Aturan Baru Piala Dunia 2026: Dilarang Menutupi Mulut dengan Tangan Saat Berseteru

4 hours ago 2

Image Subhan Riyadi

Olahraga | 2026-07-04 12:06:45

Wasit mengeluarkan kartu merah ke pemain yang berseteru (gambar: Gemini AI)

Di Piala Dunia 2026, pemain harus berhati-hati saat berbicara dengan lawan di lapangan. Jika ada pemain yang kedapatan menutupi mulutnya dengan tangan, lengan, atau baju saat sedang berseteru atau berdebat, wasit tidak akan segan memberikan kartu merah langsung.

Aturan ketat ini dibuat oleh FIFA untuk menjaga sportivitas dan mencegah tindakan rasisme atau penghinaan verbal. Selama ini, banyak pemain sengaja menutup mulut agar ucapan kasar mereka tidak terbaca oleh kamera atau ahli pembaca gerak bibir.

Poin penting dari aturan ini bukan untuk melarang berkomunikasi. Pemain tetap masih boleh berbicara dengan teman satu tim atau lawan untuk urusan taktik.

Sementara kartu merah hanya akan diberikan jika wasit menilai gestur menutup mulut tersebut dilakukan untuk menyembunyikan kata-kata kasar atau ujaran kebencian dalam situasi panas. Sebaliknya, jika percakapan terjadi dalam suasana santai atau ramah, wasit tidak akan menghukum pemain.

Dari aturan ini sudah memakan "korban" yakni pemain Paraguay, Miguel Almirón, dan pemain Ekuador, Piero Hincapié, telah merasakan pahitnya diusir dari lapangan karena melanggar aturan ini saat sedang beradu argumen.

Meski FIFA tegas, tidak semua setuju. UEFA, misalnya, menolak menerapkan aturan ini di kompetisi mereka (seperti Liga Champions). UEFA lebih memilih memberikan kartu kuning dan melakukan investigasi setelah pertandingan selesai.

Intinya, Piala Dunia 2026 ingin memastikan tidak ada lagi tempat untuk ujaran kebencian yang "disembunyikan" di balik telapak tangan. Kini, para pemain dituntut untuk lebih jujur dan menjaga tutur kata mereka selama pertandingan.

Bagaimana menurut kalian, apakah aturan kartu merah langsung ini perlu diterapkan di sepak bola Indonesia untuk memberantas rasisme dan bullying di lapangan, atau hukuman lain dirasa lebih efektif?

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research