REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Institute for Development of Economics and Finance (Indef) kelompok masyarakat menengah ke bawah menjadi pihak yang paling rentan terdampak dari tekanan tersebut. Jika daya beli kelompok ini melemah, maka konsumsi rumah tangga yang merupakan motor utama pertumbuhan ekonomi nasional juga akan ikut tertekan.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M Rizal Taufikurahman menilai intervensi pemerintah diperlukan agar guncangan eksternal tidak langsung menghantam daya beli masyarakat.
“Kebutuhan kebijakan tentu menuntut daya beli atau juga consumption rumah tangga ini diintervensi,” ujarnya dalam diskusi daring dipantau dari Jakarta, Sabtu (14/3/2026).
Menurutnya, daya beli masyarakat harus menjadi prioritas utama untuk dijaga di tengah meningkatnya tekanan ekonomi global yang dipicu gejolak geopolitik dan kenaikan harga energi. Stabilitas daya beli masyarakat menjadi kunci, karena struktur ekonomi Indonesia masih sangat bergantung pada konsumsi rumah tangga.
“Karena struktur ekonomi kita sangat tergantung kepada konsumsi, 53 persen konsumsi, mau tidak mau harus dijaga dan harus diselamatkan,” ujarnya.
Ia menjelaskan dinamika ekonomi global saat ini dipengaruhi kondisi Amerika Serikat yang tengah menghadapi tekanan fiskal dan perdagangan. Defisit anggaran negara tersebut mencapai sekitar 6,5 persen, sementara total utang telah menembus sekitar 127 triliun dolar AS.
Selain itu, defisit perdagangan yang besar juga mendorong berbagai kebijakan ekonomi ekspansif dari Amerika Serikat untuk menjaga stabilitas ekonominya.
“Sehingga kemudian membuat sebuah kebijakan ATE, ART atau hambatan dagang, kemudian kebijakan ekspansional seperti sekarang atau openship, di mana semuanya untuk menjaga stabilitas ekonominya Amerika,” kata Rizal.
Menurut dia, berbagai kebijakan tersebut turut memengaruhi perekonomian global dan berdampak terhadap negara lain, termasuk Indonesia. Jika tidak diantisipasi, kondisi tersebut dapat memberikan tekanan serius terhadap stabilitas ekonomi domestik.
Salah satu risiko yang perlu diwaspadai adalah lonjakan harga minyak dunia akibat eskalasi geopolitik, karena saat ini harga minyak jenis Brent telah mendekati bahkan berpotensi melampaui 100 dolar AS per barel.
Jika tren tersebut berlanjut, kata dia, maka tekanan inflasi energi akan meningkat dan berpotensi memperbesar defisit fiskal negara-negara importir energi seperti Indonesia. Selain itu, volatilitas nilai tukar dan pasar keuangan global juga menurut dia dapat meningkat sehingga memperberat kondisi ekonomi dalam negeri.
sumber : ANTARA

3 hours ago
3















































