Pusat Energi Nuklir Dunia Bergeser ke Asia, Dipimpin China

11 hours ago 2

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia

03 March 2026 17:35

Jakarta, CNBC Indonesia- Pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir sedang bergerak cepat dan terkonsentrasi di satu kawasan.

World Nuclear Association per September 2025 mencatat 37 reaktor nuklir sedang dibangun di China, melampaui total gabungan proyek konstruksi reaktor nuklir di seluruh negara lain.

Secara kapasitas, 37 reaktor nuklir yang dibangun China setara 42,9 gigawatt (GW). Skala ini menciptakan jarak yang sangat lebar dibanding negara lain.

India dan Rusia berada di posisi berikutnya dengan masing-masing enam reaktor nuklir dalam tahap konstruksi. Kapasitas tambahan India mencapai 5,2 GW, sedangkan Rusia 4,2 GW. Mesir dan Turki menyusul dengan empat reaktor nuklir per negara. Korea Selatan membangun tiga unit.

Beberapa negara lain seperti Bangladesh, Jepang, Ukraina, dan Inggris memiliki dua proyek reaktor nuklir aktif. Selebihnya berada di kisaran satu unit.

Reaktor nuklir umumnya dirancang beroperasi sekitar 40 tahun pada lisensi awal. Perpanjangan usia operasional hingga 60-80 tahun dimungkinkan melalui modernisasi dan peningkatan sistem keselamatan. Namun tetap ada fase penghentian operasi pembangkit lama.

Kenaikan konsumsi listrik, elektrifikasi industri, dan kebutuhan daya stabil mendorong investasi baru pada energi nuklir. Reaktor nuklir berperan sebagai pembangkit baseload, menopang jaringan listrik ketika energi terbarukan berfluktuasi.

Dalam konteks ini, ekspansi nuklir China memperkuat ketahanan pasokan listrik domestik sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil.

Skala pembangunan reaktor nuklir China berpotensi menggeser pusat industri nuklir global ke Asia. Tambahan hampir 43 GW akan memperbesar porsi listrik rendah emisi dalam bauran energi negara tersebut selama beberapa dekade mendatang.

Sebaliknya, sejumlah negara dengan sejarah panjang dalam teknologi nuklir belum memiliki proyek baru yang berjalan. Amerika Serikat, Prancis, dan Kanada tercatat tanpa reaktor nuklir dalam tahap konstruksi per September 2025.

Ke depan, arah pengembangan energi nuklir akan sangat menentukan struktur pasokan listrik dunia, terutama dalam agenda dekarbonisasi dan stabilitas sistem energi jangka panjang.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research