Cari Kerja Makin Sulit, Anak Muda Pakai Tinder untuk Cari Lowongan

3 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah ketatnya persaingan kerja dan membanjirnya lamaran di platform profesional seperti LinkedIn, sebagian pencari kerja mulai mencari cara tak biasa. Aplikasi kencan seperti Tinder, Bumble hingga Hinge kini dimanfaatkan untuk mencari pekerjaan.

Seorang pencari kerja di TikTok mengaku menggunakan Hinge untuk mencari pekerjaan karena pasar kerja yang sedang sulit. Ketimbang mengunggah foto terbaiknya, ia justru memasang tangkapan layar CV di profilnya.

Pada bagian "tujuan hidup", ia menulis ingin bekerja di industri kreatif. Video tersebut ditonton hampir 250 ribu kali sejak diunggah pada Desember lalu. Namun dalam pembaruan terbaru, ia mengungkapkan akunnya telah dihapus karena melanggar kebijakan platform.

Ia bukan satu-satunya. Pengguna lain mengaku berhasil mendapatkan pekerjaan dengan gaji enam digit dolar AS dari pertemuan di Bumble. Ada juga yang secara terang-terangan mengaku mencocokkan profil dengan orang-orang di bidang karier yang sama, lalu langsung menanyakan apakah perusahaan mereka sedang membuka lowongan.

"Sebut saja ini cara yang kreatif, inovatif, dan berani," tulis salah satu pengguna dalam unggahannya, dikutip dari Fast Company, Selasa (3/3/2026).

Tren ini muncul saat platform profesional seperti LinkedIn dibanjiri lamaran dan banyak perusahaan menggunakan sistem penyaring CV berbasis kecerdasan buatan (AI). Kondisi ini membuat pelamar mencari cara lain agar bisa masuk pintu lebih dulu.

Dalam jajak pendapat komunitas Glassdoor, 29% responden mengaku menggunakan atau mempertimbangkan menggunakan aplikasi kencan untuk tujuan karier. Sementara itu, survei ResumeBuilder.com terhadap sekitar 2.200 pengguna situs kencan di AS pada Oktober menemukan sepertiga pengguna aplikasi kencan pernah memanfaatkan platform tersebut untuk urusan pekerjaan dalam setahun terakhir.

Hampir 10% bahkan menyebut itu sebagai alasan utama mereka menggunakan aplikasi kencan. Platform yang paling sering digunakan untuk tujuan ini adalah Tinder, Bumble, dan Facebook Dating.

Bukan hanya pencari kerja level pemula yang memanfaatkan cara ini. Hampir separuh pengguna yang memakai aplikasi kencan untuk kepentingan karier memiliki pendapatan lebih dari US$200.000 per tahun.

Efektif atau Berisiko?

Bagi sebagian orang, strategi ini membuahkan hasil. Sebanyak 43% responden mengaku mendapatkan mentor atau nasihat karier melalui jaringan di aplikasi kencan. Sebanyak 39% berhasil mendapat panggilan wawancara, 37% menerima referensi atau petunjuk lowongan, dan 37% bahkan memperoleh tawaran kerja.

Salah satu responden menyebut praktik ini aneh tapi efektif. Yang lain mengatakan, "Berhasil, tapi Anda harus cukup berani untuk meminta."

Meski demikian, batas antara profesional dan personal menjadi kabur ketika mencari pekerjaan di platform yang dirancang untuk hubungan romantis atau kasual. Apalagi jika terdapat ketimpangan posisi atau kekuasaan antara kedua pihak.

Di balik tren ini, ada realitas pasar tenaga kerja yang keras. Rata-rata pengangguran di AS kini membutuhkan lebih dari 23 minggu untuk mendapatkan pekerjaan baru. Satu dari empat pengangguran, atau sekitar 1,8 juta orang, masih mencari kerja setelah enam bulan.

Tingkat pengangguran jangka panjang pun mencapai level tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Dalam kondisi seperti ini, tak heran jika pencari kerja mencoba segala cara untuk memperluas koneksi.

Setidaknya, kata sebagian warganet, itu masih lebih baik dibanding menggunakan LinkedIn sebagai ajang mencari pasangan.

(hsy/hsy)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research