Super El Nino Mengancam, Karhutla Riau Dipantau Ketat

9 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ancaman fenomena Super El Nino mulai membayangi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau. Aparat kepolisian bersama tim gabungan memperketat pemantauan dan percepatan pemadaman, khususnya di wilayah rawan seperti Bengkalis.

Kapolda Riau Herry Heryawan turun langsung meninjau lokasi karhutla di Desa Sekodi, Kabupaten Bengkalis, Jumat (3/4). Kunjungan ini dilakukan untuk memastikan proses pemadaman berjalan optimal di tengah meningkatnya risiko kebakaran memasuki musim kemarau.

“Kami memastikan upaya pemadaman dilakukan maksimal dan kolaboratif. Ini tidak bisa dikerjakan sendiri, harus melibatkan semua pihak,” ujar Herry dalam keterangannya.

Ia menegaskan, strategi utama saat ini adalah mempercepat deteksi dan pemutusan titik api sejak dini agar tidak meluas, terutama sebelum puncak kemarau tiba.

Menurutnya, penanganan dini jauh lebih efektif dibandingkan pemadaman dalam skala besar yang berisiko menimbulkan dampak lingkungan dan ekonomi lebih luas.

Selain pemadaman, Polda Riau juga memperkuat penegakan hukum. Sepanjang 2025, tercatat 74 kasus karhutla telah ditangani dengan jumlah tersangka yang sama.

“Tidak ada toleransi bagi pelaku pembakaran, baik disengaja maupun karena kelalaian,” tegasnya.

Sebagai langkah pencegahan, aparat bersama pemangku kepentingan telah memasang ratusan papan imbauan di wilayah rawan karhutla, termasuk larangan pemanfaatan lahan bekas terbakar.

Sementara itu, Guru Besar Institut Pertanian Bogor Bambang Hero Suharjo mengingatkan bahwa tahun ini berpotensi menghadapi Super El Nino, yang dapat memicu kekeringan ekstrem.

Ia menjelaskan, fenomena ini ditandai dengan kenaikan suhu permukaan laut hingga 2,7 derajat celsius di atas normal, yang berdampak pada perubahan pola cuaca global.

“Ini mirip kondisi kebakaran 1997–1998, saat lahan terbakar mencapai 10–11 juta hektare,” ujarnya.

Bambang juga menyoroti kondisi tinggi muka air di kanal yang telah melampaui ambang batas aman, sehingga meningkatkan risiko kebakaran di lahan gambut.

Menurutnya, langkah mitigasi harus dilakukan secara komprehensif, terutama melalui sistem peringatan dini dan penguatan upaya pencegahan.

Ia turut mengapresiasi pendekatan green policing yang dijalankan aparat, termasuk program penanaman pohon sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk menekan emisi akibat kebakaran.

“Secara ilmiah, penanaman pohon dapat membantu menekan emisi gas rumah kaca yang ditimbulkan karhutla,” jelasnya.

Ke depan, penanganan karhutla di Riau diharapkan tidak hanya berfokus pada pemadaman, tetapi juga mengedepankan pencegahan, penegakan hukum, serta pendekatan ekologis secara terintegrasi.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research