Asia Kebakaran Hebat, Rupiah Paling Babak Belur

3 hours ago 1

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

06 February 2026 09:50

Jakarta, CNBC Indonesia - Pergerakan nilai tukar mata uang Asia terpecah dalam melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pagi ini, Jumat (6/2/2026).

Merujuk data Refinitiv, pada pukul 09.10 WIB dari sebelas mata uang yang dipantau, tujuh diantaranya mampu menguat dari greenback, sementara empat lainnya justru mengalami pelemahan yang dipimpin oleh rupiah.

Di sisi mata uang yang mampu menguat, peso Filipina terlihat menjadi yang paling perkasa diantara mata uang Asia lainnya. Peso berada di zona hijau dengan menguat 0,21% ke level PHP 58,65/US$. Mengikuti di bawahnya, won Korea yang menguat 0,19% atau terapresiasi ke level KRW 1.468,8/US$.

Berikutnya yen Jepang juga terpantau mampu menghadapi dominasi greenback dengan penguatan ke level JPY 156,7/US$ atau menguat 0,17%. Yang turut diikuti oleh baht Thailand dengan menguat 0,16% ke posisi THB 31,72/US$.

Dolar Singapura pun menguat 0,10% ke level SGD 1,27/US$. Dolar Taiwan dan dong Vietnam juga sama-sama menguat namun tipis 0,06% dan 0,01%.

Di sisi sebaliknya, rupiah Garuda justru harus terkapar dalam menghadapi dolar AS dan menjadi yang paling dalam di antara mata uang Asia lainnya. Rupiah melemah 0,36% atau terkoreksi ke level Rp16.885/US$, yang mana ini sebagai pelemahan lanjutan seletah di penutupan perdagangan sebelumnya, rupiah melemah 0,36% di level Rp16.825/US$.

Pelemahan rupiah juga diikuti oleh mata uang negara tetangga, yakni ringgit Malaysia. Ringgit terlihat melemah 0,18% atau terdepresiasi ke level MYR 3,95/US$.

Begitu pula dengan yuan China dan rupee India yang masih gagal menghadapi kekuatan dolar AS dengan pelemahan masing-masing 0,04% dan 0,03%.

Pergerakan mata uang Asia di perdagangan terakhir pekan ini tak lepas dari dinamika eksternal khususnya dari indeks yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia. Indeks dolar AS (DXY), pada waktu yang sama tengah mengalami penguata namun tipis 0,04% di level 97,862.

Penguatan DXY mencerminkan meningkatnya minat pelaku pasar pada aset berdenominasi dolar AS. Kondisi ini pada gilirannya dapat menambah tekanan pada mata uang lain, termasuk mata uang Asia.

Dolar AS juga masih mendapat dukungan setelah Presiden AS Donald Trump menominasikan Kevin Warsh sebagai kandidat ketua Federal Reserve pekan lalu.

Pasar menilai Warsh berpotensi tidak terlalu mendorong pemangkasan suku bunga agresif, sehingga meredakan sebagian kekhawatiran terhadap independensi bank sentral.

Di saat bersamaan, meningkatnya sikap risk-off turut menopang dolar, seiring tekanan di pasar saham khususnya saham teknologi di tengah kekhawatiran belanja besar pada kecerdasan buatan (AI) dan dampaknya terhadap berbagai sektor.

Sentimen kehati-hatian ini terjadi meski imbal hasil US Treasury cenderung menurun setelah sejumlah data mengarah pada pasar tenaga kerja yang lebih lemah dari perkiraan menjelang rilis payrolls Januari pekan depan.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research