Oleh Fitriyan Zamzami, Fuji Eka Permana
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Apa mau dikata, dari sebanyak itu awak Republika tak ada satupun yang bisa bicara Farsi. Sementara meski sudah tiga tahun belakangan kontinyu bertugas di Jakarta, Mohammad Boroujerdi, duta besar Republik Islam Iran untuk Indonesia belum sebegitu percaya diri bicara Bahasa.
Akhirnya “terpaksa” pada Kamis (30/4/2026) pagi itu di kantor Republika kami bicara dengan bahasanya kolonial. “Bahasanya Trump,” kata Boroujerdi disambut gelak tawa seisi ruangan. Seperti unggahan-unggahan menggelitik kedutaan besar Iran di seantero Bumi belakangan, seperti animasi Lego yang mengolok-olok kesombongan Donald Trump belakangan, tak kurang-kurang rasa humornya di tengah kondisi di kampung halaman.
Di sela kesibukan pria berusia 60 tahun tersebut jadi duta bangsanya yang sedang diterpa agresi Amerika Serikat dan Israel, ia hari itu menyempatkan diri mengunjungi Republika. Indonesia sedianya bukan pos baru bagi Boroujerdi. Ia pertama kali ke Tanah Air pada 1999 sebagai staf ahli Dirjen Asia Pasifik Kementerian Luar Negeri Iran.
"Nasi goreng," ia menjawab soal makanan Indonesia kesukaannya. "Sate juga." Tak hanya soal makanan, Ia juga akrab dengan pemikiran cendekiawan Indonesia. "Kalau saya baca-baca, pemikiran Nurcholis Madjid soal kemasyarakatan mirip dengan pemikiran filsuf Iran," kata dia mengenang pemikir penting Islam kontemporer di Indonesia yang wafat pada 2005 tersebut.
Revolusi Iran memang punya peran signifikan memicu aktivisme mahasiswa Muslim di Indonesia sepanjang 1970 hingga 1980-an. Di antara para mahasiswa itu akhirnya jadi cendekiawan pada 1990-an dan menggagas konsep masyarakat madani yang menghendaki penerapan Islam yang lebih "modern" di masyarakat Indonesia. Semangat tersebut salah satu yang memicu lahirnya Republika.
Seperti kebanyakan pejabat Iran lainnya, ia juga punya capaian akademis yang mumpuni. “Saya di Iran mengajar S2 dan S3,” kata lulusan Universitas Kementerian Luar Negeri Iran tersebut.
“Sekarang di sebagian besar kementerian di Republik Islam Iran, mereka hanya diizinkan mempekerjakan orang yang bergelar minimal magister (S2), bahkan untuk pekerjaan biasa.” Boroujerdi kemudian terpaksa sekolah lagi setelah sempat bertugas di kemiliteran di masa mudanya.
Boroujerdi bicara banyak soal pendidikan di Iran. Menurutnya, itu adalah salah satu pesan utama Ayatullah Khomeini selepas Revolusi Islam pada 1979. “Segera setelah Revolusi Islam, almarhum Imam Khomeini mengatakan bahwa jika kita ingin memiliki negara yang maju, kita harus mulai dari pendidikan dan pelatihan. Dan beliau mengatakan bahwa setiap orang yang melek huruf, bisa menulis dan membaca, harus mengajar yang lain,” kata Dubes Iran.
Saat ini, kata dia, ada kampus tak jauh dari semua desa di Iran. “Bahkan jika populasinya hanya 500 orang,” kata dia.
Sebelum Revolusi, menurut Boroujerdi, tingkat buta huruf di Iran sekitar 70 persen. Kini, tingkat kesertaan pendidikan tinggi di Iran mencapai 60 persen. Kaum perempuan mencakupi 55 persen dari seluruh mahasiswa di Iran.
Meski puluhan tahun disanksi ekonomi oleh Amerika, Eropa, dan PBB, capaian ilmu pengetahuan dan teknologi di Iran bukan main-main. Kata Boroujerdi, Iran kerap masuk klasemen atas peringkat dunia terkait penelitian di berbagai bidang sains dan teknologi.
Tak mau begitu saja percaya dengan Dubes Iran? Mari cek datanya. National Library of Medicine, lembaga resmi pemerintah AS, mencatat sejak 2001 hingga 2010 pusat riset medis di Iran berkali lipat dari 53 unit jadi 359 unit.
Di bidang bioteknologi, dengan 1.111 dokumen, Iran menempati peringkat pertama di antara negara-negara Islam pada tahun 2024, menurut laporan terbaru yang diterbitkan oleh lembaga pemeringkat SCImago. Negara ini menduduki peringkat ke-11 secara global dalam kategori tersebut.
Berdasarkan artikel yang diterbitkan dari 1996 hingga 2024, Iran dengan 15,188 artikel di bidang bioteknologi menempati peringkat pertama di kawasan, disusul Turki (dengan 10,973 artikel) dan Mesir (dengan 7,947 artikel). Iran berada di peringkat ke-15 secara global.
Sementara situs web penelitian nanoteknologi StatNano menempatkan Iran di peringkat keempat dunia dalam publikasi nanoteknologi. Jumlah artikel yang terindeks di Web of Science (WoS) oleh Iran pada 2022 sebanyak 11.473 artikel atau setara dengan 4,9 persen dari total artikel nanoteknologi berbasis WoS di dunia.

3 hours ago
2














































