Kanthi Malikhah, CNBC Indonesia
21 April 2026 19:30
Jakarta, CNBC Indonesia - Konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah mulai menimbulkan efek domino bagi perekonomian di Asia, terutama melalui jalur tenaga kerja migran dan aliran remitansi.
Perang yang melibatkan Iran, Israel, serta keterlibatan United States di kawasan Teluk telah memicu gelombang kepulangan pekerja migran Asia secara besar-besaran. Fenomena ini berpotensi memperburuk tekanan ekonomi di negara asal pekerja, di tengah lonjakan harga energi global akibat konflik yang berkepanjangan.
Gelombang Pulangnya Pekerja Migran
Kawasan Gulf Co-operation Council (GCC) selama ini menjadi tujuan utama tenaga kerja dari Asia Selatan dan Asia Tenggara. Pada 2024, lebih dari 20 juta pekerja dari kawasan tersebut tercatat bekerja di negara-negara Teluk, angka ini 65% lebih tinggi dibandingkan tahun 2010.
Namun, eskalasi konflik menyebabkan banyak perusahaan menghentikan operasional dan perekrutan tenaga kerja baru. Akibatnya, ribuan pekerja migran kehilangan pekerjaan dan terpaksa kembali ke negara asal.
Foto: Economist
Jumlah warga Bangladesh yang diberikan izin bermigrasi ke negara-negara Teluk turun drastis menjadi 31.279 pada bulan Maret, dari 92.460 pada bulan yang sama tahun lalu. Pemerintah Nepal bahkan menghentikan sementara penerbitan izin kerja baru demi alasan keamanan.
Remitansi Sebagai Pilar Ekonomi Mulai Goyah
Penurunan jumlah pekerja migran secara langsung berdampak pada aliran remitansi, yang selama ini menjadi salah satu sumber devisa utama bagi banyak negara berkembang di Asia.
Kontribusi remitansi terhadap perekonomian di beberapa negara Asia sangat besar. Di Bangladesh, remitansi mencapai sekitar US$32 miliar atau setara dengan 6,5% dari PDB.
Sementara itu, di Nepal, perannya bahkan lebih dominan karena hampir menyumbang seperempat dari total PDB negara tersebut. Adapun di India, meskipun ekonominya jauh lebih besar, remitansi tetap berkontribusi sekitar 3,5% terhadap PDB.
Foto: Economist
Menurut analisis lembaga riset ekonomi, penurunan pertumbuhan ekonomi di negara Teluk sebesar 1 hingga 2% dapat memicu penurunan remitansi hingga 5%.
Situasi ini berisiko menekan konsumsi rumah tangga, memperburuk kemiskinan, serta mengganggu stabilitas ekonomi domestik. Bank Dunia memperingatkan bahwa negara-negara di GCC berisiko mengalami kontraksi seperti itu tahun ini.
Tekanan Ganda: Energi dan Pendapatan
Negara-negara yang sangat bergantung pada remitansi, seperti Bangladesh, Nepal, dan Filipina, kini menghadapi tekanan ganda. Di satu sisi, harga energi meningkat akibat gangguan pasokan global. Di sisi lain, pendapatan dari remitansi justru menurun.
Hal ini menciptakan dampak berlapis seperti biaya hidup meningkat, daya beli melemah, dan risiko perlambatan ekonomi.
Lebih jauh, remitansi selama ini juga digunakan untuk membiayai pendidikan dan meningkatkan kualitas tenaga kerja. Penurunan aliran dana ini berpotensi menghambat mobilitas sosial dalam jangka panjang.
Di tengah ketidakpastian di Timur Tengah, sejumlah negara mulai mencari alternatif tujuan baru bagi pekerja migran. Negara seperti Jepang dan Korea Selatan mulai dilirik karena menawarkan gaji yang lebih tinggi serta kondisi kerja yang lebih baik.
Selain itu, kawasan Asia Tenggara seperti Malaysia dan Thailand juga menjadi pilihan yang cukup potensial. Salah satu langkah nyata terlihat dari keputusan Malaysia yang kembali membuka pasar tenaga kerja bagi pekerja Bangladesh setelah sempat ditutup selama dua tahun.
Kebijakan ini diharapkan tidak hanya menambah peluang kerja, tetapi juga bisa mengurangi risiko eksploitasi terhadap pekerja migran melalui kerja sama antarnegara.
Meski peluang baru terbuka, peralihan tujuan migrasi tidak dapat dilakukan secara instan. Jalur migrasi ke kawasan Teluk telah terbentuk selama puluhan tahun dengan dukungan jaringan agen, sistem perekrutan, dan koneksi sosial yang kuat.
Sebaliknya, negara tujuan baru memiliki berbagai hambatan seperti kebijakan imigrasi yang ketat, keterbatasan penerimaan tenaga kerja asing, hambatan bahasa dan keterampilan
(mae/mae)
Addsource on Google















































