REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Provinsi Jawa Tengah (Jateng), Ema Rachmawati, mengungkapkan, jumlah anak yang menjadi korban kekerasan di Jateng meningkat. Sebagian besar dari mereka adalah korban kekerasan seksual, termasuk melalui ruang digital.
Berdasarkan data DP3AP2KB Jateng, hingga November 2025, mereka mencatatkan 1.558 kasus kekerasan terhadap anak, dengan jumlah korban mencapai 1.410. Sementara jumlah anak yang menjadi korban kekerasan pada 2024 sebanyak 1.349 dengan kasus kekerasan seksual 101.
"Ini masih menjadi catatan kita, isu perlindungan perempuan dan anak, terutama di isu kekerasan, itu memang masih meningkat," kata Ema Rachmawati ketika diwawancara di Kantor DPRD Jateng, Kota Semarang, Selasa (6/12/2025).
Ema menambahkan, kasus kekerasan pada anak di Jateng pada 2025 didominasi kasus kekerasan seksual. Berdasarkan data hingga November 2025, jumlah anak korban kekerasan seksual di Jateng mencapai 817. Angka tersebut hampir menyamai total anak yang menjadi korban kekerasan seksual di Jateng pada 2024, yakni sebanyak 759.
"Isu kekerasan itu memang masih meningkat, dari 2024 ke 2025, untuk (korban) anak saja, mencapai 1.400-an lebih, dan itu paling banyak adalah kasus kekerasan seksual," kata Ema.
Menurut Ema, masih tingginya kasus dan korban kekerasan, menandakan bahwa anak-anak, di Jateng khususnya, belum dalam kondisi aman. Terkait kekerasan seksual, Ema menyebut, saat ini kasus tersebut tak hanya terjadi ruang fisik, tapi juga digital. "Sekarang yang trennya naik adalah elektronik," ujarnya.
Dia mencontohkan kasus kekerasan seksual berbasis digital yang cukup banyak ditemui DP3AP2KB Jateng adalah ancaman penyebaran konten vulgar atau revenge porn. "Mungkin dia tadinya pacaran, terus disuruh buka-buka, (kemudian) digunakan untuk mengancam dan sebagainya. Itu sudah mulai banyak," ujar Ema.
Menurut dia, tren kasus tersebut melonjak cukup cepat. "Namanya sekarang kekerasan gender berbasis online," katanya. (Kamran Dikarma)

1 month ago
16












































