Catatan Tragedi Ketewel: Menggugat Nyali dan Profesionalisme Polda Bali

3 hours ago 4

Wisatawan mengunjungi Desa Wisata Penglipuran di Bangli, Bali, Rabu (23/4/2025). Pengelola desa wisata yang dikunjungi hingga sebanyak 1.023.143 wisatawan pada tahun 2024 lalu itu berkomitmen untuk terus memperkuat kawasan sebagai destinasi wisata hijau yang mendukung pelestarian lingkungan dan budaya Bali.

Oleh : Dr I Wayan Sudirta, SH, MH,Wakil Ketua MKD, anggota Komisi III DPR RI Fraksi PDI-Perjuangan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA- Kasus hilangnya WNA Ukraina, Ihor Komarav (28), yang berakhir pada penemuan potongan jasad di Muara Sungai Wos Teben, Ketewel, bukan sekadar tindak pidana pembunuhan biasa.

Ini adalah prahara kemanusiaan dan ancaman nyata terhadap kedaulatan keamanan di Pulau Dewata.

Dengan tuntutan tebusan fantastis sebesar USD 10 juta (Rp 168 Miliar), kita tidak lagi bicara tentang kriminalitas jalanan, melainkan indikasi kuat adanya sindikat kejahatan terorganisasi (mafia) yang beroperasi secara dingin di tanah Bali.

Supremasi dan kepastian penegakan

Secara yuridis, tindakan ini memenuhi unsur pembunuhan berencana yang dilakukan dengan sangat keji (mutilasi).

Namun, dimensi "penculikan dengan tebusan" menambah bobot kasus ini menjadi kejahatan luar biasa.

Kita mengapresiasi langkah awal kepolisian melalui identifikasi tato dan uji forensik. Namun, identifikasi fisik saja tidak cukup.

Polri melalui Polda Bali harus melacak aliran digital (cryptocurrency atau transfer bank) dan komunikasi di balik video tebusan tersebut sebagai kunci untuk membongkar siapa "aktor intelektual" di balik eksekutor lapangan.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research