Bantah Keras, Rusia Sebut Isu Nuklir Hanyalah Histeria Barat untuk Sudutkan Moskow

1 hour ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Duta Besar Rusia, Andrey Belousov, membantah keras spekulasi mengenai kemungkinan penggunaan senjata nuklir oleh Moskow dalam konflik di Ukraina.

Dalam pernyataannya pada Konferensi Peninjauan ke-11 Treaty on the Non-Proliferation of Nuclear Weapons, Belousov menilai tuduhan tersebut tidak berdasar dan sengaja disebarkan untuk membentuk opini negatif terhadap Rusia.

“Kami menganggap perlu untuk membantah spekulasi yang tidak berdasar bahwa Rusia diduga sedang mempertimbangkan untuk menggunakan senjata nuklir di Ukraina atau mengancam akan menggunakan senjata tersebut. Jelas, ini dilakukan dengan sengaja untuk memicu histeria anti-Rusia,” ujarnya.

Belousov menegaskan bahwa Rusia justru berupaya mencegah terjadinya konfrontasi bersenjata antara negara-negara pemilik senjata nuklir, yang berpotensi memicu eskalasi ke tingkat yang lebih berbahaya.

Menurut dia, penggunaan senjata nuklir bukan merupakan kepentingan Rusia dalam situasi saat ini.

“Rusia tidak tertarik untuk meningkatkan ketegangan. Adalah kepentingan terbaik kita bahwa senjata nuklir tidak pernah digunakan,” tegasnya.

Tidak Muncul Tiba-tiba

Isu mengenai potensi penggunaan senjata nuklir oleh Rusia dalam perang di Ukraina tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan berkembang melalui rangkaian pernyataan, dinamika militer, serta interpretasi global sejak awal konflik pada 2022.

Pada Februari 2022, saat Rusia melancarkan invasi penuh ke Ukraina, Presiden Vladimir Putin memperingatkan negara-negara Barat agar tidak ikut campur. Ia menyebut konsekuensi yang “belum pernah terjadi dalam sejarah” jika intervensi terjadi. Sejumlah media internasional seperti Reuters dan BBC menilai pernyataan tersebut sebagai sinyal implisit terkait potensi eskalasi nuklir.

Tidak lama setelah itu, Moskow menempatkan pasukan pencegah nuklirnya dalam status siaga tinggi. Langkah ini memperkuat kekhawatiran global bahwa konflik berpotensi meluas ke dimensi nuklir, meskipun tidak ada indikasi langsung mengenai rencana penggunaan senjata tersebut.

Memasuki Maret hingga April 2022, retorika nuklir mulai lebih sering muncul dalam diskursus publik Rusia. Sejumlah pejabat dan analis di media negara mengaitkan kemungkinan penggunaan senjata nuklir taktis dengan kondisi “ancaman eksistensial” terhadap negara. Associated Press dan Financial Times mencatat bahwa narasi ini sejalan dengan doktrin nuklir Rusia yang membuka ruang penggunaan dalam situasi tertentu.

Kekhawatiran global mencapai puncaknya pada September 2022, ketika Rusia menghadapi tekanan militer dari Ukraina di medan perang. Dalam konteks itu, Putin kembali menegaskan bahwa Rusia akan menggunakan “segala cara yang tersedia” untuk mempertahankan wilayahnya, bertepatan dengan langkah aneksasi wilayah Ukraina. Pernyataan ini oleh banyak pihak Barat ditafsirkan sebagai ancaman nuklir paling eksplisit sejak awal konflik.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research