
Oleh: Entang Sastraatmadja, Anggota Dewan Pakar DPN HKTI
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto bersama Kabinet Merah Putih, memang beda dibandingkan pemerintahan sebelumnya.
Walau baru menjalankan pemerinrahan sekitar 17 bulan, namun banyak hasil yang pantas dicatat dalam sejarah perjalanan bangsa. Salah satunya, terkait capaian stok beras nasional yang sangat tinggi, sejak Indonesia merdeka.
Per Maret 2026, pemerintah melalui Menko Bidang Pangan, Bung Zulhas (Zulkifli Hasan) menyatakan, stok beras nasional mencapai 3,9 juta ton. Ini jelas prestasi yang cukup membanggakan.
Tingginya stok ini karena melejitnya produksi beras yang sangat tinggi sehingga mampu menggapai swasembada sejak 31 Desember 2025. Namun, sekalipun stok beras sangat tinggi, ternyata harga beras di pasaran terekan masih sangat tinggi.
Pertanyaannya, mengapa hal ini bisa terjadi? Ada apa sebetulnya di balik tingginya cadangan beras secara nasional ini? Bukankah seharusnya, bila stok melimpah maka harga beras akan turun ? Jawaban inilah yang kita butuhkan.
Betul, yang terjadi sekarang, stok beras nasional sebenarnya surplus, tapi harga tetap tinggi karena beberapa faktor. Pertama, distribusi yang tidak lancar dan stok ritel yang sempat kosong.
Kedua, tata kelola perberasan yang tidak optimal, termasuk masalah pengadaan gabah, penyimpanan stok, dan penyaluran cadangan beras pemerintah. Patut dicermati pula berbagai faktor struktural dan dinamika perilaku pasar yang memengaruhi harga beras.
Misalnya, terkait kapasitas giling penggilingan padi yang lebih besar daripada produksi padi nasional sehingga banyak penggilingan kecil yang tidak beroperasi secara optimal.
Dihadapkan pada berbagai kendala yang ada, pemerintah telah menempuh beberapa langkah untuk menstabilkan harga, seperti operasi pasar besar-besaran dan evaluasi distribusi. Namun, masih diperlukan upaya lebih lanjut untuk meningkatkan efisiensi distribusi dan mengurangi biaya pengelolaan.
Atas gambaran demikian, yang jadi masalah pokoknya adalah terjadinya ketidakseimbangan produksi dan konsumsi beras, yang bisa menyebabkan penurunan harga jual beras bagi petani dan peningkatan harga bagi konsumen. Ini juga bisa berdampak pada ketahanan pangan nasional.
Di sisi lain, penting dipahami faktor-faktor yang mempengaruhi stok beras antara lain produksi beras yang tidak stabil karena faktor cuaca, hama, dan penyakit. Selanjutnya, konsumsi beras yang terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk.
Kemudian, distribusi beras yang tidak efisien, menyebabkan kesenjangan antara daerah surplus dan defisit. Lalu, impor beras yang tak terkendali, bisa memengaruhi harga beras lokal. Dan penyimpanan beras yang tidak memadai, menyebabkan kerugian pascapanen.
Solusi untuk mengatasi stok beras yang tinggi antara lain peningkatan konsumsi. Promosi diversifikasi pangan agar konsumsi beras menurun. Kemudian, ekspor beras. Cari pasar ekspor untuk mengurangi stok.
Selain itu, penyimpanan yang baik. Perbaiki infrastruktur penyimpanan untuk mengurangi kerugian pascapanen. Dan juga dukungan petani. Berikan insentif dan bantuan teknologi kepada petani untuk meningkatkan kualitas dan efisiensi produksi.
Namun, boleh jadi yang paling penting adalah "manajemen stok beras yang transparan dan efektif" oleh pemerintah. Manajemen stok beras yang efektif dan efisien bisa dilakukan dengan beberapa cara.
Pertama, sistem informasi yang akurat. Kumpulkan data produksi, konsumsi, dan stok beras secara real-time. Kedua, perencanaan yang matang. Tentukan target produksi, konsumsi, dan stok beras nasional. Ketiga, koordinasi yang baik. Libatkan semua stakeholder, termasuk petani, pedagang, dan pemerintah.
Keempat, infrastruktur yang memadai. Bangun gudang penyimpanan dan sistem distribusi yang efisien. Kelima, regulasi yang jelas. Tetapkan aturan yang jelas tentang impor, ekspor, dan harga beras. Hanya perlu dicermati, dalam manajemen stok beras, kunci utamanya adalah "transparansi dan akuntabilitas".
Dalam praktiknya, transparansi dan akuntabilitas bisa dilakukan dengan beberapa cara publikasi data. Sajikan data stok beras, produksi, dan konsumsi secara terbuka dan teratur.
Selanjutnya, laporan rutin. Buat laporan rutin tentang manajemen stok beras dan sampaikan ke publik. Kemudian, audit independen. Lakukan audit independen untuk memastikan keakuratan data dan efektivitas manajemen stok beras.
Lalu, partisipasi publik. Libatkan masyarakat dalam proses perencanaan dan pengawasan manajemen stok beras. Bahkan perlu sanksi yang tegas bagi mereka yang tidak mematuhi aturan dan prosedur.
Dengan cara-cara itu, masyarakat bisa memantau dan mengawasi manajemen stok beras, sehingga lebih transparan dan akuntabel.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

2 hours ago
2













































