Jakarta, CNBC Indonesia - Ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tengah bergejolak seperti saat ini maka terbuka peluang untuk mencari saham bertema dividen lagi.
Waktu IHSG turun tajam, justru saham yang punya prospek dividen akan dinilai memberikan yield lebih tinggi, daripada menunggu saat cum date tiba yang sudah keburu naik tajam.
Momen seperti saat ini menjadi momen paling optimal untuk mengumpulkan saham-saham dividen, apalagi sebentar lagi banyak emiten mulai merilis laporan keuangan sepanjang 2025, sehingga kita bisa memperhitungkan kepastian dividen yang akan dibagikan pada tahun ini.
Setidaknya ada empat saham yang masuk radar kami masih akan memberikan dividen ciamik pada tahun ini:
BBNI
Pertama ada bank pelat merah, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang dinilai berpotensi membagi dividen ciamik. Bank ini juga satu-satunya yang masih akan bagi dividen full, dibanding big bank lain-nya yang sudah bagi dividen interim.
Meskipun tahun 2025 laba BBNI merosot, tetapi kami menilai cuan dividen yang dihasilkan masih berada di kisaran 7%-8%. Semakin rendah harga saham yang dimiliki investor, tentu berpengaruh terhadap yield yang dihasilkan bisa semakin tinggi.
Kami menghitung, dengan potensi EPS BBNI pada 2025 sebesar Rp540,35 dan asumsi dividen payout ratio (DPR) kisaran 65%-70%, dividen per lembar yang akan dihasilkan sekitar Rp350. Dari sini jika dibagi dengan harga saham per Jumat lalu (30/1/2026) di Rp4.490 per lembar akan menghasilkan yield sekitar 7,79%.
BMRI
Kedua, masih dari bank pelat emas yaitu PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), meskipun sudah membagikan dividen interim pada awal tahun ini, dividen final BMRI juga dinilai masih ciamik.
Proyeksi EPS sepanjang 2025 BMRI akan berada di kisaran Rp540, dengan asumsi payout ratio seperti tahun lalu di 78%, akan menghasilkan dividen per lembar sekitar Rp421,2.
Dari jumlah itu sudah dikurangi Rp100 dari dividen interim, sehingga yang tersisa bisa mencapai Rp321,2 per lembar, kalau nilai ini dibagi dengan harga saham BMRI di Rp4.820 per lembar, akan menghasilkan cuan sebanyak 6,66%.
ITMG
Emiten tambang batu bara, PT Indo Tambang Raya Megah Tbk (ITMG) juga menarik dari prospek dividen yang tidak pernah absen setiap tahun.
Konsistensi-nya terbukti meskipun di kondisi harga batu bara yang cenderung loyo, ini karena ITMG punya cash buffer solid, tercermin dari free cash float selama Twelve Trailing Month (TTM) mencapai Rp4,13 triliun.
Bukan tidak mungkin, jika dividen payout ratio bisa lebih dari 100% sebagai pemanis kepada investor karena cash-nya yang kuat, tetapi kami akan menghitung lebih konservatif supaya kita bisa mengatur ekspektasi.
Sebelumnya ITMG ini sudah membagikan dividen interim sebanyak Rp738 per lembar pada November 2025. Jadi, secara otomatis pada tahun ini, tinggal tersisa dividen final saja.
Jika berkaca pada tahun sebelumnya, dividen yang dibagikan mencapai Rp2.245 per lembar, ini belum termasuk interim. Kalau kita ekspektasi-nya lebih rendah sekitar Rp2000 per lembar, kemudian kita bandingkan harga saham ITMG di Rp21.950 per lembar, cuan yang didapatkan bisa mencapai 9,11%.
MPMX
Terakhir, ada saham emiten otomotif PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPMX) yang sudah lama terkenal sebagai saham dividen play.
Harga saham-nya sudah lama sideways, bahkan ketika IHSG trading halt saham-nya masih saja bergerak mendatar, meskipun sempat ada guncangan ringan, itupun hanya ke Rp950 per lembar, sementara harga terkini yang berakhir pada Jumat lalu, saham MPMX masih bertengger di Rp1000 per lembar.
Gerak saham yang sideways saat ini membuka ruang akumulasi bagi investor yang mengincar dividen. Selama dua tahun terakhir dividen yang dibagikan konsisten di Rp120 per lembar, dengan ekspektasi yang sama, jika dibagi dengan harga saham MPMX terkini, potensi yield masih bisa sampai 12%.
Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(saw/saw)














































