Bahaya Doomscrolling: Menata Ulang Konsumsi Informasi Kita

4 hours ago 3

Image Khairatunnisa

Kabar WHO | 2026-06-30 17:14:26

Foto oleh Borna Hržina di Unsplash

Akhir-akhir ini ketika membuka media sosial banyak sekali berita negatif yang berseliweran. Tanpa sadar, kita terjebak dalam fenomena doomscrolling, yaitu kebiasaan terus-menerus mencari dan membaca informasi buruk secara berlebihan. Jika dibiarkan, kebiasaan ini dapat berdampak buruk bagi kesehatan mental. Bangun tidur rasanya bukan lagi disambut ketenangan, tapi justru kecemasan.

Buka handphone sebentar, yang lewat berita bencana alam atau kasus kecelakaan kereta yang baru-baru ini terjadi. Scroll ke bawah sedikit, isinya berita negatif lagi. Semua informasi itu terus muncul dan kita seakan tidak bisa berhenti untuk terus mencari tahu lebih dalam, membaca komentar netizen, sampai tanpa sadar energi kita habis terkuras sebelum hari benar-benar dimulai. Fenomena ini dikenal sebagai doomscrolling.

Kita sering kali meyakini bahwa ini adalah cara untuk tetap up-to-date atau bentuk kepedulian. Tapi realitanya, ada batas yang sangat tipis antara tetap informatif dengan membiarkan kesehatan mental kita perlahan-lahan rapuh. Ini bukan lagi soal berita apa yang sedang beredar di luar sana, melainkan tentang secara sadar mengambil kendali penuh atas apa yang masuk ke dalam pikiran kita sendiri.

Mengapa Otak Kita Lebih Tertarik pada Berita Negatif ?

Kecanduan terhadap berita negatif bukanlah sebuah kebetulan. Manusia memiliki kecenderungan bawaan yang disebut negativity bias. Fenomena ini menjelaskan bahwa otak kita secara alami dirancang untuk lebih peka, cepat merespons, dan mengingat informasi negatif ketimbang informasi positif. Bagian otak bernama amigdala bertindak sebagai alarm yang langsung aktif saat melihat berita buruk. Stimulasi negatif memicu aktivitas elektrik di otak yang jauh lebih besar daripada stimulasi positif.

Dampak Nyata pada Kesehatan Mental

Ketika perilaku doomscrolling sudah menjadi kebiasaan, dampak yang ditimbulkan tidak lagi main-main. Berdasarkan penelitian Pramudiani dkk. (2025), konsumsi berita negatif yang dilakukan secara berlebihan melalui doomscrolling terbukti menimbulkan tekanan psikologis dan meningkatkan kecemasan secara signifikan, terutama di kalangan generasi muda yang rentan secara perkembangan. Paparan terus menerus terhadap konten digital yang mencemaskan ini merusak skema kognitif tentang realitas karena otak terus-menerus dirangsang oleh sinyal ancaman, yang jika dibiarkan tanpa regulasi emosi yang baik, dapat memicu kelelahan kognitif hingga kecemasan kronis. Doomscrolling dipicu oleh keinginan untuk mengendalikan ketidakpastian (seperti saat terjadi pandemi, bencana alam, kecelakaan, perang) yang justru berdampak buruk pada kesehatan mental serta memicu emosi negatif (Güme, 2024).

Langkah Solutif Untuk Menata Ulang Konsumsi Informasi

Berikut hal-hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak doomscrolling:

1. Mengontrol dan Membatasi Penggunaan Media Sosial

Langkah utama yang harus diambil adalah secara sadar mengendalikan durasi dan frekuensi interaksi kita dengan sosial media. Pembatasan ini berfungsi untuk memutus paparan konstan terhadap berita buruk yang berseliweran.

2. Menyeimbangkan dengan Konten Positif

Ketika kita mengonsumsi informasi, kita perlu secara aktif mencari dan menyisipkan konten-konten yang positif, menghibur, atau mendidik guna mengimbangi serta menetralkan dampak emosional dari berita negatif yang telah dibaca.

3. Melakukan Aktivitas Offline

Mulailah mengurangi waktu layar (screen time) dengan terlibat dalam aktivitas langsung di dunia nyata yang terbukti memberikan dampak positif bagi kesejahteraan mental dan psikologis kita. Misalnya berkumpul bersama keluarga, teman, membaca buku, dll.

oleh Khairatunnisa, Dr. Rachmat Mulyono M.Si., Psikolog.

References:

Ito, T. A., Larsen, J. T., Smith, N. K., & Cacioppo, J. T. (1998). Negative information weighs more heavily on the brain: The negativity bias in evaluative categorizations. Journal of Personality and Social Psychology, 75(4), 887–900. https://doi.org/10.1037/0022-3514.75.4.887

Pramudiani, D., Dewanti, L., Academic, E. K.-T. J. of, & 2025, undefined. (2025). The Role of Emotional Intelligence in Moderating the Impact of Doomscrolling on Adolescent Anxiety Levels. Thejoas.Com, 2(8), 1969–1978.

Güme, S. (2024). Doomscrolling: A Review. Psikiyatride Güncel Yaklaşımlar, 16(4), 595 603. https://doi.org/10.18863/pgy.1416316

Laila, N. N., Natasya, H., & Zakiatul, S. (2025). Pengaruh Doomscrolling terhadap Kecemasan Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Jakarta Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi , Universitas Negeri Islam Syarif Hidayatullah hidup di tengah ekosistem digital. Dalam artikel The Dark at the End of. Jurnal Ilmiah Teknik Informatika Dan Komunikas, 5(1), 262–271.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research