Belajar Algoritma Pemrograman dari Dapur: Resep Masakan Ibu 'Formula' Kode Paling Sempurna

4 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, TASIKMALAYA -- Bagi sebagian orang, algoritma pemrograman masih terdengar seperti bahasa asing yang rumit dan menakutkan. Istilah seperti loop, if-else, hingga array kerap membuat pemula merasa pemrograman adalah dunia yang sulit ditembus.

Padahal, konsep dasarnya justru sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, bahkan bisa ditemukan di dapur rumah.

Pandangan ini disampaikan Bambang Kelana Simpony, dosen Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) kampus Tasikmalaya, yang kerap menggunakan analogi sederhana untuk membantu mahasiswa memahami logika pemrograman.

Menurutnya, ketakutan terhadap coding sering muncul karena mahasiswa langsung dihadapkan pada istilah teknis, bukan pada logika dasarnya.

“Banyak mahasiswa punya stigma takut dengan pemrograman. Padahal, intinya itu soal logika. Dan logika paling nyata, berurutan, serta menghasilkan output jelas, justru bisa kita temukan di dapur,” ujar Bambang dalam rilis yang diterima, Senin (9/3/2026).

Resep Masakan Sebagai Algoritma Sederhana

Ia menjelaskan, resep masakan merupakan bentuk algoritma paling sederhana dan sempurna. Bahan-bahan seperti gula, tepung, telur, dan garam dapat dipahami sebagai data atau variabel yang masing-masing memiliki peran dan karakter.

“Gula, tepung, telur itu sama seperti variabel dalam program. Setiap bahan punya fungsi dan takarannya sendiri. Kalau salah satu diubah, hasil akhirnya juga ikut berubah,” jelasnya.

Resep masakan, lanjut Bambang, berperan sebagai algoritma yang mengatur urutan langkah secara sistematis. Instruksi yang dijalankan satu per satu menentukan keberhasilan hasil akhir, sama seperti baris kode dalam sebuah program.

“Resep memberi tahu apa yang harus dilakukan lebih dulu dan apa yang menyusul setelahnya. Kalau urutannya benar, hasilnya sesuai harapan. Itu persis cara kerja algoritma,” tambahnya.

Dari Proses Memasak Hingga Debugging

Proses memasak dapat dianalogikan sebagai eksekusi program. Ketika semua langkah dijalankan sesuai resep, hidangan akan matang dengan baik. Namun jika terjadi kesalahan, hasilnya pun tidak optimal.

Bagian menarik lainnya saat mencicipi dan mengoreksi rasa. Menurut Bambang, inilah bentuk debugging paling alami.

“Saat kita merasa masakan kurang asin atau kurang manis, kita memperbaikinya. Programmer juga begitu. Mereka menguji, menemukan kesalahan, lalu memperbaiki kode sampai hasilnya sesuai,” paparnya.

Pendekatan analogi dapur ini menjadi bagian dari cara UBSI kampus Tasikmalaya yang terkenal sebagai Kampus Digital Kreatif, membumikan konsep-konsep pemrograman agar lebih mudah dipahami mahasiswa dari berbagai latar belakang.

Dengan mengaitkan logika coding pada pengalaman sehari-hari, proses belajar tidak lagi terasa kaku, melainkan dekat dan relevan. Dari dapur hingga baris kode, pemrograman diposisikan sebagai keterampilan logis yang bisa dipelajari siapa saja.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research