Gara-Gara Hoax Vaksin, Jutaan Anak RI Terancam Cacat Permanen

3 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Masih ada lebih dari 2 juta anak di Indonesia yang belum mendapatkan imunisasi dasar atau dikenal sebagai zero dose. Kondisi ini membuat Indonesia berada dalam posisi rawan kejadian luar biasa (KLB) dan dalam situasi tertentu, satu kasus saja bisa memicu penyebaran luas di komunitas yang tidak terlindungi.

Ketua Satgas Imunisasi IDAI, Hartono Gunardi menyebut penyakit seperti campak sebagai contoh nyata. Virus ini sangat menular, bahkan satu orang bisa menularkan hingga 12 sampai 18 orang lain.

"Komplikasinya pun tidak ringan, mulai dari radang paru-paru hingga gangguan otak yang bisa menyebabkan kecacatan permanen," ujarnya.

Menanggapi keraguan masyarakat soal perlu tidaknya vaksin ulang, Prof Hartono Gunardi menegaskan imunisasi tambahan tetap aman dilakukan, termasuk bagi mereka yang sudah pernah mendapat vaksin saat kecil. Ia bilang, tidak ada istilah "kelebihan vaksin" dalam konteks ini.

"Pemberian vaksin ulang justru membantu meningkatkan kembali kadar antibodi yang mungkin sudah menurun seiring waktu. Kalau ragu sudah pernah atau belum, lebih baik diimunisasi lagi. Itu justru memperkuat perlindungan tubuh," kata Prof Hartono.

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menyoroti maraknya misinformasi yang membuat masyarakat ragu terhadap vaksin. Ia mengungkapkan masih banyak pasien yang percaya vaksin hanyalah trik pemerintah atau tidak diperlukan karena tubuh sudah punya sistem imun alami.

"Padahal vaksin adalah investasi paling efektif untuk mencegah kematian di masa depan," tegasnya .

Dari sisi global, Sujala Pant dari United Nations Development Programme (UNDP) menyebut imunisasi sebagai salah satu intervensi kesehatan paling hemat biaya. Setiap tahun, kata ia, vaksinasi anak mampu mencegah sekitar 4 juta kematian di seluruh dunia.

"Bahkan, setiap 1 dolar yang diinvestasikan dalam imunisasi bisa menghasilkan manfaat hingga 52 dolar, terutama di negara berkembang," ujarnya.

Namun tantangan tidak hanya datang dari sisi akses, tetapi juga komunikasi. Kepala Desk Humaniora Harian Kompas, Evy Rachmawati menilai, imunisasi adalah isu multidimensi yang dipengaruhi faktor sosial, budaya, hingga peran keluarga.

Di era media sosial, kata ia, informasi keliru bahkan bisa lebih cepat menyebar dibanding fakta ilmiah. Hal ini lah yang membuat banyak orang tua menolak imunisasi karena kurangnya pemahaman atau terpapar hoaks.

"Dalam beberapa kasus, keputusan tidak hanya ditentukan oleh ibu, tetapi juga keluarga besar, termasuk suami dan orang tua lain, yang bisa memperkuat atau justru menghambat keputusan imunisasi," kata ia.

Aktris Maudy Koesnaedi membagikan pengalamannya sebagai ibu. Ia menyebut imunisasi sebagai bentuk cinta kepada anak, bukan sekadar mengikuti tren.

"Ini bukan cuma soal anak kita, tapi juga dampaknya ke orang lain dan masa depan generasi," katanya.

Ia juga mengingatkan pentingnya komunikasi yang jujur kepada anak, termasuk saat imunisasi. Ketimbang menutupi rasa sakit, anak perlu diberi pemahaman proses tersebut penting untuk kesehatan mereka.

Selain itu, perubahan iklim juga mulai memperumit situasi. Penyakit yang sebelumnya terbatas di wilayah tertentu kini mulai menyebar ke daerah baru yang bahkan, kasus demam berdarah kini muncul di wilayah yang sebelumnya tidak terdampak. Kondisi ini membuat imunisasi semakin penting sebagai perlindungan jangka panjang.

Kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan media menjadi kunci untuk meningkatkan kepercayaan publik. Media dinilai memiliki peran penting dalam menyederhanakan informasi medis yang kompleks agar mudah dipahami masyarakat.

"Di tengah banjir informasi yang tidak selalu akurat, keputusan untuk melengkapi imunisasi bisa menjadi langkah kecil yang berdampak besar bagi kesehatan keluarga dan masa depan bangsa," kata Wamenkes Dante.

(hsy/hsy)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research