REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) menyampaikan, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi tidak memberi pengaruh signifikan terhadap tingkat inflasi. Namun, secara umum sektor transportasi menjadi kontributor terbesar terhadap inflasi pada April 2026.
“Kelompok transportasi menjadi penyumbang utama inflasi April 2026, terutama disumbang oleh kenaikan tarif angkutan udara, salah satunya diakibatkan kenaikan harga avtur dan harga bensin, khususnya beberapa jenis bensin non-subsidi. Walaupun demikian, karena ini (harga BBM non-subsidi) bobotnya kecil, jadi pengaruh terhadap inflasinya tidak begitu besar,” ungkap Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, dalam konferensi pers di Gedung BPS, Senin (4/5/2026).
Ateng menuturkan, secara umum kelompok jasa angkutan penumpang memang mengalami inflasi karena tarif yang kembali normal, setelah sebelumnya sempat mengalami deflasi akibat kebijakan pemerintah berupa paket stimulus ekonomi pada kuartal I 2026. Paket stimulus tersebut di antaranya pemberian insentif di sektor transportasi pada periode Ramadhan dan Lebaran.
Ia menekankan, dalam perhitungan inflasi, yang dicatat BPS adalah perubahan tarif angkutan, bukan perubahan harga bahan bakar. Artinya, BPS mencatat perubahan tarif angkutan darat, bukan harga BBM non-subsidi. Hal itu juga berlaku pada kenaikan harga avtur, yang dicatat adalah perubahan tarif angkutan udara, bukan harga avturnya.
“Dalam inflasi, kami mencatat tarif angkutan udara. Oleh karena itu, kontribusi komoditas tarif angkutan udara terhadap inflasi berasal dari penyesuaian tarif angkutan udara, yang dipengaruhi berbagai faktor di maskapai, misalnya perubahan biaya operasional. Di dalamnya termasuk harga avtur, tetapi banyak faktor lain yang memengaruhi,” terangnya.
BPS mencatat inflasi bulanan Indonesia pada April 2026 mencapai 0,13 persen (mtm), sedangkan inflasi tahunannya 2,42 persen (yoy).
Pada April 2026, kelompok transportasi mengalami inflasi sebesar 0,99 persen dengan andil terhadap inflasi sebesar 0,12 persen. Inflasi disumbang oleh kenaikan tarif angkutan udara dan harga bensin, seiring meningkatnya harga avtur dan beberapa jenis BBM non-subsidi. Sementara itu, tarif angkutan antarkota mengalami deflasi pada April 2026.
Secara rinci, tarif angkutan udara pada kelompok transportasi mengalami inflasi 15,25 persen pada April 2026, dengan andil terhadap inflasi kelompok transportasi sebesar 0,89 persen dan terhadap inflasi umum sebesar 0,11 persen.
Sementara itu, bensin tercatat mengalami inflasi 0,34 persen, dengan andil terhadap inflasi kelompok transportasi sebesar 0,13 persen serta terhadap inflasi umum sebesar 0,02 persen. Adapun tarif angkutan antarkota mengalami deflasi 10,01 persen, dengan andil terhadap kelompok transportasi sebesar 0,21 persen dan terhadap inflasi umum sebesar 0,03 persen.

18 hours ago
4














































