Jakarta, CNBC Indonesia - Publik kerap disuguhi informasi di internet risiko kanker prostat bisa diminimalisir ketika sering ejakulasi, khususnya bagi laki. Terutama karena kanker prostat menempati urutan kedua global sebagai jenis kanker paling banyak didiagnosis pada laki-laki, setelah kanker paru-paru, menurut Daniel Kelly, dosen senior bidang biochemistry di Sheffield Hallam University.
Dalam tulisannya ditayangkan The Conversation pada 15 April 2026 bertajuk "Benarkah sering ejakulasi bisa kurangi risiko kanker prostat? Jawabannya tidak sesederhana itu" dijelaskan kanker prostat merupakan kanker yang paling umum dialami laki-laki di Inggris. Sementara di Indonesia, Global Cancer Observatory (GLOBOCAN) pada 2022 memperkirakan kasus kanker prostat mencapai lebih dari 13 ribu.
Prostat itu sendiri adalah organ reproduksi yang tugas utamanya membantu menghasilkan air mani, yaitu cairan pembawa sperma ketika laki-laki ejakulasi. Maka, tak heran muncul anggapan risiko kanker itu bisa dikurangi ketika ejakulasi kerap terjadi.
Namun, para peneliti pun telah lama mempertanyakan pengaruh aktivitas seksual terhadap risiko kanker prostat. Terutama, bisakah sering ejakulasi melindungi laki-laki dari risiko kanker prostat?
Menariknya, ada beberapa bukti terbaru yang mendukung gagasan ini, menurut Daniel Kelly. Berikut ini ulasannya:
1. Peradangan berkurang
Dalam artikel berjudul Ejaculation Frequency and Prostate Cancer Risk: A Narrative Review of Current Evidence yang dipublikasikan di ScienceDirect menunjukkan 7 dari 11 studi yang relevan selama 33 tahun terakhir melaporkan efek ejakulasi terhadap penurunan risiko kanker prostat.
Meski mekanismenya belum dipahami sepenuhnya, hasil penelitian ini sesuai dengan gagasan bahwa sering ejakulasi dapat menurunkan konsentrasi racun maupun struktur kristal yang dapat menumpuk di prostat dan berpotensi memicu kanker prostat.
Selain itu, ejakulasi dapat mengubah respons imun di dalam prostat, mengurangi peradangan (faktor yang meningkatkan risiko perkembangan kanker), serta meningkatkan pertahanan imun terhadap sel tumor.
Dugaan lainnya, ejakulasi bisa mengurangi ketegangan psikologis dengan menurunkan aktivitas sistem saraf sehingga mencegah sel-sel prostat tertentu membelah terlalu cepat. Alhasil, kemungkinan sel berkembang menjadi kanker pun berkurang.
Meski begitu, dalam penelitian yang menyiratkan manfaat ejakulasi dalam mengurangi risiko kanker, faktor-faktor spesifik tampaknya juga sangat berpengaruh.
2. Faktor usia menentukan
Usia memainkan peran. Ada temuan yang menduga manfaat perlindungan hanya diperoleh ketika ejakulasi sering terjadi pada usia 20-29 tahun, lalu 30-39 tahun, ataupun di usia lanjut (50-an ke atas).
Sebaliknya, temuan lain mengungkap bahwa terlalu sering ejakulasi di usia muda (20-an) justru bisa meningkatkan risiko kanker prostat. Riset lain menduga bahwa ejakulasi pada masa remaja (ketika prostat masih berkembang dan matang) memiliki dampak terbesar bagi perkembangan risiko kanker prostat di dekade selanjutnya.
3. Efek ejakulasi 21 kali dalam sebulan
Sebuah studi dari Harvard University, Amerika Serikat (AS) bertajuk Ejaculation Frequency and Risk of Prostate Cancer: Updated Results with an Additional Decade of Follow-up menemukan bahwa laki-laki yang ejakulasi 21 kali atau lebih dalam sebulan punya risiko terkena kanker prostat 31% lebih rendah.
Hal ini jika dibandingkan dengan laki-laki yang berejakulasi empat hingga tujuh kali per bulan sepanjang hidup mereka.
Temuan serupa juga terungkap dalam penelitian di Australia bertajuk Sexual Factors and Prostate Cancer. Hasil penelitian menunjukkan kanker prostat 36% lebih kecil kemungkinannya dialami laki-laki sebelum usia 70 tahun yang sering ejakulasi rata-rata sekitar lima hingga tujuh kali seminggu. Hal ini jika dibandingkan dengan laki-laki yang berejakulasi kurang dari dua hingga tiga kali seminggu.
Dalam penelitian lain berjudul Ejaculation Frequency and Prostate Cancer: CAPLIFE Study, frekuensi ejakulasi lebih dari empat kali per bulan bisa memberikan efek perlindungan untuk beberapa kelompok usia dan pasien.
4. Efek testoteron
Terlepas dari berbagai temuan itu, Daniel Kelly menekankan, testosteron (hormon seks laki-laki) juga memainkan peran penting dalam proses ejakulasi dan hubungannya dengan kanker prostat.
Kadar testosteron tinggi justru tidak meningkatkan risiko. Sebaliknya, konsentrasi testosteron yang rendah justru meningkatkan risiko kanker.
Kondisi ini terutama berlaku untuk laki-laki yang sudah didiagnosis punya kanker prostat. Kadar testosteron rendah justru membuat penyakit mereka jauh lebih buruk dan sulit disembuhkan.
Kesimpulannya, kadar testosteron tinggi diduga bisa mengurangi risiko kanker prostat pada laki-laki, sekaligus mendorong motivasi seks mereka.
Sayangnya, sebagian besar penelitian soal efek ejakulasi terhadap kanker prostat tidak mengukur kadar testosteron. Paling banter hanya mengakui testosteron sebagai faktor yang mungkin memengaruhi.
5. Belum ada kesimpulan pasti
Sayangnya, dari hasil berbagai penelitian, Daniel Kelly mengatakan, belum ada kesimpulan pasti yang menunjukkan tingkat keseringan ejakulasi bisa mengurangi risiko kanker prostat.
Sejumlah faktor, seperti perbedaan populasi laki-laki yang diteliti, jumlah peserta yang dianalisis, hingga perbedaan cara mengukur tingkat keseringan maupun cara ejakulasi (seperti lewat hubungan seksual, masturbasi, atau mimpi basah) dapat mengaburkan gambaran tersebut.
Misalnya, pengukuran tingkat keseringan ejakulasi bergantung pada laporan pribadi peserta dan sering kali berasal dari ingatan bertahun-tahun lalu. Jadi, data yang ada merupakan hasil perkiraan terbaik dan dapat dipengaruhi oleh sikap (baik pribadi maupun sosial) terhadap aktivitas seksual dan masturbasi-yang berpotensi menyebabkan pelaporan berlebihan maupun kurang.
Mungkin juga ada bias dalam deteksi tumor prostat. Misalnya, laki-laki yang sangat aktif secara seksual menunda atau tidak pergi ke rumah sakit karena takut pengobatan kanker akan menghentikan aktivitas seksual mereka.
Dengan kata lain, laki-laki yang sering ejakulasi mungkin saja sebenarnya terkena kanker prostat, tapi tidak dilaporkan dalam penelitian.
Ada kemungkinan juga bukan ejakulasi yang melindungi laki-laki dari kanker prostat, melainkan faktor lainnya. Misalnya, laki-laki yang lebih sering berejakulasi memiliki gaya hidup lebih sehat sehingga menurunkan risiko mereka terkena kanker.
(dce)
Addsource on Google














































