REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta Achmad Nur Hidayat mengkritisi hasil survei konsumen Bank Indonesia (BI) dalam beberapa bulan terakhir yang menunjukkan masyarakat Indonesia cenderung menahan konsumsi dan memilih menebalkan tabungan. Hal itu dinilai menunjukkan adanya dualisme: masyarakat menegah ke atas lebih banyak menumpuk uang, sedangkan masyarakat menengah cenderung turun kelas menjadi kelompok rentan.
“Pertanyaan mengapa orang Indonesia tiba-tiba menahan konsumsi dan memilih menebalkan tabungan, sederhana, tetapi jawabanya tidak bisa berhenti pada satu kalimat ‘masyarakat sedang berhati-hati’. Sebab yang kita hadapi bukan satu perilaku masyarakat, melainkan dua wajah Indonesia yang bergerak berlawanan arah,” kata Achmad dalam keterangannya, dikutip Sabtu (17/1/2026).
Survei Konsumen BI untuk Desember 2025 mencatat, proporsi pendapatan untuk konsumsi berada di level 74,3 persen, terendah sejak Mei 2025 (level sama: 74,3) dan hanya lebih tinggi setelah level 73,6 pada Januari 2025. Sementara proporsi tabungan naik menjadi 14,9 persen, tertinggi sejak Mei 2025 (level sama: 14,9 persen), dan hanya lebih rendah setelah level 15,3 persen pada Januari 2025. Pada saat yang sama, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) tetap kuat di 123,5.
“Sepintas ini kabar baik: masyarakat optimistis, konsumsi sedikit menurun, tabungan meningkat,” ungkap Achmad.
“Namun, masalahnya begini: di satu sisi, kelompok menengah ke atas memang terlihat membaik, mereka menumpuk tabungan, memperkuat dana darurat, dan menunda belanja yang tidak wajib. Di sisi lain, ada kelompok menengah yang sedang turun kelas. Daya belinya menurun, tabungannya tergerus, dan perilakunya makin mirip masyarakat bawah, yakni mengutamakan bertahan hidup dan pada titik tertentu membutuhkan bantuan pemerintah,” terangnya.
Menurut pandangan Achmad, masyarakat menengah ke atas cenderung menahan konsumsi karena pilihan, bukanlah keterpaksaan. Sementara itu, masyarakat menengah yang turun kelas menahan konsumsi karena terdesak, yang mana tabungan bukan hanya ditambah melainkan dipakai untuk menambal defisit harian.
Kondisi Kritis Kelas Menengah Turun Kelas
Achmad menilai, kondisi kelas menengah yang turun kelas merupakan situasi yang kritis. Sebab, kelas menengah adalah mesin konsumsi, sekaligus bantalan stabilitas sosial.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan, kelas menengah dan kelompok yang menuju kelas menengah mencakup 66,35 persen penduduk pada 2024, dan porsi konsumsi pengeluaran dari dua kelompok tersebut mencapai 81,49 persen dari total konsumsi masyarakat.
“Artinya, kalau segmen ini goyah, ekonomi nasional ikut limbung,” tegasnya.
Ia menyebut, dengan adanya kondisi tersebut, perlu sikap jujur untuk membaca sinyal. Berbagai laporan turut menyoroti menyusutnya kelas menengah.
Reuters mencatat porsi kelas menengah turun dari 21,5 persen pada 2019 menjadi 17,1 persen pada 2024. Angka tersebut bukan sekadar statistik demografi. Itu mencerminkan perlunya evaluasi tentang mengapa banyak bisnis merasa penjualan tidak lagi segarang dulu, mengapa konsumen melakukan trade down, dan mengapa sektor barang tahan lama mudah tersendat.
“Kelompok menengah yang turun kelas juga sering terjebak di area abu abu kebijakan. Mereka tidak miskin sehingga tidak selalu mendapat bantuan, tetapi tidak lagi kuat untuk menjaga konsumsi,” lanjutnya.
Kelompok tersebut cenderung mulai menunda perawatan kesehatan, mengurangi kualitas pangan, menahan biaya pendidikan tambahan, dan menekan belanja produktif lain yang seharusnya meningkatkan mobilitas sosial. Menurut Achmad, dalam jangka panjang, hal itu bukan sekedar isu konsumsi, melainkan menjadi isu kualitas manusia.

3 hours ago
2












































