REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pimpinan Komisi VI DPR RI Nurdin Halid mengapresiasi kinerja korporasi empat entitas tambang yang tergabung dalam holding MIND ID sepanjang 2025. Penilaian itu disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VI DPR RI bersama PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), PT Bukit Asam Tbk, PT Timah Tbk, dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) di Kompleks Parlemen, Senayan, Selasa (31/3/2026).
Menurut Nurdin, capaian keempat entitas tersebut mencerminkan daya tahan korporasi di tengah tekanan harga komoditas global. Ia menilai performa itu penting karena sektor pertambangan masih menjadi salah satu penopang utama hilirisasi mineral dan transformasi ekonomi berbasis nilai tambah.
“Kami memberikan apresiasi atas capaian kinerja korporasi tahun 2025 dari keempat entitas tersebut yang tetap mampu menjaga kinerja positif meskipun menghadapi tekanan harga komoditas global,” kata legislator Partai Golkar itu di Jakarta, dikutip Rabu (1/4/2026).
Nurdin menjelaskan, keempat perusahaan itu memiliki posisi strategis dalam membangun rantai pasok industri nasional dari hulu hingga hilir. Peran tersebut penting untuk menopang agenda industrialisasi berbasis sumber daya alam yang terus didorong pemerintah.
Komisi VI DPR RI mengingatkan penguatan fundamental industri perlu terus dijaga. Sebab, kinerja sektor tambang saat ini masih banyak ditopang bisnis berbasis komoditas, sedangkan kontribusi sektor industri hilir terhadap profitabilitas belum sepenuhnya optimal.
“Percepatan pembangunan smelter dan refinery perlu diimbangi dengan kesiapan cadangan, integrasi hulu-hilir, serta ketahanan keuangan,” ujar Nurdin.
Dari sisi kinerja korporasi, ANTAM menjadi salah satu entitas yang mencatat penguatan signifikan. Direktur Utama PT Aneka Tambang Tbk, Untung Budiharto, memaparkan pendapatan perusahaan hingga kuartal III 2025 mencapai Rp72 triliun atau tumbuh 67 persen secara tahunan.
“Pendapatan mencapai Rp72 triliun atau naik 67 persen secara tahunan, didorong oleh peningkatan volume bijih nikel dan harga emas yang solid,” jelas Untung.
Kinerja itu diikuti lonjakan laba bersih ANTAM dari Rp2,2 triliun menjadi Rp6,6 triliun. Dari sisi operasional, produksi bijih nikel tercatat mencapai 12,6 juta wet metric ton (WMT), sedangkan produksi alumina menembus 134 ribu ton atau tumbuh 27 persen.
Produksi bauksit ANTAM juga meningkat menjadi 2,3 juta WMT. Perseroan menargetkan kenaikan produksi lebih lanjut pada 2026 seiring penguatan agenda hilirisasi yang terus berjalan.
PT Bukit Asam Tbk juga melaporkan kinerja yang tetap positif meski harga batu bara mulai mengalami normalisasi. Direktur Utama PTBA Arsal Ismail mengatakan perusahaan mengandalkan strategi pemasaran untuk menjaga pendapatan di tengah pelemahan harga.
“Perusahaan menerapkan strategi pemasaran yang tepat sehingga tetap mencatat pendapatan positif di tengah pelemahan harga,” kata Arsal.
Pendapatan PTBA pada kuartal III 2025 tercatat meningkat secara tahunan menjadi Rp31,33 triliun, ditopang peningkatan volume penjualan terutama pada segmen high-calorie value (HCV). Di sisi lain, harga jual rata-rata PTBA turun sekitar 6 persen secara tahunan. Penurunan itu mengikuti koreksi indeks harga batu bara global seperti ICI-3 dan Harga Patokan Batubara (HPB).
Kinerja positif juga dibukukan PT Indonesia Asahan Aluminium. Direktur Utama Inalum, Melati Sarnita, menyampaikan tren keuangan konsolidasi perusahaan menunjukkan penguatan sepanjang 2025.
“Laba bersih tahun 2025 mencapai 142,8 juta dolar AS, meningkat 15 persen dibandingkan tahun sebelumnya, didorong oleh peningkatan kinerja produksi dan penjualan serta efisiensi biaya,” ujar Melati.
Pendapatan Inalum tercatat naik menjadi 785,7 juta dolar AS. EBITDA perseroan juga meningkat menjadi 208,7 juta dolar AS, sedangkan net profit margin naik dari 17,3 persen menjadi 18,2 persen.
Dari sisi operasional, produksi aluminium mencapai 280 ribu ton atau lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan itu didorong implementasi proyek pot upgrading yang meningkatkan kapasitas sekaligus efisiensi teknologi smelter.
PT Timah Tbk juga melaporkan ketahanan operasional di tengah dinamika industri global. Produksi bijih timah perusahaan pada 2025 mencapai 18.635 ton, sedangkan produksi logam timah sebesar 17.815 metrik ton dan penjualan logam timah tercatat 16.634 metrik ton.
"Kinerja ini menunjukkan ketahanan operasional perusahaan di tengah dinamika industri global, sekaligus hasil dari perbaikan tata kelola dan efisiensi,” ujar Direktur Utama PT Timah Tbk, Restu Wibowo.
Komisi VI DPR RI menekankan pentingnya penataan roadmap hilirisasi yang berbasis cadangan dan kebutuhan pasar. DPR mendorong penguatan integrasi antarentitas dalam holding MIND ID agar ekspansi industri hilir berjalan lebih terukur.
Komisi VI juga mengingatkan perlunya kehati-hatian dalam pengambilan keputusan investasi, termasuk membuka ruang pembahasan atas wacana moratorium pembangunan smelter alumina dan aluminium. Langkah itu dinilai penting agar arah hilirisasi tetap selektif, berkelanjutan, dan memberi nilai tambah lebih besar bagi perekonomian nasional.

4 hours ago
1










































