REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perang antara Iran dan Amerika Serikat dikhawatirkan bakal segera pecah jika negosiasi kedua negara di Jenewa tidak menghasilkan sesuatu yang positif.
Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)pun sadar bahwa Jendera bisa menjadi saksi sejarah. Perundingan bisa melahirkan sebuah “game change” yang berimplikasi besar pada perkembangan dunia.
"Banyak kalangan yang tengah menunggu hasil negosiasi itu, utamanya bangsa-bangsa di kawasan Timur Tengah. Sukses atau gagal? Bawa kedamaian, atau sebaliknya menyulut terjadinya peperangan yang dahsyat?" ujar SBY lewat kicauanya di X, Jumat (27/2/2026) malam.
Semua, kata SBY tahu bahwa negosiasi utamanya yang menyangkut masa depan proyek nuklir Iran itu sangat rumit dan tidak mudah membangun opsi yang bisa diterima kedua belah pihak. Kepentingan kedua negara sangat berbeda.
Para juru runding juga harus cerdas membaca pikiran kedua pemimpin yang memberikan mandat pada mereka, Presiden Trump dan Ayatullah Khamenei.
"Membangun 'harmoni' antara juru runding dengan para bosnya mungkin juga sesuatu yang tidak mudah," ujar SBY.
Sebagai seorang yang memiliki pengetahuan dan pengalaman, menurut SBY, dalam resolusi konflik, baik pada tingkat nasional maupun internasional, sebuah negosiasi itu sangat melelahkan. Perlu kesabaran, kecerdasan, dan keuletan.
"Siap untuk berkompromi serta bersedia untuk sebuah 'take and give'. Keinginan dan sasaran yang digariskan oleh kedua pemimpin negara juga harus sangat dimengerti," ujarnya.
Khusus negosiasi Amerika-Iran ini, SBY mengamati bahwa kedua pemimpin mereka, Donald Trump dan Ali Khamenei memiliki “uniqueness”. Keduanya, jelas SBY, memiliki ego, ambisi dan juga “personal interest”.
Trump khawatir kalau sampai gagal, reputasi serta “legacy” indah yang ingin diraih bisa hancur berantakan. Sebaliknya Ali Khamenei juga khawatir kalau sengketa sengit dengan Amerika ini, jika nasibnya naas.
"Bisa berakhir dengan pergantian rezim dan “he must go”. Berarti, ini merupakan “survival interest” buat pemimpin Iran itu."
Banyak pihak yang memprediksi atau menyimpulkan jika perundingan ini gagal, maka perang besar pun akan segera meletus. Ibaratnya kondisi sudah matang. Tinggal menunggu komando Trump dan Khamenei.
Namun SBY berpendapat terjadinya perang yang seolah diniscayakan itu, bisa 'iya', bisa 'tidak'. Apalagi kalau para jenderal di kedua belah pihak, terus mengawal pengambilan keputusan para pemimpinnya.
Trump dan Khamenei tidak akan gegabah dalam memerintahkan tentaranya untuk berperang. "Terlalu tinggi risiko dan harga yang harus mereka bayar kalau keputusannya salah," jelas SBY.
Menurut politikus senir Partai Demokrat itu. ada catatan penting bagi seorang “commander-in-chief” untuk mengambil jalan perang guna memenuhi kepentingan nasionalnya.
Pertama, apakah perang itu harus dilaksanakan atau masih ada opsi yang lain?. "Inilah yang sering disebut war of necessity dan war of choice. Pada akhirnya, kedua belah pihak akan menentukan berperang atau menempuh jalan lain," ujar Pangdam II/Sriwijaya pada tahun 1996-1997 itu.
Kedua, menurut SBY, negara siap berperang kalau kalkulasi rasionalnya menjamin bahwa perang dapat dimenangkan. Baik Trump maupun Khamenei harus bisa meyakinkan dirinya sendiri, dengan menggunakan logika dan akal sehatnya, bahwa perang yang ia pilih memang akan bisa dimenangkan.
"Karena perang terkait dengan nasib dan masa depan rakyat yang dipimpinnya, yang memberikan mandat dan kepercayaan, suara mereka mesti didengar," jelasnya.
Pertimbangan dan saran para jenderal dan petinggi militer, jelas SBY, juga mesti diindahkan, jangan terkubur dengan ego pemimpin yang kelewat tinggi.

8 hours ago
3













































