Ratusan Ribu Warga Masih Mengungsi Pascabanjir dan Longsor di Sumatra

18 hours ago 2

Pengungsi menunggu air bersih di Desa Lubuk Sidup, Aceh Tamiang, Aceh, Ahad (28/12/2025). Hingga hari 32 pascabencana banjir bandang akibat luapan sungai Tamiang kebutuhan air bersih dan sanitasi masih menjadi persoalan mendesak bagi warga da? pengungsi di kabupaten Aceh Tamiang meski Pemerintah bersama berbagai lembaga swadaya masyarakat terus berupaya memenuhi kebutuhan tersebut.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 238.627 warga masih mengungsi pascabanjir dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Jumlah pengungsi itu tercatat bersamaan dengan pemutakhiran data korban jiwa serta perkembangan status kedaruratan di tiga provinsi terdampak.

BNPB juga menyampaikan jumlah korban meninggal dunia menjadi 1.182 jiwa setelah ada tambahan korban dari Aceh Utara, Langkat, dan Tapanuli Tengah dalam beberapa hari terakhir. Adapun jumlah korban hilang yang telah tervalidasi tercatat 145 jiwa, dengan proses pencarian masih berlangsung terbatas di wilayah tertentu.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan pengungsian masih terkonsentrasi di wilayah yang status tanggap daruratnya belum dicabut. “Per hari ini korban mengungsi masih 238.627 jiwa, dengan pencarian korban tetap berjalan di Aceh karena status tanggap darurat diperpanjang,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (9/1/2026).

Di Provinsi Aceh, status tanggap darurat diperpanjang hingga 22 Januari 2026 menyusul masih adanya empat kabupaten yang berada dalam fase darurat, yakni Aceh Tengah, Gayo Lues, Aceh Tamiang, dan Pidie Jaya. Empat wilayah itu menjadi fokus pemulihan akses jalan darat dan distribusi logistik ke titik masyarakat yang relatif jauh dari posko kabupaten.

Berbeda dengan Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat telah bergeser ke fase transisi darurat. Operasi pencarian korban di dua provinsi tersebut dihentikan, namun tim SAR tetap disiagakan untuk merespons laporan masyarakat jika muncul indikasi lokasi korban baru.

“Untuk Sumatera Utara dan Sumatera Barat proses pencarian sudah dihentikan, tapi tim SAR masih siaga dan siap bergerak jika ada informasi dari masyarakat,” kata Abdul.

Dari sisi infrastruktur, BNPB telah mengerahkan 1.780 unit alat berat di tiga provinsi untuk membuka akses jalan dan jembatan. Jalur Takengon–Gayo Lues yang sebelumnya terputus di empat titik longsor kini sudah dapat dilewati kendaraan roda empat secara terbatas. Jalur Pidie–Takengon ditargetkan pulih permanen pada 15 Januari, disusul penyelesaian Jembatan Titi Merah pada 30 Januari.

Menurut Abdul, BNPB juga menyiapkan pemasangan 270 unit jembatan bailey di tiga provinsi untuk menghubungkan jalan nasional hingga akses desa. Sejumlah jembatan darurat mulai dioperasikan, termasuk di Butong Ateuh serta beberapa titik di Bener Meriah dan Gayo Lues yang masih dalam proses pengerjaan.

Pemenuhan logistik tetap berjalan meski sebagian wilayah memasuki fase transisi darurat. Dalam penyaluran terakhir, BNPB mendistribusikan 19 ton logistik ke Aceh, 31,3 ton ke Sumatera Utara, dan 3,4 ton ke Sumatera Barat, dengan kombinasi jalur darat dan udara untuk menjangkau wilayah terpencil.

Pada sektor hunian, pemerintah mempercepat pembangunan 2.500 unit hunian sementara di tiga provinsi. Pada saat yang sama, penyaluran Dana Tunggu Hunian (DTH) sebesar Rp600 ribu per bulan per kepala keluarga terus dikebut, dengan 1.114 KK telah menerima dana dari 6.190 rekening yang siap dicairkan.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research