REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Paparan abu vulkanik perlu diantisipasi, terutama pada anak-anak yang lebih rentan mengalami gangguan saluran pernapasan. Dokter Spesialis Anak RSIA Bina Medika, dr. Leonirma Tengguna, M.Sc, Sp.A, CIMI, membagikan sembilan langkah yang dapat dilakukan orang tua untuk melindungi anak selama abu vulkanik masih turun.
Melalui utas di media sosial, Leonirma mengingatkan perlindungan pertama yang perlu dilakukan adalah menghindari paparan abu secara langsung. Selama abu masih turun, anak sebaiknya tidak melakukan aktivitas fisik atau bermain di luar rumah.
Kedua, orang tua perlu memperhatikan penggunaan masker. Leonirma menjelaskan masker tidak dianjurkan bagi bayi berusia di bawah dua tahun. Mengutip rekomendasi CDC dan American Academy of Pediatrics (AAP), penggunaan masker pada kelompok usia tersebut berisiko mengganggu jalan napas dan bayi belum mampu melepas masker sendiri ketika mengalami kesulitan bernapas.
Sementara untuk anak berusia dua tahun ke atas, masker dapat digunakan dengan ukuran yang sesuai dengan wajah. Masker yang terlalu besar atau longgar dapat membuat perlindungan terhadap paparan abu menjadi tidak optimal.
Langkah ketiga adalah mengendalikan kualitas udara di dalam rumah. Orang tua dianjurkan menutup pintu dan jendela selama abu turun. Jika menggunakan AC, mode yang mengambil udara dari luar sebaiknya dimatikan. Air purifier juga dapat digunakan untuk membantu menjaga kualitas udara di dalam ruangan.
Keempat, orang tua perlu membersihkan abu dengan cara yang tepat. Abu yang telah mengendap di halaman atau sekitar rumah sebaiknya dibasahi atau disiram terlebih dahulu sebelum dibersihkan.
Membersihkan abu dalam kondisi kering dapat membuat partikel kembali beterbangan sehingga lebih mudah terhirup.
Kelima, orang tua perlu mencegah barang yang terpapar abu masuk ke dalam rumah. Sepatu, jaket, tas, maupun barang lain yang terkena abu sebaiknya dibersihkan terlebih dahulu.
Orang tua yang baru beraktivitas di luar dan terkena abu juga dianjurkan membersihkan diri serta mengganti pakaian sebelum menggendong bayi.
Keenam, mata dan kulit anak juga perlu dilindungi. Jika abu masuk ke mata, anak tidak dianjurkan menguceknya karena dapat memperparah iritasi. Mata dapat segera dibilas menggunakan air bersih atau air mata buatan.
Sementara kulit yang terkena abu perlu segera dibersihkan dengan air mengalir, termasuk pada bagian lipatan kulit.
Ketujuh, kebersihan makanan dan air minum perlu dijaga. Wadah penyimpanan air serta makanan sebaiknya ditutup rapat agar tidak terpapar abu. Bahan makanan yang terkena abu juga perlu dicuci bersih sebelum diolah, termasuk bahan yang akan digunakan untuk makanan pendamping ASI (MPASI).
Kedelapan, orang tua perlu mengenali tanda bahaya pada anak. Leonirma mengingatkan anak perlu segera dibawa ke fasilitas kesehatan apabila mengalami napas cepat atau tampak kesulitan bernapas, terdapat tarikan pada dinding dada, bibir tampak kebiruan, atau bayi menolak menyusu maupun minum sama sekali.
Kesembilan, pastikan anak tetap mendapatkan cukup cairan. Anak yang mengalami batuk atau iritasi saluran pernapasan dapat menjadi lebih rewel dan mengalami penurunan asupan minum.
Karena itu, orang tua dianjurkan tetap menawarkan ASI atau minuman sesuai usia anak lebih sering selama periode paparan abu vulkanik.
Leonirma mengingatkan langkah-langkah tersebut penting dilakukan untuk mengurangi paparan abu dan menjaga kondisi anak selama aktivitas vulkanik masih berlangsung.

1 hour ago
1
















































