REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Transformasi digital yang dilakukan Kementerian Agama (Kemenag) melalui layanan pengembangan kompetensi berbasis daring terbukti memberikan dampak signifikan, baik dari sisi efisiensi anggaran maupun pelestarian lingkungan. Sepanjang 2025, Kemenag berhasil menghemat anggaran hingga Rp 8,6 triliun sekaligus menyelamatkan sekitar 9.576 pohon dari penebangan.
Capaian tersebut disampaikan Kepala Pusat Pengembangan Kompetensi Sumber Daya Manusia (Pusbangkom SDM) Kemenag, Mastuki, di Ciputat, Tangerang Selatan, Rabu (15/1/2026). Menurutnya, efisiensi ini merupakan hasil pemanfaatan platform pembelajaran digital "MOOC Pintar" dalam pelaksanaan pelatihan dan pengembangan kompetensi aparatur serta masyarakat.
“Pengembangan kompetensi melalui MOOC Pintar ini sangat efisien, nilainya mencapai Rp8,6 triliun,” ujar Mastuki dalam siaran pers yang diterima pada Rabu (21/1/2026).
Ia menjelaskan, sepanjang 2025 tercatat sebanyak 1.532.242 peserta mengikuti program pengembangan kompetensi Kemenag. Jika pelatihan tersebut dilakukan dengan pola tatap muka konvensional, dibutuhkan sekitar 51.074 kelas. Dengan asumsi biaya rata-rata Rp 170 juta per kelas, total anggaran yang harus disiapkan mencapai Rp 8,682 triliun.
“Pengambangan kompetensi dengan pola konvensional berbiaya sangat mahal dan membutuhkan effort yang sangat besar. Tapi dengan memanfaatkan kemajuan teknologi, semua bisa dilakukan dengan biaya yang sangat murah,” katanya.
Selain efisiensi anggaran, Mastuki menambahkan, digitalisasi pelatihan juga membawa manfaat ekologis. Sistem pembelajaran daring yang diterapkan bersifat paperless, sehingga menekan penggunaan kertas secara signifikan. Ia merinci, satu kelas tatap muka rata-rata membutuhkan tiga rim kertas. Dengan total 51.074 kelas, diperlukan sekitar 153.222 rim kertas.
“Jika satu batang pohon menghasilkan rata-rata 16 rim kertas, maka kebutuhan tersebut setara dengan 9.576 batang pohon. Dengan konsep paperless, pohon sebanyak itu tidak perlu ditebang,” jelasnya.
Mastuki menegaskan, capaian ini sejalan dengan komitmen Kemenag dalam mendukung pembangunan berkelanjutan dan penguatan ekoteologi, yakni kesadaran keberagamaan yang berpihak pada kelestarian lingkungan. Menurutnya, transformasi digital bukan sekadar soal efisiensi kerja, tetapi juga wujud tanggung jawab moral dan ekologis institusi negara.
“Transformasi digital tidak hanya soal efektivitas dan efisiensi, tetapi juga tanggung jawab moral dan ekologis,” ucapnya.
Lebih jauh, layanan digital dinilai mampu memperluas akses pengembangan kompetensi secara lebih inklusif dan merata. Aparatur dan masyarakat dari berbagai daerah, termasuk wilayah terpencil, kini dapat mengakses sumber belajar berkualitas tanpa terkendala jarak dan waktu.
Ke depan, Pusbangkom SDM Kemenag berkomitmen terus menyempurnakan layanan digital, tidak hanya melalui pelatihan, tetapi juga pengembangan klinik pengetahuan, knowledge sharing, berbagi praktik baik, serta penguatan ekosistem pembelajaran berkelanjutan.
“Digitalisasi adalah ikhtiar strategis untuk membangun SDM yang unggul, berakhlak, dan responsif terhadap tantangan zaman,” kata Mastuki.

1 week ago
5














































