REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus memperluas jangkauan kolaborasinya untuk mendorong kemandirian daerah berbasis ilmu pengetahuan.
Melalui peluncuran Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) 2025 dan berbagai proyek implementasi teknologi di wilayah Kalimantan hingga Papua, BRIN berupaya memastikan inovasi menjadi motor penggerak ekonomi menuju Indonesia Emas 2045.
Kepala BRIN, Arif Satria, secara resmi meluncurkan Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) 2025 di Jakarta, Selasa. Indeks ini dirancang bukan sekadar sebagai instrumen prestasi, melainkan sebagai alat ukur bagi pemerintah daerah untuk melakukan intervensi kebijakan yang tepat pada sektor riset, inovasi, kewirausahaan, dan modal manusia (human capital).
Arif menekankan bahwa percepatan teknologi saat ini melampaui perubahan kebijakan publik, sehingga diperlukan proyeksi matang hingga tahun 2040. "Tumbuhnya riset dan inovasi akan menjadi kekuatan utama Indonesia untuk menjadi empat besar ekonomi dunia pada 2050. BRIN melalui Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) siap memperkuat ekosistem tersebut," tegasnya.
Hilirisasi Sawit di Kalimantan Selatan: Pupuk Organik dan Energi Terbarukan
Di Kalimantan Selatan, Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) menggandeng BRIN serta mitra internasional dari Korea Selatan (NIGT dan KITECH) untuk mengembangkan industri berkelanjutan berbasis limbah sawit.
Kerja sama ini difokuskan pada pembangunan pabrik pupuk organik (fertilizer) dan energi terbarukan. Kepala Disbunnak Kalsel, Suparmi, menyatakan bahwa tahap awal meliputi penyusunan regulasi dan studi kelayakan (feasibility study) untuk integrasi pabrik pakan dan pupuk. Langkah ini didukung oleh Bank Indonesia dan bertujuan untuk meningkatkan skala industri rakyat menjadi manufaktur yang berkelanjutan di Banjarbaru dan sekitarnya.
Solusi Krisis Air Bersih di Mimika: Teknologi Reverse Osmosis
Sementara itu, di wilayah timur Indonesia, BRIN berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Mimika, Papua Tengah, untuk mengatasi krisis air layak konsumsi. Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Mimika menerapkan teknologi Reverse Osmosis (RO) yang mampu mengubah air payau menjadi air bersih siap minum.
Proyek ini telah sukses diresmikan di Kampung Atuka, Kokonao, Amar, dan Uta. Pada tahun ini, pembangunan dilanjutkan di dua titik di Kampung Ipaya, Distrik Amar. Untuk memastikan keberlanjutan fasilitas, Pemkab Mimika juga merekrut dan melatih warga lokal sebagai tenaga operator. "Kami ingin memastikan fasilitas ini memberikan layanan optimal bagi masyarakat tanpa terkendala masalah teknis operasional," ujar Kepala Bidang Cipta Karya PUPR Mimika, Bonifasius Saleo.
sumber : Antara

4 hours ago
2












































