Anak-Anak yang Tak Pernah Libur Bermimpi

4 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — “Pak, besok kita belajar lagi, kan, Pak?”

Pertanyaan itu meluncur pelan dari bibir seorang anak di tenda pengungsian. Sederhana, nyaris tanpa beban. Namun bagi para relawan, kalimat itu seperti mengetuk pintu hati yang paling dalam.

Kala banjir bandang dan tanah longsor menerjang Aceh Timur pada November 2025, bangunan SDN Ranto Panyang Rubek luluh lantak. Dindingnya roboh, separuh bangunannya hanyut terbawa arus bersama gelondongan kayu, menyisakan puing-puing di tepi sungai yang keruh. Lumpur mengering di lantai yang retak, dan papan-papan kayu tersangkut di semak belukar.

Tetapi ada satu hal yang tak ikut hanyut: semangat anak-anaknya.

Di Desa Sijudo, Kecamatan Pante Bidari, para relawan dari Atjeh Connection Foundation mula-mula hanya merencanakan sekolah darurat keliling, sekali kunjungan di tiap titik terdampak, bersamaan dengan pembagian obat dan layanan medis. Mereka mendirikan tenda putih sederhana bertuliskan “Sekolah Darurat SDN Ranto Panyang Rubek”.

Tak ada sekat kelas. Tak ada kursi. Tak ada meja panjang tempat buku-buku bisa ditata rapi. Hanya satu papan tulis dengan garis spidol hitam membelah ruang imajiner antar-kelas. Anak-anak duduk beralaskan terpal hitam, memeluk meja kecil sumbangan relawan. Angin kadang menyibakkan sisi tenda, membawa bau lumpur yang belum sepenuhnya pergi.

Lalu pertanyaan itu datang: “Besok kita belajar lagi, kan, Pak?”

Rencana berubah. Sekolah darurat tak lagi sekadar kunjungan singkat. Ia menjadi rutinitas. Dari Senin hingga Sabtu, pukul delapan pagi hingga tengah hari, tenda putih itu menjelma ruang harapan.

Di tengah hamparan lumpur sisa banjir, suara anak-anak terdengar riuh ketika ditanya tentang cita-cita.

“Aku! Aku! Aku mau jadi presiden!” seru Nisa, tangannya terangkat tinggi-tinggi.

“Kamu, kan, mau jadi polisi!” sahut temannya.

Nisa tak menyerah. Ia ingin keduanya. Presiden dan polisi sekaligus.

Yang lain menyebut dokter, astronot, guru, anggota TNI, pengusaha. Tak sedikit yang ingin menjadi tauke sawit, mungkin karena desa mereka dikepung kebun sawit dan sebagian besar orang tua bekerja di sana. Cita-cita itu melompat-lompat di udara, seakan tak peduli pada lumpur yang masih membekas di kaki mereka.

Sekolah boleh hanyut. Tetapi mimpi, tidak.

Semangat itu pula yang menjadi bahan bakar bagi para guru. Salah satunya Rahmat Syah. Ia sendiri penyintas bencana. Setiap pagi ia harus menembus jalan berlumpur, melewati tanjakan terjal dan turunan berkelok. Jika hujan turun, jalan menjadi licin dan kendaraan rawan tergelincir. Namun tak sekali pun ia absen.

“Ini kewajiban kami,” ujarnya pelan. “Lebih-lebih setelah bencana ini, kami harus membangkitkan anak-anak supaya tercapai cita-cita mereka.”

sumber : Antara

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research