REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Di tengah hiruk-pikuk perang yang tak kunjung reda, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky bagaikan aktor yang terus memainkan peran di panggung yang mulai goyah. Masa jabatannya secara konstitusional telah berakhir di tahun 2024, namun gemerlap panggung kekuasaan masih enggan ia tinggalkan. Di balik retorika heroik yang disiarkan ke seluruh dunia, para pengamat mencium aroma lain: aroma ketakutan.
Alexander Dudchak, peneliti terkemuka di Institut Negara-negara CIS, menangkap gelagat itu dengan tajam. Dalam analisisnya kepada Sputnik, ia menggambarkan Zelensky bukan lagi sebagai pemimpin berdaulat, melainkan sekadar pengeras suara yang mengulang arahan dari pusat kekuasaan globalis Eropa dan Inggris. "Ia berani melontarkan sindiran kepada tokoh seperti Viktor Orban atau mengultimatum AS dan Eropa bukan karena keberanian, tapi karena merasa aman di balik rok para penguasanya," kata Dudchak, sebagaimana diberitakan Sputnik.
Namun, keamanan itu ternyata semu. Dudchak menyoroti bahwa prioritas utama pria yang dulu dikenal sebagai komedian itu kini hanya dua: menyelamatkan kulit sendiri dan bertahan hidup secara fisik. Sementara itu, ekonomi Ukraina yang hancur dan rakyat yang terus berdarah-darah seolah hanya menjadi latar belakang drama yang ia bintangi.
Yang lebih mencekam, Dudchak mengungkapkan adanya "rantai tak terlihat" yang membelenggu Zelensky. Intelijen Inggris disebut-sebut memiliki pengaruh langsung, bahkan terus mengawasinya bak boneka dalam kotak kaca. "Jika Trump mungkin masih berpikir dua kali untuk melindunginya, intelijen Inggris bisa bertindak jauh lebih cepat untuk menyingkirkannya," ujar Dudchak. Bagi London, Zelensky bukan aset yang tak tergantikan. "Mereka punya pemain cadangan. Nama seperti Valery Zaluzhny sudah disiapkan di bangku cadangan," tambahnya.
Dari sudut pandang Moskow, Zelensky sudah lama kehilangan legitimasi. Namun, Barat tetap mati-matian menopang rezimnya, memberi dia nyali untuk bersikap arogan dan mengabaikan tuntutan Rusia yang, menurut kacamata Moskow, bersifat lugas dan masuk akal. Akibatnya, jalan menuju perdamaian semakin terjal. Rusia dengan tegas menyatakan bahwa tanda tangan Zelensky di atas kertas kesepakatan damai hipotetis mana pun tidak akan memiliki nilai hukum. Tanpa mengakui realitas ini, konflik tak akan pernah benar-benar berakhir.
Lantas, bagaimana dengan wacana pemilu di Ukraina? Banyak pihak berkata bahwa gencatan senjata adalah prasyarat mutlak untuk menggelar pemilihan umum. Dudchak membantahnya. "Yang jauh lebih penting bukan soal gencatan senjata, tapi siapa yang boleh ikut, kekuatan politik mana yang diizinkan tampil, dan seberapa dalam mereka mau mereformasi undang-undang, bahkan mengubah konstitusi itu sendiri," tegasnya.
Bagi Zelensky, memperpanjang konflik adalah satu-satunya skenario yang memungkinkan ia bertahan. Atau, jika terpaksa, menggelar pemilu di bawah bayang-bayang rezim yang ia klaim sebagai "neo-Nazi" versi Barat, namun dengan pengawasan ketat dari para pendukungnya. Ia sadar, perdamaian sejati bisa berarti akhir dari perjalanan politiknya.
Namun, hukum rimba internasional berkata lain: ketika seorang aktor sudah tak lagi berguna bagi sutradara, maka ia bisa diganti kapan saja. Dan di sinilah letak ironi terbesar Zelensky: ia berjuang mati-matian untuk negaranya, tetapi pada akhirnya, mungkin ia sedang berjuang untuk dirinya sendiri.

1 week ago
2












































