Aneh! Ternyata Ada Loh 4 Perusahaan RI yang Pendapatannya Nol

16 hours ago 4

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia

23 March 2026 12:00

Jakarta, CNBC Indonesia - Ternyata ada perusahaan yang kegiatan usahanya tidak menghasilkan pendapatan sama sekali hingga kuartal ketiga (Q3) 2025. Sebagian besar dari perusahaan ini bahkan harus menelan kerugian yang cukup dalam.

Pendapatan yang nol atau minus ini menunjukkan kondisi di mana perusahaan lebih besar pasak daripada tiang, alias beban operasional yang terus berjalan tidak sebanding dengan ketiadaan pemasukan dari kegiatan bisnis.

Kondisi ini tentu tidak sehat bagi kelangsungan usaha dan dapat berujung pada kebangkrutan apabila tidak ada aksi perbaikan strategis. Tanpa adanya arus kas masuk dari lini pendapatan, beban keuangan dan operasional akan terus menggerus modal perusahaan.

Berdasarkan data rilis laporan keuangan terbaru per Kuartal III 2025, kami merekap ada lima perusahaan yang mencetak pendapatan Rp0 dan patut menjadi perhatian para pelaku pasar:

1. TGRA

Saham emiten energi baru terbarukan, PT Terregra Asia Energy Tbk (TGRA), mencatatkan nol rupiah atau tidak ada pendapatan usaha sama sekali sepanjang sembilan bulan pertama 2025.

Akibat ketiadaan pendapatan tersebut, TGRA harus menelan rugi tahun berjalan sebesar Rp14,17 miliar pada Kuartal III 2025. Kerugian ini membengkak dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat rugi Rp9,47 miliar.

Alasan nihilnya pendapatan ini dikarenakan perusahaan belum menjalankan operasional komersial secara penuh dari proyek-proyeknya. Saat ini, status saham perusahaan juga masih disuspensi oleh BEI.

Manajemen menyatakan masih berupaya mencari investor baru guna menyuntikkan tambahan modal untuk kelanjutan pembangunan lima proyek Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTMH) milik mereka.

2. ZINC

Emiten pertambangan mineral PT Kapuas Prima Coal Tbk (ZINC) juga mencatatkan nol penjualan pada laporan Q3 2025. Padahal, pada periode yang sama tahun 2024, ZINC masih mampu mencetak angka penjualan sebesar Rp174,35 miliar.

Macetnya keran pendapatan membuat perusahaan mencatat rugi tahun berjalan yang membengkak drastis menjadi Rp162,84 miliar, jauh lebih dalam dari kerugian Kuartal III 2024 yang berada di angka Rp91,25 miliar.

Absennya pendapatan ini didasari oleh persoalan perizinan. Izin persetujuan ekspor pertambangan untuk konsentrat timbal (Pb) dan zinc (Zn) milik ZINC telah berakhir pada 31 Desember 2024 lalu.

Sampai dengan penyelesaian laporan keuangan Kuartal III 2025, perusahaan belum juga mendapatkan persetujuan perpanjangan izin ekspor tersebut, yang otomatis menghentikan aktivitas penjualan dan arus kas masuk dari pelanggan luar negeri.

3. OCAP

PT Onix Capital Tbk (OCAP) masih konsisten tidak memiliki pendapatan usaha sama sekali sejak beberapa tahun terakhir, termasuk pada Kuartal III 2025.Tanpa adanya pendapatan, kerugian OCAP pun terus terakumulasi.

Pada akhir September 2025, perusahaan menelan rugi periode berjalan sebesar Rp22,41 miliar, membengkak tajam hingga lima kali lipat dibandingkan Kuartal III 2024 yang tercatat sebesar Rp4,27 miliar.

Ketiadaan pendapatan OCAP murni disebabkan oleh berhentinya operasional entitas anak perusahaan.

Anak usahanya, PT Onix Sekuritas (OSEK) yang sebelumnya menjadi tulang punggung bisnis, telah dibubarkan dan masih dalam proses likuidasi. Nasib serupa juga dialami oleh PT Menteng Medika Indonesia (MMI) yang telah menyetujui pembubaran dan sedang dalam tahap likuidasi sejak September 2023.

4. MTPS

Emiten yang bergerak di bidang konstruksi dan rekayasa, PT Meta Epsi Tbk (MTPS), turut melaporkan pendapatan bersih Rp0 pada kuartal ketiga 2025. Hal ini berbanding terbalik dengan kuartal yang sama tahun lalu di mana MTPS masih membukukan pendapatan sebesar Rp1,32 miliar.

Meski beban operasional telah ditekan, hilangnya omzet membuat perusahaan membukukan rugi komprehensif tahun berjalan sebesar Rp4,52 miliar pada Q3 2025.Posisi pendapatan yang nihil ini mencerminkan tidak adanya proyek dalam pelaksanaan yang bisa dikonversi menjadi kas pada kuartal tersebut.

Manajemen dalam catatannya menyebutkan bahwa mereka sedang berupaya menjalin kerja sama baru di sektor konstruksi, menambah lini bisnis baru, serta mengoptimalkan efisiensi operasional guna memulihkan stabilitas keuangan.

(gls/gls)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research