tercermin dalam data Badan Pusat Statistik (BPS). Pada Desember 2025, inflasi secara tahunan tercatat 2,92 persen dengan Indeks Harga Konsumen mencapai 109,92. Kenaikan harga paling besar terjadi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang meningkat 4,58 persen secara tahunan. Kondisi ini menunjukkan biaya hidup masih bergerak naik dan perlu diperhitungkan dalam perencanaan keuangan jangka panjang.
Sejalan dengan itu, BEI menilai instrumen investasi dengan potensi imbal hasil di atas inflasi kerap menjadi pilihan untuk jangka panjang. Berdasarkan data historis, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam 10 tahun terakhir mencatat rata-rata imbal hasil sekitar 6,92 persen per tahun, lebih tinggi dibanding laju inflasi.
Meski demikian, BEI mengingatkan, kebebasan finansial bukan ditentukan oleh besarnya modal awal. Disiplin dan konsistensi sejak usia produktif dinilai jauh lebih penting agar target keuangan dapat tercapai secara bertahap.
Dengan tekanan inflasi yang masih berlangsung dan kebutuhan hidup yang terus meningkat, perencanaan kebebasan finansial sejak usia muda menjadi semakin relevan agar masa pensiun tidak bergantung sepenuhnya pada penghasilan aktif.

2 hours ago
1














































