Bukan Sawit, Tokoh Papua Ini Dorong Kakao dan Kopi Jadi Andalan Ekspor Papua

10 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Kakao dan kopi dinilai lebih tepat dikembangkan sebagai andalan ekspor Papua dibanding sawit karena berkelanjutan, menjaga hutan, dan sesuai dengan standar pasar global.Permintaan ekspor tinggi, terutama dari Eropa, namun lemahnya hilirisasi dan infrastruktur dasar masih membatasi nilai tambah komoditas tersebut.

Anggota Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan (KEPP) Otonomi Khusus Papua Gracia Josaphat Jobel Mambrasar atau Billy Mambrasa menegaskan arah pembangunan ekonomi Papua semestinya bertumpu pada komoditas yang menjaga hutan dan selaras dengan standar pasar internasional. “Papua punya masa depan besar sebagai garda depan ekspor komoditas Indonesia. Banyak potensi yang belum tergarap, seperti vanila, kakao, dan kopi,” kata Billy kepada Republika, Sabtu (17/1/2026).

Menurut dia, kakao dan kopi memiliki keunggulan ekologis dibanding komoditas lain karena tidak mendorong pembabatan hutan. “Saya lebih fokus ke kakao dan kopi karena lebih berkelanjutan. Komoditas ini tidak membabat habis hutan dan tidak menyebabkan homogenisasi hutan,” ujarnya.

Sistem tanamnya pun,” lanjut Billy, masih mempertahankan tutupan hutan. Sehingga, masih ada shade tree dan tanamannya bisa berada di antara hutan produksi, tidak menjadi monokultur.

Dari sisi pasar, peluang ekspor hijau Papua dinilai sangat terbuka, terutama ke Eropa. “Sangat tinggi. Pembeli di Eropa sangat menjunjung prinsip hijau dan keberlanjutan. Mereka akan bertanya apakah hutan dibabat atau tidak, apakah ada pekerja anak atau tidak,” ujar Billy.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperkuat arah tersebut. Sepanjang Januari–November 2025, ekspor sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan tumbuh 24,63 persen, tertinggi dibanding sektor lain, dengan kopi disebut sebagai salah satu pendorong utama kenaikan ekspor pertanian . Pada periode yang sama, ekspor nonmigas Indonesia ke Uni Eropa juga meningkat 11,43 persen, mencerminkan menguatnya pasar berstandar hijau bagi komoditas ramah lingkungan .

Namun, Billy menilai peluang besar tersebut belum diikuti kesiapan di dalam negeri, khususnya di Papua. Infrastruktur dasar dan industri pengolahan masih tertinggal. “Hilirisasi di Papua ini belum maksimal, dan itu yang terus saya coba fasilitasi,” ujarnya. Akibatnya, banyak produk kakao dan kopi Papua masih dikirim keluar daerah untuk diolah.

Ia menekankan, ekspor hijau tidak cukup hanya mengandalkan produksi bahan mentah. Tanpa hilirisasi, nilai tambah ekonomi akan dinikmati daerah lain.

“Bahkan sebaiknya langsung ke bahan setengah jadi,” kata Billy.

Selain hilirisasi produk, ia juga menyoroti pentingnya efisiensi biaya produksi agar kakao dan kopi Papua mampu bersaing di pasar global. Salah satu beban terbesar ada pada logistik pupuk. “Biaya pengiriman pupuk hampir sepertiga dari total biaya pertanian,” ujarnya. Menurut dia, penguatan industri pendukung akan memperkuat posisi Papua dalam rantai ekspor hijau.

Billy menegaskan, jika kakao dan kopi dikembangkan secara konsisten, Papua bukan hanya menjadi lumbung bahan baku, tetapi pusat pertumbuhan ekonomi hijau Indonesia. “Papua punya masa depan besar sebagai garda depan ekspor komoditas Indonesia,” katanya menegaskan.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research