Jakarta, CNBC Indonesia - Produk industri Fast Moving Consumer Goods (FMCG) adalah produk yang dekat dengan keseharian konsumen, mulai dari makanan, minuman, hingga produk perawatan. Namun di balik ketersediaan produk tersebut, terdapat proses supply chain yang cukup kompleks dan menantang. Bukan tanpa alasan, mengingat Indonesia sendiri memiliki lebih dari 17.000 pulau sehingga menimbulkan kompleksitas dalam proses distribusi, transportasi, waktu tempuh, hingga dinamika kondisi cuaca.
Kondisi ini menjadikan peran supply chain sangat krusial dalam industri FMCG, sehingga bidang ini kerap dipersepsikan sebagai ranah yang didominasi laki‑laki karena lanskap pekerjaannya yang menuntut mobilitas tinggi serta operasional lapangan yang kompleks.
Kendati demikian, anggapan tersebut tidak menghalangi Elice Yunus untuk menapaki dan mengembangkan kariernya di bidang supply chain. Elice Yunus merupakan Head of Customer Operations Unilever Indonesia, di mana ia memegang peran penting dalam pengelolaan distribusi serta perencanaan logistik untuk kelancaran operasional dan ketersediaan produk Unilever di berbagai wilayah Indonesia.
Perempuan lulusan Teknik Industri Universitas Indonesia ini memulai kariernya di bidang supply chain melalui program Unilever Future Leaders Program (Program Management Trainee Unilever), dan pernah berkiprah pula untuk ditugaskan ke Unilever Singapura dan Thailand.
Selama lebih dari 16 tahun berkarier di dunia supply chain, perjalanan Elice tentu tidak selalu mudah. Salah satu pengalaman yang pernah ia ceritakan adalah ketika dirinya kerap disangka sebagai pegawai magang atau intern. Padahal, dalam banyak kesempatan tersebut, Elice telah memegang peran sebagai pemimpin tim yang mayoritas beranggotakan karyawan laki‑laki.
"Sering kali, saat berada di dalam satu ruangan kerja-di mana kadang perempuannya hanya saya sendiri-saya ditanya, 'Ini perempuan siapa ya? Apakah dia intern?' Saya juga kerap mendapat pertanyaan seperti, 'Kok bisa ya perempuan bekerja di bidang logistik, mengurus truk dan gudang, bahkan bekerja di pabrik?," kata Elice.
Namun, pengalaman tersebut tidak menyurutkan langkah Elice untuk terus berkembang dan berkiprah di bidang supply chain. Dalam momentum Hari Kartini, Elice memaknai perjalanan kariernya sebagai wujud nyata semangat dari Kartini itu sendiri-berani melangkah, mengambil peran kepemimpinan, dan menembus batas, sekalipun berada di bidang yang selama ini didominasi oleh laki‑laki.
"Hari Kartini bagi saya adalah tentang bagaimana seorang perempuan berani menemukan jati dirinya, salah satunya dengan mengambil peran sebagai pemimpin. Menurut saya, tidak terlalu penting apakah suatu bidang identik dengan laki‑laki atau perempuan, tetapi yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita bisa membuktikan bahwa kita mampu berkontribusi, menyampaikan ide, mengambil tanggung jawab, dan memberi dampak nyata lewat peran yang kita jalani," ungkap Elice.
Dalam pandangan Elice, salah satu faktor penting yang mendorongnya hingga berhasil ada di titik ini adalah dukungan dari perusahaan. Ia pun bersyukur Unilever Indonesia menjadi perusahaan yang menjunjung tinggi gender equity, di mana sebagai perempuan, ia senantiasa didukung untuk mengambil peran sebagai pemimpin, berkembang secara profesional, serta berkontribusi secara maksimal.
"Saya pernah berada di fase di mana harus membagi fokus dan waktu antara keluarga dan karier. Namun, berkat dukungan yang saya dapatkan dari perusahaan-mulai dari coaching, mentoring, hingga berbagai bentuk dukungan lainnya-saya bisa mengelola keduanya. Dari situ saya menyadari bahwa ini bukan tentang memilih salah satu, melainkan tentang bagaimana mengintegrasikan kehidupan profesional dan keluarga. Seiring berjalannya waktu, kita akan memahami kapan harus menempatkan prioritas yang tepat di setiap pilihan kita," terangnya.
Tidak hanya itu, Elice berpesan kepada seluruh perempuan di mana pun berada untuk tidak takut keluar dari zona nyaman, karena rasa takut itu sering kali hanya ada di dalam pikiran dan tidak selalu menjadi hambatan yang nyata.
"Kuncinya adalah percaya diri. Ketika ada kesempatan, ambil kesempatan itu tanpa rasa takut. Sebagai perempuan, kita harus selalu punya semangat untuk terus belajar, menambah pengetahuan, dan membuka diri terhadap hal‑hal baru," tutup Elice.
(dpu/dpu)
Addsource on Google















































