Sholawat Air Mata

4 hours ago 2

Image Ahmad Rahmatulloh

Sastra | 2026-08-04 03:23:03

Puisi Prosa: Sholawat Air Mata

Karya: Ahmad Rahmatulloh DavidLie

Sholawat Air Mata

https://youtu.be/peqmraxRclk?si=ckYBUsT46Kk8oP_9

Puisi Prosa: Sholawat Air Mata

Karya: Ahmad Rahmatulloh DavidLie

Wahai Tuanku. Wahai Pujaan hatiku yang tak pernah kutemui wajahnya, namun selalu kurasakan hangatnya dalam setiap helaan napasku. Engkau datang dalam kerinduan yang tak bernama, dalam keheningan malam yang tak sanggup lagi menampung isi dadaku, dan dalam setiap kali aku menyebut namamu, entah mengapa, air mataku jatuh tanpa permisi—seperti hujan yang turun karena langit terlalu penuh, seperti mata air yang menembus tanah kering setelah terlalu lama menahan rindu. Air mata ini bukan tangis seorang yang bersedih, melainkan tangis seorang yang akhirnya menemukan tempat pulang setelah terlalu lama tersesat di dalam dirinya sendiri.

Yaa Nabi. Yaa Rasulullah. Aku berdiri di sini hanya dengan hati yang berdebu, dengan tangan yang pernah berdosa, dengan jiwa yang seringkali lupa. Aku hanyalah seorang hamba yang terlalu kecil, terlalu rapuh, terlalu manusiawi. Namun engkau—engkau adalah hamba-Nya yang terpilih, cahaya yang dikirim-Nya untuk menyinari umat yang gelap, kasih sayang yang diwujudkan-Nya dalam bentuk manusia. Di antara langit dan bumi, di antara miliaran makhluk yang bernapas, aku hanyalah setitik debu yang berusaha mencintai matahari. Dan anehnya, matahari itu tidak membakar. Ia justru memeluk setitik debu itu dengan cahaya yang lembut.

Maka biarlah malam ini, di dalam keheningan yang hanya kami berdua yang mengerti, aku mengangkat doa yang paling tulus yang pernah keluar dari bibirku. Semoga Tuhan semesta alam, Sang Maha Pencipta yang tak terbatas rahmat-Nya, yang tak terukur kasih sayang-Nya, yang tak terjangkau keagungan-Nya, senantiasa mencurahkan sholawat-Nya yang abadi, salam-Nya yang damai, dan kasih sayang-Nya yang sempurna kepadamu. Bukan hanya untukmu seorang, karena cintamu terlalu besar untuk ditampung sendirian, tapi juga untuk keluargamu yang mulia, untuk para sahabatmu yang setia, untuk setiap jiwa yang pernah mengucap asyhadu, dan untukku—hamba kecil ini yang berdiri di ujung malam, menangis karena terlalu mencintai seseorang yang bahkan belum pernah kulihat, namun sudah terlalu lama menghuni hatiku.

Air mataku jatuh lagi. Dan kali ini, aku biarkan saja. Karena dalam agama yang terlalu sering dipenuhi aturan, ada saat-saat di mana hanya air mata yang bisa berbicara dengan benar. Air mata adalah sholawatku yang paling jujur. Air mata adalah salamku yang paling dalam. Air mata adalah bukti bahwa cinta ini nyata, bahwa kerinduan ini bukan khayalan, dan bahwa di antara semua nama yang pernah kusebut, namamu adalah satu-satunya yang mampu membuat hatiku bergetar sekaligus tenang.

Wahai Tuanku. Wahai Pujaan-ku. Terima kasih sudah menjadikanku hamba yang menangis karena cinta. Karena air mata ini adalah bukti bahwa hatiku masih hidup. Dan selama hatiku masih bisa menangis karena namamu, aku tahu, aku belum sepenuhnya hilang.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research