REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bunda, tahukah Anda bahwa di dalam setiap tetes ASI tersimpan mahakarya Tuhan yang tidak akan pernah bisa ditandingi oleh teknologi manapun?
ASI bukan sekadar asupan nutrisi, melainkan "vaksin pertama" yang dirancang khusus sesuai kebutuhan unik bayi Anda. Di dalamnya mengalir cinta, antibodi hidup, dan kecerdasan yang akan membentuk fondasi kesehatan anak seumur hidup. Memberikan ASI eksklusif adalah momen heroik seorang ibu dalam membangun benteng perlindungan yang paling kokoh bagi masa depan sang buah hati.
Bayangkan betapa hebatnya ASI yang mampu beradaptasi secara ajaib; kandungannya berubah setiap hari mengikuti perkembangan usia dan kondisi kesehatan bayi. Saat bayi sakit, ASI akan memproduksi lebih banyak sel darah putih dan antibodi untuk melawannya.
Ini adalah bentuk komunikasi batin paling intim, di mana tubuh Bunda menjadi pabrik obat alami yang paling efisien, aman, dan tanpa efek samping. Semangat memberikan ASI eksklusif adalah semangat untuk memberikan yang terbaik dari diri kita bagi kehidupan yang baru saja dimulai.
Kekuatan ASI sebagai perisai alami kini terasa semakin krusial di tengah berbagai risiko kontaminasi pada produk olahan pabrikan. Dengan memberikan ASI, Bunda memberikan keamanan pangan yang paripurna tanpa perlu merasa cemas akan kesalahan proses produksi atau penyimpanan yang bisa mengancam kesehatan saluran cerna bayi yang masih sangat rapuh. Memilih ASI adalah memilih ketenangan jiwa, memastikan bahwa apa yang masuk ke dalam tubuh si kecil adalah murni, suci, dan penuh keberkahan.
Menanggapi berbagai isu keamanan pangan saat ini, Dinas Kesehatan Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, secara resmi mengimbau masyarakat untuk mengutamakan pemberian ASI eksklusif. "ASI merupakan nutrisi terbaik dan paling aman bagi bayi. Susu formula seharusnya hanya digunakan bila benar-benar diperlukan dan sesuai indikasi medis," tegas Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram, dr. H. Emirald Isfihan, Jumat (16/1/2026).
Imbauan ini dikeluarkan menyusul kekhawatiran masyarakat mengenai dugaan keberadaan toksin cereulide pada salah satu produk susu formula. Toksin ini dihasilkan oleh bakteri Bacillus cereus yang bisa muncul akibat proses produksi atau distribusi yang tidak standar.
Bahayanya, toksin cereulide bersifat tahan panas, sehingga tidak akan hilang meskipun susu diseduh dengan air panas sekalipun. Paparan toksin ini dapat memicu keracunan makanan dengan gejala mual, muntah hebat, hingga risiko dehidrasi yang sangat berbahaya bagi bayi prematur atau bayi baru lahir.
Dalam kondisi yang ekstrem, bakteri ini bahkan bisa memicu infeksi berat seperti sepsis atau meningitis. Sebagai langkah perlindungan, Pemerintah Kota Mataram meminta masyarakat dan pelaku usaha untuk waspada terhadap penarikan produk S-26 Promil Gold pHPro 1 dengan nomor batch 51530017C2 dan 51540017A1. Jika menemukan produk dengan kode tersebut, penggunaan harus segera dihentikan dan dilaporkan kepada BPOM atau Dinas Kesehatan setempat.
Pemerintah Kota Mataram melalui Dinas Kesehatan terus berkoordinasi dengan seluruh fasilitas layanan kesehatan untuk memantau situasi dan memastikan keselamatan anak-anak di Mataram tetap terjaga. Masyarakat diminta untuk tetap tenang, namun semakin selektif dalam memilih asupan bagi buah hati. Peristiwa ini menjadi pengingat berharga bagi kita semua bahwa kembali ke alam melalui pemberian ASI adalah langkah paling bijak dan aman demi melindungi generasi masa depan dari berbagai risiko kesehatan global.

1 day ago
2













































