Dari Keringat, Perjuangan, hingga Gelar Magister: Catatan Perjalanan Mengangkat Derajat Keluarga

2 hours ago 1

Image Siti Maghfiroh

UMKM | 2026-08-30 14:30:02

Oleh Siti Maghfiroh (Sima), S.E., M.M.

Nama saya Siti Maghfiroh, namun orang-orang lebih akrab memanggil saya Sima. Bukan tanpa alasan nama panggilan itu melekat erat; di dunia nyata, nama "Siti Maghfiroh" sudah teramat banyak jumlahnya. Bayangkan saja, saat duduk di bangku SMK, ada lima orang siswi bernama Siti di kelas yang sama, bahkan dua di antaranya memiliki nama yang persis sama!

Cerita serupa terulang ketika saya bekerja di TK dan tempat les—pemiliknya pun bernama Siti Maghfiroh. Begitu banyaknya orang yang menggunakan nama tersebut membuat jejak digital dan pencarian atas nama asli saya menjadi cukup sulit ditemukan. Dari situlah nama Sima lahir dan menjadi identitas perjuangan saya.

Rutinitas Cek Stok Produk

Perjalanan hidup dan pendidikan saya tidak pernah berjalan di atas jalan yang mulus atau fasilitas yang berkelimpahan. Tumbuh sebagai anak perempuan pertama dari delapan bersaudara di tengah keluarga yang harus bekerja setiap hari demi melangsungkan hidup, membentuk saya menjadi sosok yang akrab dengan tanggung jawab sejak dini. Di setiap jengkal proses yang melelahkan itu, tersimpan satu tekad yang tidak pernah padam: bertahan hidup, menyelesaikan pendidikan setinggi-tingginya, dan mengangkat derajat keluarga.

Fase menempuh gelar Sarjana Manajemen (S1) di Universitas Pamulang (UNPAM) adalah medan perjuangan yang paling menempa fisik dan mental saya. Pada masa itu, tidak ada kata lelah yang boleh menghentikan langkah. Saya memikul peran sebagai tulang punggung keluarga—berjuang membiayai diri sendiri, membantu orang tua, dan membiayai sekolah adik-adik. Berbagai macam pekerjaan halal saya lakoni tanpa rasa malu.

Perjuangan Masa S1: Menembus Batas Fisik dan Mental

Hari-hari saya diisi dengan melakoni beragam profesi demi menyambung hidup dan membiayai studi:

  • Menjadi buruh cuci gosok pakaian.
  • Menjadi SPG hingga dipercaya mengemban posisi sebagai leader di sebuah brand fashion.
  • Menjadi guru les privat, guru TK, dan guru Toddler.
  • Menjadi admin toko bunga, penjaga angkringan, hingga pengemudi ojek online.
  • Menjadi guru les privat untuk berbagai jenjang, mulai dari TK hingga SMA.

Menjajakan Makanan Keliling Kampus dan Rutin Membuka PO WhatsApp

Jiwa wirausaha saya terus berdenyut di sela-sela jadwal kuliah yang padat. Selain berjualan online, berjualan tanaman hias, dan secara rutin menyebar chat WhatsApp untuk membuka daftar PO (Pre-Order), saya juga menjajakan makanan kampung buatan sendiri dengan berkeliling dari kelas ke kelas di kampus UNPAM Pusat—menyusuri tangga demi tangga dengan gigih dari lantai 1 hingga lantai 6.

LEBSTORE UNPAM PUSAT

Namun, perjuangan besar seringkali diuji dengan titik nadir yang paling berat. Di tengah padatnya aktivitas S1, saya jatuh sakit. Dengan berat hati dan terpaksa, saya harus merelakan dengan menjual motor kesayangan demi biaya wisuda karena kondisi kesehatan yang memaksa saya untuk resign dari pekerjaan tetap. Padahal, saat itu atasan saya sudah berbaik hati memberikan kelonggaran agar saya cukup beristirahat saja tanpa perlu berhenti bekerja. Namun, demi fokus pada proses penyembuhan sekaligus menuntaskan kuliah S1, saya memilih jalan bertahan dengan kembali melakoni kerja serabutan.

Dari hasil kerja keras tersebut, saya membiayai kuliah diri sendiri serta mendukung dua orang adik saya. Meskipun dalam perjalanannya adik laki-laki saya belum dapat menuntaskan kuliahnya dan hanya sampai semester 4, saya bersyukur akhirnya saya dan adik perempuan sayalah yang berhasil menyelesaikan pendidikan S1. Tanggung jawab ini juga saya jalankan bersama orang tua di kampung; uang yang rutin saya kirimkan diputar bersama penghasilan mereka di kampung guna membiayai sekolah adik-adik lainnya dari jenjang TK hingga SMA.

Puncak rasa haru yang luar biasa menyelimuti hati saya ketika lembaran perjuangan itu berbuah manis pada tanggal 14 Agustus 2023, saat saya resmi menuntaskan pendidikan Sarjana Manajemen (S1) di Universitas Pamulang. Air mata haru tumpah, mengingat keringat, air mata, dan peluh yang menyertai setiap langkah menuju toga kelulusan tersebut.

Melangkah ke Babak Baru: Menjadi Pendidik dan Mengembangkan Wirausaha

Setelah menyelesaikan S1, babak baru terbuka lebar. Saya mengabdikan diri sebagai guru di tingkat SMP, membagikan ilmu pengetahuan sosial (IPS) sembari menanamkan nilai-nilai karakter kepada anak didik.

Pecinta Morsit Meningkat

Di saat yang sama, dunia wirausaha yang saya rintis melalui Aneka Jaya Baru terus berkembang. Produk camilan khas buatan saya seperti Morsit, Makaroni, dan Kripik Sima berhasil lolos kurasi tahap 2 dan menembus gerai Lebstore UNPAM Pusat, berlanjut ke cabang UNPAM Viktor, hingga kemudian merambah ke Lebstore SMK UNPAM. Selain itu, lini usaha kreatif lainnya seperti Bukuet Sima, Hantaran Sima, Madu Hutan Asli Sima, dan Bouquet Sima turut menjadi bagian dari perjalanan kemandirian saya.

Penambahan Stok Morsit

"Bagi saya dan adik-adikku kelak, saya sangat berharap kalian bisa bersungguh-sungguh menggapai impian. Memang, pendidikan bukan satu-satunya jaminan untuk sukses, tetapi pendidikan mampu membuka pandangan hidup, memberikan ketenangan, dan perlu diingat—suatu waktu, ilmu yang dituntut pasti akan ada manfaatnya, cepat atau lambat."

Menantang Batas di Jenjang Magister: Ujian, Ketulusan Dosen, dan Arti Sebuah Proses

Semangat belajar yang menyala membuat saya tidak berhenti di jenjang sarjana. Saya memutuskan untuk kembali menantang diri sendiri dengan mengambil program pascasarjana Magister Manajemen (S2) di Universitas Pamulang. Namun, perjalanan studi lanjut ini ternyata kembali diuji dengan cobaan fisik dan mental yang tidak mudah.

Memasuki semester 2, saya kembali jatuh sakit karena dehidrasi parah. Saat itu, rasa putus asa sempat menghinggapi dan minat saya untuk melanjutkan pendidikan sempat runtuh. Namun, berkat dukungan moral yang luar biasa dari keluarga, teman-teman terdekat, serta bapak Dosen yang senantiasa memotivasi, saya bangkit kembali. Bahkan dalam kondisi tangan masih diinfus, saya tetap berusaha mengejar dan menyelesaikan tugas-tugas kuliah yang tertinggal.

Belum cukup sampai di situ, ujian mental kembali datang di semester 3. Proposal tesis saya sempat ditolak berkali-kali, membuat saya merasa berada di titik terendah dan ingin menyerah. Alhamdulillah, di tengah badai keraguan itu, saya dipertemukan dengan beberapa dosen yang sangat baik, bijak, dan suportif, sehingga semangat saya untuk menuntaskan studi S2 kembali menyala terang.

Seluruh rangkaian proses panjang yang telah dilalui mengajarkan saya satu hal berharga: proses adalah hal yang tak ternilai oleh materi. Apa yang dirasa, dijalani, dan diusahakan bukanlah sekadar deretan kata, melainkan sebuah kenyataan hidup yang membentuk ketahanan mental.

Alhamdulillah bisa tuntas S2 penuh haru

Tepat pada tanggal 31 Juli 2026, saya akhirnya berhasil berdiri di podium akademik untuk menuntaskan studi Magister Manajemen (S2) di Universitas Pamulang. Air mata kelegaan tumpah, dan senyum penuh haru merekah di wajah saya. Perjalanan dari seorang anak perempuan pertama yang menjadi tulang punggung keluarga, buruh cuci, pedagang keliling di tangga kampus UNPAM, rajin mengetuk pelanggan lewat chat WA, berjuang melawan sakit di ruang kuliah, hingga kini resmi menjadi seorang magister, guru, dan pengusaha membuktikan

satu hal: kerja keras tidak pernah mengkhianati hasil. Siapa pun, dari latar belakang sederhana mana pun, berhak untuk bermimpi tinggi dan memperjuangkannya dengan penuh kehormatan.

#sitimaghfiroh #sima #morsit #anekajayabaru #Makaroni #kripiksima #buketsima #hantaransima #maduhutanaslisima #bouquetsima #bugurusima

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research