Personel layanan darurat memeriksa kerusakan di lokasi sebuah bangunan yang terkena rudal Iran di Tel Aviv, Israel, 1 Maret 2026.
REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN— Iran menegaskan penolakannya yang tegas terhadap segala pembicaraan mengenai gencatan senjata dalam konfrontasi saat ini dengan Amerika Serikat dan Israel.
Ini dengan pertimbangan bahwa setiap upaya meredakan ketegangan saat ini dapat membuka jalan bagi serangan-serangan lebih lanjut terhadap wilayahnya di masa depan.
Dalam konteks ini, kepada Aljazeera, secara khusus, dikutip Senin (16/3/2026), Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan negaranya tidak meminta gencatan senjata apa pun dan tidak membahas penghentian perang.
Dia menegaskan posisi tersebut disepakati bersama antara kepemimpinan politik dan militer, dan didasarkan pada pertimbangan strategis yang jelas.
Manajer Kantor Aljazeera di Teheran, Nuruddin Al-Daghir, mengutip sumber-sumber Iran yang mengetahui masalah ini bahwa alasan utama penolakan tersebut adalah keyakinan bahwa gencatan senjata saat ini dapat melemahkan kemampuan Iran untuk melakukan pencegahan di masa depan.
Pimpinan militer Iran berpendapat bahwa meningkatkan biaya perang bagi Israel dan Amerika Serikat—menurut sumber-sumber tersebut—adalah cara untuk memastikan serangan tidak terulang dan bahwa penghentian sementara apa pun dapat memberi ruang bagi lawan untuk menekan secara politik dan ekonomi.
Selain itu, sumber-sumber Iran berpendapat bahwa pembicaraan tentang gencatan senjata dimanfaatkan oleh media Amerika untuk tujuan politik dan ekonomi, terutama untuk mempengaruhi pasar energi.
Hal ini karena Iran berusaha melalui Selat Hormuz untuk menciptakan ketegangan yang menaikkan harga minyak ke level rekor, yang mungkin mendorong Washington dan Israel untuk menerima penghentian perang dengan syarat tertentu atau untuk mencapai semacam keseimbangan dalam negosiasi.

2 hours ago
1














































