Danantara Dinilai Bisa Jadi Motor Pembiayaan Industri Halal Nasional

9 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Para ekonom mendorong Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) untuk melirik potensi besar perkembangan industri halal dan keuangan syariah di Indonesia. Danantara dinilai dapat menjadi salah satu sumber pembiayaan yang mampu mendorong pertumbuhan industri halal agar lebih menggeliat.

Peneliti Center for Sharia Economic Development Institute for Development of Economics and Finance (CSED Indef), Handi Risza Idris, mengatakan industri halal telah berkembang menjadi tren atau gaya hidup di berbagai negara, baik muslim maupun nonmuslim. Dalam beberapa tahun terakhir, muncul Global Islamic Economy Indicator (GIEI) sebagai ukuran perkembangan ekonomi dan keuangan syariah dunia.

Handi menilai pada 2024–2025 terdapat tren masyarakat muslim global yang mengalokasikan pengeluaran untuk produk halal, seperti makanan dan minuman halal, kosmetik halal, farmasi halal, pariwisata ramah muslim, media dan rekreasi islami, serta keuangan syariah. Ia menyebut industri halal memiliki potensi pasar yang besar, sementara industri keuangan syariah global masih mendominasi, terutama pada perbankan syariah, sukuk, Islamic fund, dan takaful.

Menurut data GIEI, ekonomi syariah global tumbuh konsisten selama 10 tahun terakhir. Pengeluaran konsumen muslim terbesar berasal dari makanan halal sebesar 1,403 triliun dolar AS atau 61 persen dari total transaksi muslim. Aset keuangan syariah global tercatat 4,5 miliar dolar AS atau tumbuh 11 persen pada 2022.

“Seharusnya ini bisa menjadi satu dasar atau baseline bagi kita untuk mengembangkan industri halal dan keuangan syariah di Indonesia. Kita berharap Danantara sebagai lembaga yang dibentuk pemerintah dapat melihat potensi besar industri halal dan keuangan syariah global ini,” kata Handi dalam diskusi publik Indef bertajuk ‘Menakar Potensi Danantara sebagai Katalis Pertumbuhan Ekonomi Syariah Indonesia’ yang digelar secara daring, Ahad (30/11/2025).

Handi menjelaskan ekonomi dan industri syariah halal di Indonesia berkontribusi besar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Menurut data yang dihimpun, kontribusi usaha syariah dan pembiayaan syariah menopang 46,72 persen atau sekitar Rp 9.826 triliun terhadap PDB nasional pada 2024. Sektor unggulan Halal Value Chain (HVC) pada 2024 menopang lebih dari 25 persen ekonomi nasional, terutama dari pertanian, makanan-minuman halal, pariwisata ramah muslim, dan fesyen muslim.

Ia menambahkan pemerintah melalui Undang-Undang Jaminan Produk Halal kini memastikan seluruh produk yang masuk dan dijual di Indonesia memiliki sertifikasi halal. Kebijakan tersebut mendorong pertumbuhan industri halal dan menjadikan Indonesia sebagai pasar besar yang diminati.

Jumlah sertifikasi halal terus meningkat. Hingga Oktober 2024 tercatat 5,38 juta sertifikasi halal telah diterbitkan. Angka ini diperkirakan meningkat seiring hadirnya Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) dengan target 10 juta produk bersertifikasi halal.

Tren ekspor produk halal nasional juga mencatat pertumbuhan positif, terutama pada industri makanan-minuman halal. Realisasi ekspor dan impor makanan-minuman halal pada 2024 mencapai 44,6 miliar dolar AS dan 26,49 miliar dolar AS, dengan net export sebesar 18,14 miliar dolar AS.

Handi menegaskan bahwa membangun ekosistem halal yang kuat merupakan langkah strategis yang harus ditempuh bersama, dan ia berharap Danantara dapat memberikan dukungan optimal.

“Ujungnya bagaimana kita bisa membuat satu ekosistem halal. Danantara sebagai salah satu instrumen pembiayaan, apalagi semua BUMN hari ini sudah berada di bawah Danantara, ini bisa memainkan peran strategis,” ujarnya.

Handi menyebut ada tiga strategi daya saing global yang dapat dikembangkan Indonesia, salah satunya dengan dukungan Danantara. Pertama, pemasaran dan promosi internasional, termasuk pameran global, kerja sama bilateral, platform digital, serta penguatan branding halal Indonesia. Kedua, perluasan akses pembiayaan syariah melalui perbankan syariah, pasar modal syariah, dan fintech syariah. Ketiga, kerja sama internasional untuk memperluas pasar ekspor produk halal dan harmonisasi standar halal agar mudah diterima pasar global.

“Kalau seandainya kita bisa memanfaatkan potensi-potensi ini, tentu akan menjadi salah satu sumber penerimaan negara yang cukup besar,” tegasnya.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research